Laporan: Budi Santoso

NGAWI | SUARAGLOBAL.COM — Aroma kopi hitam dan suara gelak tawa petani menjadi latar suasana Rapat Koordinasi antar ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) atau HIPPA aliran Sungai Kedung Urung–Urung, Sabtu (10/1/2026) malam, di warung angkringan Abah Syarif, Desa Glonggong, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen.

Rapat dimulai pukul 20.00 WIB dan berlangsung hangat namun serius. Hadir dalam pertemuan itu para ketua P3A dari lintas daerah, antara lain Wiwid dari P3A Desa Ketanggung, Zainuri dari P3A Desa Tambakboyo Mantingan Ngawi, serta Ketua P3A Desa Tunggul dan Desa Glonggong Kecamatan Gondang, Sadi. Para pengurus sub-blok dari masing-masing wilayah juga ikut mengitari meja kayu sederhana tempat rapat berlangsung.

Baca Juga:  Kasiren Korem 073/Makutarama Hadiri Upacara Penurunan Bendera HUT Ke-78 Kemerdekaan RI

Bahas Pembagian Air Sragen–Ngawi

Pertemuan tersebut membahas teknis pembagian air irigasi dari Sungai Kedung Urung–Urung atau Sungai Sawur, yang mengaliri areal sawah pertanian di dua kabupaten bertetangga: Sragen (Jawa Tengah) dan Ngawi (Jawa Timur).

Sadi selaku panitia rapat menegaskan bahwa pola pembagian air tidak boleh lagi dianulir seenaknya. Ia mengingatkan bahwa pintu air di Kedung Urung–Urung sudah memiliki aturan teknis yang harus dipatuhi bersama.

“Pembagian air harus sama antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jangan ada yang merusak gembok atau membendung aliran demi mengaliri sawahnya sendiri,” tegas Sadi sembari menyeruput kopi.

Baca Juga:  Rayakan HUT ke-77, Polwan Pacitan Bedah Rumah Warga Tulakan: Hadiah Nyata untuk Boiran

Antisipasi Musim Kemarau dan Tanam Ketiga

Persoalan semakin krusial saat memasuki musim kering dan musim tanam ketiga. Debit air yang turun dari hulu sangat riskan menyusut, sehingga potensi rebutan air antarpetani sering memanas.

Untuk itu P3A lintas wilayah sepakat bakal melakukan koordinasi dengan P3A Kabupaten Karanganyar sebagai daerah hulu, mengingat Sungai Kedung Urung–Urung bersumber dari Dam Srambang dan Sedayu di wilayah Karanganyar.

“Kalau debit kecil nanti, kita koordinasi supaya aliran jangan ditutup dari hulu,” lanjut Sadi.

“Jangan Nyolong Banyu!”

Sekretaris P3A Sri Makmur Desa Ketanggung, Budi Gendut, mengangkat isu klasik yang setiap musim kemarau kembali muncul: aksi nyolong banyu oleh oknum petani maupun sub-blok.

Baca Juga:  Wali Kota Salatiga Robby Hernawan Pimpin Apel Perdana: Tegaskan Disiplin, Efisiensi, dan Semangat "BEDA" untuk Salatiga

“Kesepakatan bersama ini harus dijaga. Jangan sampai ada yang curang, istilahnya nyolong banyu. Irigasi sudah diatur dari dinas irigasi Ngawi dan Sragen,” ujar Budi.

Budi juga menyatakan akan mengirim surat resmi kepada dinas pengairan Kabupaten Sragen, Karanganyar, maupun Ngawi agar distribusi air dapat berjalan adil dan merata.

“Kalau pembagian tidak adil, rebutan air bisa jadi konflik,” pungkasnya.

Rapat berakhir tanpa ketegangan. Para petani pun pulang membawa harapan: sawah tetap hijau, panen tetap aman, dan air tetap mengalir — tanpa drama. (*)