Laporan: Wahyu Widodo

BOYOLALI | SUARAGLOBAL.COM – Upaya memutus mata rantai penularan Tuberkulosis (TBC) terus digencarkan hingga tingkat desa. Kali ini, Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, resmi melangkah sebagai salah satu garda terdepan melalui peluncuran Desa Siaga Tuberkulosis (TBC) atau De Siti, Senin (31/8/2026).

Launching yang digelar di Balai Desa Karanggeneng tersebut mendapat dukungan penuh dari Polres Boyolali. Kegiatan berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 10.30 WIB dan diikuti sekitar 40 peserta dari berbagai unsur.

Hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali Nugroho Wahyu S., S.I.P., M.M., Danramil 01 Boyolali Kota Kapten Inf Guntur Raharjo, Plh. Camat Boyolali Kota Ning Martuti, S.I.P., M.M., Kepala Puskesmas Boyolali 2 Saryanto, M.Kes., Kepala Desa Karanggeneng Suparji beserta perangkat desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa, hingga kader kesehatan.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa penanganan TBC tidak bisa dilakukan secara parsial. Penyakit yang penularannya berkaitan erat dengan kondisi lingkungan dan interaksi masyarakat itu membutuhkan kerja bersama, mulai dari pemerintah, aparat keamanan, tenaga kesehatan, pemerintah desa hingga masyarakat.

Kapolres Boyolali AKBP Indra Maulana Saputra menyampaikan dukungannya terhadap program Desa Siaga TBC melalui Kasat Binmas Polres Boyolali AKP Joni Aryanto, S.Tr.K., S.I.K.

Dalam sambutannya, AKP Joni memberikan apresiasi atas terbentuknya Desa Siaga TBC di Desa Karanggeneng. Menurutnya, keberadaan program tersebut menjadi bentuk kepedulian bersama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya TBC sekaligus mendorong langkah pencegahan sejak dini.

Baca Juga:  Sebanyak 95 Lulusan Serbaindo Resmi Dilepas, Jalan ke Jepang Dibuka Lewat Beasiswa dan Kontrak Kerja, Mimpi ke Negeri Sakura Makin Terbuka

Ia menegaskan, keberhasilan penanganan TBC tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan. Kesadaran masyarakat menjadi salah satu kunci penting dalam mencegah penularan.

“Polri bersama TNI, pemerintah desa, tenaga kesehatan dan kader dapat bersinergi dalam menyosialisasikan bahaya TBC, pentingnya pola hidup sehat, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta tidak membuang dahak sembarangan,” ujar AKP Joni.

Pesan tersebut menjadi penting karena pencegahan TBC membutuhkan perubahan perilaku dan kepedulian bersama. Edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan membuat masyarakat semakin memahami bagaimana mengenali risiko, mencegah penularan, serta mendorong warga yang mengalami gejala untuk segera mendapatkan pemeriksaan.

Lebih jauh, AKP Joni mengingatkan bahwa persoalan TBC tidak berhenti pada aspek kesehatan. Apabila tidak ditangani secara dini dan tepat, penyakit tersebut juga berpotensi memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi penderita maupun keluarga.

Karena itu, Polres Boyolali memandang upaya membangun masyarakat sehat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari terciptanya kehidupan sosial yang aman dan produktif.

“Polri, khususnya Polres Boyolali, tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga mendukung terciptanya masyarakat yang sehat dan produktif. Masyarakat yang sehat merupakan salah satu fondasi terciptanya situasi kamtibmas yang kondusif,” jelasnya.

Baca Juga:  Gebrakan Baru Pasar Sitalang: Perayaan 5 Tahun, Inovasi, dan Harapan Menuju Pasar Wisata Malam

Untuk memperkuat langkah tersebut, Polres Boyolali juga mendorong Bhabinkamtibmas agar aktif bersinergi dengan Babinsa serta kader kesehatan di tingkat desa.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat sekaligus mendukung upaya pelacakan dan pencegahan penularan TBC.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali Nugroho Wahyu S. menekankan pentingnya edukasi yang dilakukan secara masif dan berkelanjutan.

Masyarakat diharapkan tidak takut maupun ragu untuk memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada TBC. Deteksi dan pemeriksaan sejak dini menjadi bagian penting dalam upaya penanganan sekaligus pencegahan penularan lebih luas.

Desa Karanggeneng dipilih sebagai lokasi Desa Siaga TBC karena terdapat sejumlah kasus TBC di wilayah tersebut. Kondisi itu menjadi perhatian bersama sekaligus momentum untuk memperkuat sistem pencegahan dan penanganan berbasis masyarakat.

Program De Siti di Karanggeneng diharapkan tidak hanya berhenti sebagai kegiatan seremonial. Lebih dari itu, program tersebut diharapkan mampu menjadi pionir yang menghadirkan inovasi dan strategi penanganan TBC yang nantinya dapat diterapkan di wilayah lain.

Dengan pendekatan berbasis desa, masyarakat diharapkan memiliki peran lebih besar dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pencegahan penyakit sekaligus membantu tenaga kesehatan menemukan kasus secara lebih dini.

Launching Desa Siaga TBC di Karanggeneng berlangsung dengan sejumlah agenda. Kegiatan ditandai dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol dimulainya gerakan bersama tersebut.

Baca Juga:  Penipuan ASN dengan SK Palsu Terbongkar, DPRD Jatim Desak Penindakan Tegas

Agenda kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan, pembacaan serta penandatanganan komitmen bersama. Rangkaian kegiatan ditutup dengan foto bersama dan diskusi mengenai berbagai upaya pencegahan serta penanganan TBC.

Forum tersebut menjadi ruang koordinasi lintas sektor untuk memperkuat langkah konkret di lapangan. Sinergi antara aparat, pemerintah desa, tenaga kesehatan dan kader diharapkan dapat memastikan pesan-pesan kesehatan benar-benar sampai kepada masyarakat.

Polres Boyolali menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung kesehatan masyarakat.

Bagi kepolisian, keberadaan masyarakat yang sehat dan produktif memiliki kaitan erat dengan terciptanya keamanan dan ketertiban. Karena itu, dukungan terhadap program Desa Siaga TBC menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat dari tingkat paling bawah.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib dan lancar. Dengan diluncurkannya Desa Siaga TBC di Karanggeneng, semangat untuk memutus mata rantai penularan TBC diharapkan semakin kuat, dimulai dari desa dan bergerak bersama menuju masyarakat Boyolali yang lebih sehat.

Karanggeneng kini bukan sekadar menjadi lokasi peluncuran program, tetapi diharapkan menjadi contoh bahwa perang melawan TBC dapat dimulai dari kepedulian warga, kolaborasi lintas sektor, dan keberanian untuk melakukan deteksi sejak dini. (*)