Laporan: Ninis Indrawati

BANGKALAN | SUARAGLOBAL.COM – Bupati Bangkalan Lukman Hakim menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk memperkuat program unggulan daerah, “Satu Desa Satu Sarjana”.

Kerja sama ini disampaikan saat kegiatan Safari Ramadan dan santunan yang digelar Pengurus Wilayah Ikatan Alumni ITS (PW IKA ITS) di Pendopo Agung Bangkalan, Jumat (28/2/2026).

Dalam kegiatan tersebut, 240 anak yatim dan warga kurang mampu menerima bantuan berupa uang tunai dan paket parsel.

Baca Juga:  Polisi Humanis di Jalan Raya, Polres Nganjuk Hadirkan Rasa Aman di Jam Padat

Bupati Lukman menyampaikan apresiasi atas kehadiran para alumni ITS yang berbagi di bulan suci Ramadan.

“Kami sangat berterima kasih atas kepedulian IKA ITS kepada masyarakat Bangkalan. Ke depan, kami berharap ITS dapat mendukung program Satu Desa Satu Sarjana agar kualitas sumber daya manusia di desa meningkat,” ujar Bupati Lukman Hakim.

Program ini menjadi strategi pemerintah daerah untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan tinggi.

Baca Juga:  Seorang Pria di Ungaran Ditemukan Sudah Tak Bernyawa, Ini Jelasnya 

Dengan dukungan perguruan tinggi seperti ITS, diharapkan lebih banyak putra-putri Bangkalan dapat menempuh pendidikan berkualitas dan kembali membangun desanya.

Ketua Harian PW IKA ITS, Dr. Yoke Candra, menegaskan bahwa Safari Ramadan bukan sekadar acara seremonial, melainkan wujud kepedulian alumni ITS terhadap masyarakat.

Dengan tema Merajut Kebersamaan, PW IKA ITS berbagi bantuan materi dan kontribusi pemikiran untuk kemajuan daerah.

Baca Juga:  Gotong Royong Warga Kedungsumur dalam Jihad Rawat Kali Sidoarjo: Langkah Bersama Menjaga Lingkungan dan Potensi Wisata

Sekretaris IKA ITS sekaligus Wakil Rektor II ITS, Dr. Maksus, menjelaskan bahwa Safari Ramadan merupakan program tahunan yang rutin digelar di berbagai daerah Jawa Timur. Tahun ini, kegiatan digelar untuk pertama kalinya di Bangkalan.

Bupati optimistis bahwa melalui kolaborasi antara ITS dan Pemerintah Kabupaten Bangkalan, cita-cita menghadirkan minimal satu sarjana di setiap desa dapat terwujud secara bertahap dan berkelanjutan. (*)