Laporan: Wahyu Widodo

SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM — Siapa bilang aktivitas di balik tembok rumah tahanan hanya berkutat pada rutinitas pembinaan? Di Rutan Kelas IIB Salatiga, tangan warga binaan justru mampu menghasilkan sesuatu yang bisa langsung dirasakan manfaatnya.

Buktinya, hasil budidaya terong yang ditanam dan dirawat warga binaan dipanen, kemudian dibagikan kepada keluarga warga binaan yang tengah datang menjalani kunjungan, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul 09.00 WIB tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana program pembinaan di lingkungan pemasyarakatan tidak berhenti pada aktivitas sehari-hari. Dari lahan yang dikelola, tumbuh tanaman pangan. Dari tanaman itu, muncul hasil panen. Dan dari hasil panen tersebut, manfaatnya kembali dirasakan oleh keluarga.

Terong yang dibagikan merupakan hasil budidaya warga binaan dalam rangka kegiatan pembinaan sekaligus mendukung program ketahanan pangan di lingkungan Rutan Salatiga.

Tak sekadar menghasilkan sayuran, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi warga binaan untuk belajar bertanggung jawab, bekerja secara produktif, sekaligus mengembangkan keterampilan bercocok tanam.

Menariknya, hasil jerih payah tersebut tidak hanya dinikmati oleh lingkungan Rutan. Hasil panen justru dibagikan kepada keluarga warga binaan yang sedang berkunjung.

Baca Juga:  Forkopimda Salatiga Turun Langsung ke Pospam–Posyan, Pastikan Nataru 2025–2026 Aman dan Humanis

Dengan begitu, aktivitas sederhana berupa menanam terong memiliki dampak yang lebih luas. Ada unsur pembelajaran, kemandirian, ketahanan pangan, sekaligus kepedulian sosial yang berjalan dalam satu kegiatan.

Kepala Rutan Kelas IIB Salatiga, Anda Tuning Supiluhu, A.Md., IP., S.H., M.H., mengatakan kegiatan bercocok tanam menjadi salah satu bentuk pembinaan yang terus didorong agar warga binaan tetap aktif dan produktif.

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat ganda. Selain menjadi bagian dari proses pembinaan, hasilnya juga dapat dimanfaatkan oleh lingkungan sekitar.

“Kami terus mendorong warga binaan untuk aktif dan produktif melalui berbagai kegiatan pembinaan. Hasil panen ini menjadi bukti bahwa pembinaan yang dilakukan dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan dapat dirasakan langsung oleh keluarga warga binaan,” ujar Anda Tuning.

Bagi Rutan Salatiga, keberhasilan panen bukan semata-mata soal berapa banyak terong yang berhasil dipetik. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi indikator bahwa warga binaan diberi ruang untuk mengasah keterampilan dan menghasilkan karya yang memiliki nilai manfaat.

Baca Juga:  Polsek Sidorejo Gagalkan Tawuran Antar Pelajar, 16 Siswa Diamankan untuk Pembinaan

Dari proses menanam, merawat hingga memanen, warga binaan dilatih untuk memahami bahwa sebuah hasil tidak datang secara instan. Ada proses yang harus dijalani dengan ketekunan dan tanggung jawab.

Nilai tersebut pula yang diharapkan dapat menjadi bekal ketika warga binaan nantinya kembali ke tengah masyarakat.

Program ketahanan pangan yang dijalankan Rutan Salatiga menjadi bagian dari upaya mendukung program Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam mendorong kemandirian serta produktivitas warga binaan.

Konsepnya sederhana, tetapi dampaknya bisa panjang. Warga binaan mendapatkan kegiatan positif, lingkungan rutan memperoleh hasil budidaya, sementara keluarga ikut merasakan manfaat melalui pembagian hasil panen.

Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembinaan dapat dikemas melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bercocok tanam misalnya, bukan hanya mengajarkan keterampilan teknis. Ada nilai disiplin, kesabaran, kerja sama, kepedulian terhadap lingkungan hingga kemandirian yang dapat dibangun melalui kegiatan tersebut.

Pembagian hasil panen kepada keluarga warga binaan juga menjadi bentuk kepedulian Rutan Salatiga dalam menjaga hubungan positif antara petugas, warga binaan dan keluarga.

Baca Juga:  Manuver Amfibi Multinasional: Prajurit Yonif 5 Marinir Pimpin Pendaratan di Super Garuda Shield 2024

Momen kunjungan yang biasanya menjadi kesempatan keluarga bertemu warga binaan pun mendapat warna berbeda. Keluarga tidak hanya datang untuk menjenguk, tetapi juga menerima hasil nyata dari aktivitas pembinaan yang dijalankan di dalam Rutan.

Terong pun akhirnya menjadi simbol kecil dari sebuah proses besar.

Bahwa pembinaan tidak hanya berbicara tentang aturan dan kedisiplinan, tetapi juga bagaimana warga binaan diberi kesempatan untuk belajar, berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Rutan Kelas IIB Salatiga berkomitmen untuk terus mengembangkan program ketahanan pangan secara berkelanjutan. Harapannya, kegiatan tersebut mampu membuat warga binaan semakin produktif, mandiri dan memiliki keterampilan yang dapat digunakan sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat.

Dari sebidang lahan, tumbuh terong. Dari tangan warga binaan, lahir hasil panen. Dan dari hasil panen itu, manfaatnya mengalir hingga ke keluarga.

Ketahanan pangan pun bukan lagi sekadar slogan. Di Rutan Salatiga, manfaatnya mulai terasa dari kebun hingga meja keluarga. (*)