Laporan: Bayu S

GROBOGAN | SUARAGLOBAL.COM — Bukan sekadar mengisi waktu luang. Dari lahan yang digarap dengan tangan sendiri, warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Purwodadi mulai menanam harapan baru.

Rabu (26/8/2026), benih bayam ditanam sebagai bagian dari kegiatan pembinaan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan. Aktivitas sederhana di bidang pertanian itu menjadi salah satu langkah Lapas Purwodadi dalam membangun keterampilan sekaligus menanamkan sikap disiplin dan tanggung jawab.

Kegiatan tersebut melibatkan warga binaan sejak tahap penyiapan lahan hingga proses penanaman benih bayam. Mereka tidak hanya diarahkan untuk melakukan pekerjaan secara teknis, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung mengenai proses bercocok tanam.

Bagi warga binaan, kegiatan semacam ini menjadi kesempatan untuk mempelajari keterampilan praktis yang dapat dikembangkan setelah mereka menyelesaikan masa pidana dan kembali ke tengah masyarakat.

Menanam bayam mungkin terlihat sebagai aktivitas sederhana. Namun, di lingkungan pemasyarakatan, kegiatan tersebut memiliki makna lebih luas.

Baca Juga:  Sinergi Skuad Sabhara: Polri Tegaskan Kesiapan Pengamanan Pilkada 2024 di Jatim

Setiap tahapan membutuhkan ketelitian, kedisiplinan dan tanggung jawab. Mulai dari mempersiapkan lahan, menanam benih hingga nantinya melakukan perawatan tanaman.

Karena itu, kegiatan pertanian menjadi salah satu sarana pembinaan yang diarahkan agar warga binaan terbiasa menjalani aktivitas produktif.

Lapas Kelas IIB Purwodadi terus mendorong agar waktu yang dimiliki warga binaan diisi dengan kegiatan positif. Alih-alih hanya menjadi rutinitas, aktivitas tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman yang berguna sebagai bekal kehidupan setelah mereka bebas.

Kepala Lapas Kelas IIB Purwodadi, Erik Murdiyanto, mengatakan kegiatan kerja di bidang pertanian merupakan bagian dari pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan.

Menurutnya, program tersebut tidak hanya berorientasi pada hasil tanaman, tetapi juga pada proses pembentukan keterampilan dan karakter warga binaan.

“Kami terus mendorong warga binaan untuk mengikuti berbagai kegiatan pembinaan yang produktif. Penanaman benih bayam ini tidak hanya bertujuan menghasilkan tanaman yang bermanfaat, tetapi juga memberikan keterampilan dan pengalaman yang dapat menjadi bekal bagi warga binaan ketika nantinya kembali ke masyarakat,” ujar Erik Murdiyanto.

Baca Juga:  Polres Blitar Buka Sidang Disiplin Dugaan Salah Tangkap, Kapolres Sampaikan Permohonan Maaf

Program pertanian di lingkungan Lapas Purwodadi juga menjadi bagian dari upaya membangun pembinaan kemandirian.

Keterampilan bercocok tanam diharapkan tidak berhenti ketika kegiatan di dalam lapas selesai. Pengalaman yang diperoleh dapat menjadi modal pengetahuan bagi warga binaan untuk melakukan kegiatan produktif secara mandiri ketika kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.

Terlebih, sektor pertanian memiliki ruang yang cukup luas untuk dikembangkan, termasuk melalui pemanfaatan lahan untuk tanaman sayuran.

Dalam konteks pembinaan pemasyarakatan, keterampilan praktis seperti bertani menjadi penting karena warga binaan tidak hanya membutuhkan pembinaan selama menjalani masa pidana, tetapi juga persiapan untuk menghadapi kehidupan setelahnya.

Dengan demikian, benih bayam yang ditanam bukan semata-mata tanaman yang nantinya dipanen. Di balik aktivitas tersebut terdapat proses pembelajaran mengenai kerja keras, ketekunan, kedisiplinan dan tanggung jawab.

Kegiatan penanaman bayam sekaligus memperkuat upaya Lapas Kelas IIB Purwodadi dalam mengembangkan kegiatan yang berkaitan dengan ketahanan pangan.

Baca Juga:  Kapolres Bondowoso Tekankan Pentingnya Nilai Patriotisme dalam Peringatan Hari Bhayangkara ke-78

Lahan yang dimanfaatkan untuk kegiatan produktif dapat menjadi media pembelajaran sekaligus menghasilkan tanaman yang bermanfaat.

Konsep tersebut membuat kegiatan pembinaan memiliki manfaat ganda. Warga binaan mendapatkan pengalaman dan keterampilan, sementara aktivitas pertanian turut mendukung pemanfaatan lahan secara produktif.

Ke depan, pengembangan kegiatan serupa diharapkan dapat terus dilakukan dengan berbagai jenis tanaman sehingga program pembinaan kemandirian semakin beragam.

Erik Murdiyanto menegaskan, Lapas Purwodadi berkomitmen untuk terus mengembangkan program pembinaan yang mampu meningkatkan keterampilan, kedisiplinan dan rasa tanggung jawab warga binaan.

Harapannya, proses pembinaan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi warga binaan sekaligus mendukung proses reintegrasi sosial setelah mereka menyelesaikan masa pidana.

Sebab, dari sebuah lahan sederhana dan benih yang ditanam hari ini, tersimpan pesan besar: masa depan tidak hanya ditunggu, tetapi juga perlu dipersiapkan sejak sekarang. (*)