Gombloh Dikenang, Gagasan Digelorakan: S2I Dorong Pemkot Surabaya Wujudkan Jalan dan Gedung Gombloh

Laporan: Iswahyudi Artya
SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Nama Gombloh kembali menggema di Kota Pahlawan. Bukan lewat konser besar atau panggung megah, melainkan dari sebuah kegiatan sederhana namun sarat pesan di tepi Sungai Kalimas.
Solidaritas Seniman untuk Indonesia (S2I) menggelar kegiatan “Doa untuk Gombloh” di Warkop Pinggir Kali, tepi Sungai Kalimas, Surabaya, Minggu (16/8/2026) malam.
Kegiatan yang digelar bertepatan dengan malam peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 itu menjadi ruang bagi para seniman, budayawan, pegiat komunitas hingga aktivis untuk kembali mengenang sosok Gombloh.
Namun, acara tersebut tidak berhenti pada nostalgia.
Di tengah lantunan doa dan pembicaraan tentang warisan karya sang musisi, muncul satu desakan kuat: Pemerintah Kota Surabaya diharapkan segera merealisasikan penghormatan kepada Gombloh melalui penamaan jalan dan gedung di Kota Surabaya.
Gagasan itu menjadi salah satu perhatian utama dalam kegiatan S2I.
Bagi para seniman yang hadir, Gombloh bukan sekadar musisi yang pernah menghiasi panggung hiburan. Ia dinilai sebagai seniman rakyat yang mampu menyuarakan berbagai persoalan masyarakat melalui musik.
Karya-karyanya menyentuh isu sosial, nasionalisme, lingkungan, kehidupan rakyat hingga nilai kesetaraan.
Karena itu, penghormatan terhadap Gombloh dinilai tidak cukup hanya dengan mengenang karya-karyanya.
Ketua Memories of Gombloh (Mogers) Indonesia, Affandy Willy Yusuf, mengatakan perjuangan untuk memberikan penghargaan yang layak kepada Gombloh terus dilakukan bersama S2I.
Menurut Affandy, langkah tersebut bahkan telah mendapatkan pijakan akademis melalui kajian ilmiah mengenai ketokohan Gombloh.
Kajian tersebut disusun oleh Dewan Kebudayaan Surabaya dan kemudian diserahkan kepada Pemerintah Kota Surabaya untuk ditindaklanjuti.
“Saat ini, kajian ilmiah tentang Gombloh telah dibuat oleh Dewan Kebudayaan Surabaya dan telah diberikan pada Pemkot Surabaya,” ujar Affandy.
Kini, pihaknya berharap kajian tersebut tidak berhenti sebagai dokumen.
Affandy mendorong agar rekomendasi mengenai penghormatan terhadap Gombloh benar-benar diwujudkan dalam bentuk nyata, termasuk menjadikan nama Gombloh sebagai nama jalan dan gedung di Surabaya.
Menurutnya, pemberian nama tersebut dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat penghargaan terhadap jasa dan ketokohan Gombloh.
Lebih jauh, pengakuan terhadap sosok Gombloh diharapkan dapat berkembang hingga mendorong pengusulan dirinya sebagai pahlawan nasional.
Pembahasan mengenai Gombloh dalam kegiatan tersebut juga tidak hanya berkutat pada nasionalisme dan kehidupan sosial.
Affandy menyoroti perhatian Gombloh terhadap perempuan serta nilai kesetaraan yang tercermin dalam sejumlah karyanya.
Menurut dia, ada sejumlah lagu Gombloh yang mengangkat sosok perempuan dan justru dinyanyikan oleh vokalis perempuan.
Salah satunya adalah “Mawar Desa”, lagu yang ditulis Gombloh untuk Wiwiek Sugiharti, perempuan yang kemudian menjadi istrinya.
Lagu tersebut dibawakan oleh Ratih Sumarsono.
Selain itu, terdapat pula “Patukah Emakku”, lagu yang mengisahkan sosok Patukah, ibunda Gombloh yang sangat dicintainya. Lagu tersebut dinyanyikan oleh Soelih Estopangestie.
“Semua lagu itu dinyanyikan oleh perempuan,” kata Affandy.
Bagi S2I, hal tersebut menunjukkan bahwa sosok Gombloh memiliki perhatian yang luas terhadap kehidupan manusia dan lingkungan sosial di sekitarnya.
Penasihat S2I Esthi Susanti Hudiono menilai ketokohan Gombloh dapat menjadi pijakan sekaligus inspirasi bagi generasi seniman saat ini.
Gombloh, kata dia, merupakan gambaran seniman rakyat yang tidak berjarak dengan masyarakat.
Ia mampu membaur dan menciptakan karya berdasarkan realitas kehidupan di sekelilingnya.
“Apalagi mengingat jasa besar dan kontribusi Gombloh. Ia adalah seniman rakyat, Membaur. Bebas. Dan berkarya secara merdeka,” ujar Esthi.
Semangat tersebut dinilai penting untuk terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab, dunia seni tidak hanya berbicara tentang popularitas atau panggung pertunjukan. Lebih dari itu, karya seni juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan, kritik, harapan dan semangat perubahan.
Seniman Rokim Dakas juga menilai karya-karya Gombloh masih memiliki relevansi hingga saat ini.
Menurutnya, generasi seniman masa kini dapat mengambil inspirasi dari semangat Gombloh yang terus berkarya sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dari pembahasan mengenai Gombloh, gagasan kemudian melebar pada persoalan penghargaan terhadap para seniman secara umum.
Budayawan sekaligus penasihat S2I, Heri Lentho, mengusulkan Pemerintah Kota Surabaya menggelar “Malam Anugerah” bagi para seniman.
Menurut Heri, penghargaan kepada seniman seharusnya tidak berhenti pada pemberian piagam atau seremoni.
Ia mendorong Dewan Kebudayaan Surabaya merumuskan bentuk penghargaan yang benar-benar memberikan manfaat bagi seniman maupun para ahli warisnya.
Bentuk dukungan itu, antara lain, dapat berupa beasiswa, jaminan kesehatan maupun bantuan berkelanjutan lainnya.
“Jadi platform Malam Penghargaan itu menampilkan ketokohan seorang seniman. Ketokohan itu dapat menginspirasi generasi muda. Hal itu membuat mereka untuk terus berkarya dan berkreasi,” ujar Heri.
Gagasan tersebut menjadi pesan lain yang mengemuka dalam kegiatan “Doa untuk Gombloh”.
Para seniman berharap pemerintah tidak hanya hadir ketika seorang seniman sedang berada di puncak popularitas. Penghargaan juga diharapkan diberikan secara berkelanjutan sebagai bentuk apresiasi terhadap perjalanan panjang mereka dalam membangun kebudayaan.
Rangkaian “Doa untuk Gombloh” kemudian ditutup dengan prosesi pemotongan tumpeng oleh Ketua S2I Guruh Dimas Nugraha.
Pemotongan tumpeng tersebut sekaligus menjadi penanda peresmian komunitas S2I.
Guruh berharap S2I dapat menjadi wadah yang terus mengangkat nama para seniman lain yang telah memberikan kontribusi bagi Surabaya maupun Indonesia.
Ada pemandangan simbolis yang menarik dalam penutupan kegiatan tersebut.
Potongan tumpeng diberikan kepada Heri Lentho dan diletakkan di atas kertas minyak yang dibentuk menyerupai perahu.
Potongan tumpeng itu kemudian dilarungkan di tepi Sungai Kalimas.
Bukan sekadar prosesi penutup, pelarungan tersebut menjadi simbol harapan.
Harapan agar gagasan-gagasan yang lahir dari pertemuan para seniman tidak berhenti menjadi wacana.
Termasuk harapan agar nama Gombloh suatu hari benar-benar terpampang di salah satu sudut penting Kota Surabaya.
Jalan Gombloh dan Gedung Gombloh bukan lagi sekadar gagasan yang dibicarakan di antara para seniman, tetapi diharapkan menjadi bentuk penghormatan nyata terhadap sosok yang telah mengabadikan suara rakyat melalui musik.
Di tengah semangat kemerdekaan, para seniman ingin satu hal tetap hidup: semangat berkarya secara bebas, merdeka dan berpihak kepada masyarakat semangat yang mereka yakini melekat kuat dalam diri Gombloh. (*)












Tinggalkan Balasan