Pemkab Semarang Beberkan Fakta Baru Pencemaran Kali Serang, Pengusaha Perikanan Diduga Akui Buang Sisa Olahan Lele ke Sungai

Laporan: Wahyu Widodo
KAB. SEMARANG | SUARAGLOBAL.COM – Misteri pencemaran Kali Serang di Dusun Gading, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang akhirnya mulai terkuak. Setelah beberapa hari warga dibuat resah dengan air sungai yang keruh, berbau menyengat, hingga dipenuhi ikan mati, Pemerintah Kabupaten Semarang mengungkap adanya dugaan pembuangan limbah dari usaha budidaya lele ke aliran sungai.
Fakta mengejutkan itu terungkap setelah warga bersama aparat melakukan penyusuran aliran sungai dan menemukan dugaan aktivitas pembuangan limbah dari salah satu usaha perikanan di wilayah tersebut.
Camat Tengaran, Sulistyorini, mengatakan laporan pertama diterima pada Minggu malam (18/5/2026). Menindaklanjuti laporan itu, pihak kecamatan langsung berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Semarang.
“Begitu mendapat informasi, malam itu kami langsung koordinasi dengan DLH. Besok paginya kami bersama Forkopimcam, pemerintah desa, dan DLH turun ke lokasi untuk mengambil sampel,” ujarnya, kepada suaraglobal.com, Rabu (20/5/2026).
Namun saat pengambilan sampel pertama dilakukan, kondisi air sungai disebut telah kembali normal sehingga hasil awal belum dapat memastikan sumber pencemaran yang menyebabkan ikan mati massal di Kali Serang.
Meski demikian, pemerintah tidak berhenti sampai di situ. Warga kemudian diberi edukasi agar melakukan pemantauan dan penyusuran sungai apabila limbah kembali muncul.
Langkah tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada Senin sore, warga bersama aparat kembali menemukan aliran sungai berubah keruh dan mengeluarkan bau menyengat. Penyusuran pun dilakukan hingga mengarah ke salah satu lokasi usaha budidaya lele.
“Warga bersama aparat menyusuri sungai sampai ditemukan indikasi ke salah satu usaha perikanan. Saat itu diduga memang sedang membuang limbah,” kata Sulistyorini.
Dari hasil penelusuran sementara, limbah diduga berasal dari kolam budidaya lele yang menggunakan campuran pakan dari sisa olahan industri makanan. Limbah tersebut disebut berupa sisa daging, darah, hingga limbah cucian rumah potong hewan (RPH).
“Ditemukan ada sisa daging dan darah cucian dari RPH. Itu membuat air menjadi sangat kotor,” jelasnya.
Kondisi itulah yang diduga memicu perubahan warna air sungai, menimbulkan bau busuk, dan menyebabkan kematian ikan di sepanjang aliran Kali Serang.
Temuan warga kemudian ditindaklanjuti pemerintah desa bersama aparat kepolisian. Kepala desa didampingi personel Polsek Tengaran mendatangi lokasi usaha yang diduga menjadi sumber pencemaran.
Menurut Sulistyorini, setelah dilakukan pembicaraan panjang disertai bukti video hasil penyusuran warga, pemilik usaha akhirnya diduga mengakui telah membuang limbah ke sungai.
“Setelah dilakukan pembicaraan panjang dan ada bukti video dari warga saat penyusuran, pelaku usaha akhirnya mengakui membuang limbah ke sungai,” ungkapnya.
DLH Kabupaten Semarang pun kembali turun ke lokasi pada Selasa siang untuk mengambil sampel air secara resmi melalui petugas laboratorium guna memastikan tingkat pencemaran.
“Hari ini petugas laboratorium DLH sudah mengambil sampel lagi. Nanti hasilnya akan diuji untuk mengetahui kandungan pencemaran dan penyebab ikan mati,” tambah Sulistyorini.
Tak hanya persoalan limbah, pemerintah juga menemukan usaha perikanan tersebut diduga belum mengantongi izin usaha serta belum memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Atas temuan itu, Pemkab Semarang memberikan sejumlah rekomendasi tegas kepada pemilik usaha. Mulai dari kewajiban mengurus izin usaha, membangun IPAL, hingga larangan keras membuang limbah ke sungai sebelum sistem pengolahan limbah memenuhi standar lingkungan.
“Pemilik usaha sudah berkomitmen tidak akan lagi membuang limbah ke sungai selama IPAL belum tersedia,” katanya.
Selama IPAL belum dibangun, limbah diwajibkan dibuang menggunakan jasa penyedot khusus dan tidak diperbolehkan dialirkan ke sungai maupun dibuat resapan di sekitar lokasi usaha.
Selain itu, pemilik usaha juga diminta bertanggung jawab atas dampak pencemaran yang menyebabkan banyak ikan mati di Kali Serang.
“Dari pihak usaha juga bersedia menyediakan bibit ikan sebagai pengganti ikan yang mati di sepanjang Kali Serang,” tegasnya.
Sebelumnya, warga Dusun Gading mengaku resah dengan kondisi Kali Serang yang berubah keruh dan mengeluarkan bau busuk selama dua hari terakhir. Bau menyengat bahkan disebut masuk hingga kawasan permukiman warga saat malam hari.
Rofii, salah seorang warga yang ikut melakukan penyusuran sungai, mengatakan bangkai ikan ditemukan hampir di sepanjang aliran Kali Serang.
“Sepanjang sungai banyak ikan mati. Yang paling banyak ikan dewa atau clenger,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya, Lutfi. Ia menyebut bau limbah paling terasa setelah waktu magrib.
“Airnya seperti badek dan baunya busuk sekali. Bahkan baunya sampai ke perumahan warga,” katanya.
Tak hanya menimbulkan bau menyengat, warga juga mengaku air sungai menyebabkan rasa gatal saat terkena kulit. Kondisi tersebut membuat masyarakat berharap pemerintah segera mengambil tindakan tegas agar pencemaran tidak kembali terulang. (*)








Tinggalkan Balasan