Laporan: Budi Santoso

NGAWI | SUARAGLOBAL.COM – Suasana di SMK PPS 2 Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, mendadak bikin geger. Tujuh siswa dilaporkan mengalami keluhan kesehatan berupa mual, muntah hingga pusing diduga setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (10/8/2026).

Kejadian tersebut langsung menjadi perhatian pihak sekolah. Pasalnya, keluhan kesehatan dialami sejumlah siswa diduga setelah mengonsumsi menu MBG yang terdiri atas ayam goreng mentega, tumis jamur, tahu goreng dan buah jeruk.

Meski demikian, hingga saat ini belum dapat dipastikan apakah keluhan yang dialami ketujuh siswa tersebut benar-benar disebabkan oleh makanan MBG. Sampel makanan pun tengah dipersiapkan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.

Informasi mengenai kejadian tersebut disampaikan pihak sekolah saat ditemui awak media di ruang kepala SMK PPS 2 Ngrambe, Selasa (11/8/2026).

Guru Kesiswaan SMK PPS 2 Ngrambe, Candra Darusman, bersama staf tata usaha Narwan, membenarkan adanya tujuh siswa yang mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan MBG.

Menurut keterangan pihak sekolah, setelah muncul gejala tersebut, pihaknya segera melaporkan kejadian kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan MBG.

Dari tujuh siswa yang mengalami keluhan, tiga siswa disebut tidak bersedia dibawa ke instalasi gawat darurat (UGD). Mereka kemudian mendapatkan perawatan dan pemantauan di ruang UKS sekolah.

Sementara empat siswa lainnya dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.

“Setelah adanya gejala tersebut, kami melaporkan kejadian kepada pihak SPPG bahwa ada tujuh siswa diduga keracunan usai menyantap MBG. Tiga siswa tidak mau dibawa ke UGD sehingga dirawat di UKS, sedangkan empat siswa dibawa ke Klinik Aisyiyah Pratama Tulakan,” jelas pihak sekolah.

Baca Juga:  Kapolres Salatiga Tancap Gas di Mlayu Bareng Apoteker, Rakerda IAI Jateng 2026 Berlangsung Semarak

Kondisi ketujuh siswa tersebut kemudian berangsur membaik. Tidak ada siswa yang harus menjalani rawat inap.

Bahkan, pada Selasa (11/8/2026), seluruh siswa yang sebelumnya mengalami keluhan kesehatan disebut telah kembali mengikuti aktivitas pembelajaran di sekolah.

Namun, persoalan belum berhenti di situ.

Pihak sekolah masih mempertanyakan langkah penanganan terhadap empat siswa yang dibawa ke fasilitas kesehatan di wilayah Sine.

Menurut pihak sekolah, fasilitas kesehatan di Kecamatan Ngrambe sebenarnya lebih dekat dengan lokasi SMK PPS 2 Ngrambe dibandingkan fasilitas kesehatan yang berada di wilayah Sine.

“Kenapa harus dibawa ke UGD Sine, sedangkan jarak tempuhnya sekitar 10 kilometer? UGD Puskesmas Ngrambe lebih dekat dari lokasi sekolah,” ungkap pihak sekolah.

Persoalan tersebut kemudian menjadi bagian dari evaluasi pihak sekolah setelah munculnya kejadian yang melibatkan tujuh siswa.

Sekolah berharap seluruh proses penanganan dilakukan secara terbuka dan menyeluruh, termasuk memastikan penyebab munculnya keluhan kesehatan para siswa.

Terlebih, program MBG menyangkut konsumsi makanan dalam jumlah banyak oleh peserta didik sehingga aspek keamanan pangan menjadi perhatian penting.

Atas kejadian tersebut, pihak sekolah menyampaikan permintaan agar pemberian MBG untuk sementara dihentikan sampai hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan diketahui.

Langkah itu dinilai penting untuk menghindari spekulasi sekaligus memastikan penyebab keluhan kesehatan yang dialami para siswa.

Sekolah juga berharap pemeriksaan tidak hanya dilakukan terhadap makanan yang tersisa, tetapi mencakup seluruh rantai penyediaan makanan.

Mulai dari proses pengolahan, bahan baku, kebersihan dapur, penyimpanan, pengemasan, distribusi hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh siswa.

Dengan begitu, apabila memang terdapat persoalan dalam rantai penyediaan makanan, titik masalah dapat segera ditemukan dan diperbaiki.

Baca Juga:  Ayunkan - Ayunkan Pedang di Jalan Bikin Resah Warga, Seorang Mahasiswa di Magelang Diamankan Warga dan Polisi

Sementara itu, pihak SPPG Yayasan Pusaka Sakti Jaya Semesta membenarkan adanya laporan mengenai sejumlah siswa SMK PPS 2 Ngrambe yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi MBG.

SPPG tersebut diketahui berada di Jalan Raya Ngrambe-Walikukun, Dusun Sanggrahan RT 01/RW 05, Desa Ngrambe, Kecamatan Ngrambe.

Kepala SPPG melalui Anisa dari bagian keuangan mengatakan pihaknya langsung mengambil tindakan setelah menerima laporan dari sekolah.

“Dari pihak SPPG langsung mengambil tindakan dan membawa empat siswa ke Klinik Swasta Aisyiyah Pratama Tulakan, Kecamatan Sine, karena penanganannya lebih cepat,” kata Anisa.

Penjelasan tersebut sekaligus menjawab pertanyaan mengenai alasan empat siswa dibawa ke fasilitas kesehatan di wilayah Sine.

Menurut Anisa, keputusan tersebut bukan karena mengabaikan fasilitas kesehatan yang berada di Kecamatan Ngrambe, melainkan berdasarkan pertimbangan kecepatan pelayanan.

“Kalau penanganan di puskesmas kan lama prosesnya, Pak, karena untuk umum. Kalau di swasta lebih cepat penanganannya,” ujarnya.

Kini perhatian tertuju pada hasil pemeriksaan laboratorium.

Anisa menyampaikan bahwa kepala SPPG sedang berada di Surabaya untuk melakukan uji laboratorium terhadap sisa makanan yang sebelumnya dikonsumsi para siswa.

Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat menjawab pertanyaan besar yang muncul setelah kejadian: apakah keluhan tujuh siswa benar-benar berkaitan dengan makanan MBG atau terdapat faktor lain?

Hasil laboratorium menjadi penting karena gejala mual, muntah dan pusing tidak secara otomatis dapat dijadikan bukti bahwa seseorang mengalami keracunan akibat makanan tertentu.

Karena itu, sampai hasil pemeriksaan medis dan laboratorium tersedia, kejadian tersebut masih disebut sebagai dugaan keracunan atau gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Kehati-hatian menjadi penting dalam kasus seperti ini.

Baca Juga:  Sampah Bukan Musibah, Tapi Berkah: Ratusan Siswa SMP IT Izzatul Islam Belajar Pengelolaan Sampah Langsung dari Pakar Lingkungan

Keluhan berupa mual, muntah, pusing maupun lemas memang dapat muncul pada gangguan akibat pangan yang tidak aman. Namun, penentuan penyebabnya tetap membutuhkan pemeriksaan medis dan penyelidikan terhadap sumber makanan yang dikonsumsi.

Apalagi dalam kasus yang melibatkan lebih dari satu orang setelah mengonsumsi pangan yang sama, diperlukan penelusuran untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara makanan dengan keluhan kesehatan yang muncul.

Kementerian Kesehatan melalui Permenkes Nomor 1 Tahun 2026 tentang Kejadian Luar Biasa, Wabah, dan Krisis Kesehatan juga menempatkan deteksi dini, surveilans, pengendalian faktor risiko serta kesiapsiagaan sebagai bagian penting dalam kewaspadaan terhadap potensi kejadian luar biasa.

Karena itu, kasus di SMK PPS 2 Ngrambe kini bukan sekadar persoalan tujuh siswa yang sempat mengalami mual, muntah dan pusing.

Lebih jauh, kejadian tersebut menjadi momentum untuk memastikan standar keamanan pangan dalam penyelenggaraan MBG benar-benar berjalan dari dapur hingga meja makan siswa.

Sampai berita ini diterbitkan, belum ada hasil laboratorium yang memastikan bahwa keluhan kesehatan ketujuh siswa tersebut disebabkan oleh makanan MBG.

Kondisi para siswa juga dilaporkan telah membaik dan kembali mengikuti kegiatan belajar pada Selasa (11/8/2026).

Namun, hasil pemeriksaan terhadap sampel makanan diharapkan segera memberikan titik terang.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya persoalan pada makanan, temuan tersebut dapat menjadi dasar evaluasi terhadap proses pengolahan dan distribusi MBG.

Sebaliknya, jika tidak ditemukan hubungan antara makanan dengan keluhan para siswa, maka penyebab lain dapat ditelusuri lebih lanjut.

Pihak sekolah dan SPPG diharapkan terus memantau kondisi para siswa serta berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan dan instansi terkait hingga seluruh proses pemeriksaan selesai. (*)