Laporan: Rusmono

CILACAP | SUARAGLOBAL.COM – Baret bukan sekadar penutup kepala. Di balik penyematannya, ada disiplin, ketahanan, kekompakan, keberanian, sekaligus tanggung jawab besar yang harus siap dipikul.

Makna itulah yang hendak ditanamkan kepada 375 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) formasi Penjaga Tahanan di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jawa Tengah melalui kegiatan pembaretan di Nusakambangan, Selasa (1/9).

Nusakambangan menjadi arena pembentukan karakter bagi para calon insan Pemasyarakatan tersebut. Bukan sekadar seremoni, kegiatan dikemas melalui rangkaian tahapan yang menguji kesiapan fisik, mental, kedisiplinan, kekompakan hingga integritas peserta.

Sebelum memasuki medan kegiatan, seluruh peserta terlebih dahulu menjalani pemeriksaan administrasi dan kesehatan. Tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan setiap CPNS berada dalam kondisi siap mengikuti seluruh rangkaian pembaretan.

Setelah dinyatakan siap, perjalanan dimulai.

Para peserta bergerak melalui longmarch dari Lapangan Tenis Lapas Batu menuju Pantai Permisan. Perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan lokasi. Di sepanjang rute, peserta harus melewati empat pos yang telah disiapkan.

Di setiap pos, berbagai rintangan dan ujian menanti.

Baca Juga:  Mau Cari Furnitur Murah, Yuk..Jalan - Jalan Ke Desa Jombor

Langkah demi langkah menjadi bagian dari proses penggemblengan. Peserta dituntut mampu menjaga ketahanan fisik, disiplin dalam mengikuti arahan, membangun kekompakan, serta menunjukkan kemampuan bekerja sama dengan rekan satu tim.

Medan dan rintangan menjadi media pembelajaran bahwa tugas Pemasyarakatan tidak selalu berada dalam situasi yang mudah.

Seorang Petugas Pemasyarakatan dituntut memiliki kesiapan menghadapi berbagai kondisi, sekaligus mampu menjaga sikap profesional ketika menjalankan tugas.

Tak berhenti di sana, rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan tes urine. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan komitmen peserta sekaligus menegaskan pentingnya integritas sejak awal perjalanan mereka sebagai calon petugas Pemasyarakatan.

Setelah menempuh rangkaian perjalanan dan ujian, seluruh peserta akhirnya tiba di Pantai Permisan.

Di lokasi inilah suasana berubah menjadi lebih khidmat.

Prosesi pembaretan kemudian dilaksanakan. Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Jawa Tengah Mardi Santoso bersama Kalapas Batu Irfan secara simbolis menyematkan baret kepada perwakilan CPNS.

Penyematan baret tersebut menjadi titik penting dalam rangkaian kegiatan.

Baret yang melekat di kepala para peserta bukan sekadar atribut. Ada pesan tentang kehormatan profesi dan tanggung jawab yang menyertainya.

Baca Juga:  Diduga Akibat Korsleting di Bagian Mesin, Minibus Terbakar di Samping Hotel Grand Wahid Salatiga

Dalam sambutannya, Mardi Santoso menegaskan bahwa pembaretan memiliki makna lebih dalam daripada sekadar penyematan atribut pada seragam.

Baret merupakan simbol kehormatan, identitas, kedisiplinan, keberanian, sekaligus tanggung jawab seorang Petugas Pemasyarakatan.

“Setelah baret ini melekat di kepala Saudara, harus melekat pula nilai-nilai pengabdian dalam setiap sikap dan tindakan,” tegas Mardi.

Pesan tersebut menjadi penekanan bahwa perjalanan menjadi Petugas Pemasyarakatan tidak berhenti ketika prosesi pembaretan selesai.

Justru, penyematan baret menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

Setiap petugas nantinya akan berhadapan dengan berbagai tantangan dalam menjalankan tugas. Mulai dari menjaga keamanan dan ketertiban, memberikan pelayanan, hingga melaksanakan pembinaan terhadap warga binaan.

Seluruh tugas tersebut harus dijalankan dengan profesionalisme serta tetap berpegang pada hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Karena itu, Mardi juga mengingatkan para CPNS untuk tidak hanya menjaga kondisi fisik dan kemampuan dalam menjalankan tugas, tetapi juga menjaga integritas pribadi.

Baca Juga:  WBP Rutan Balikpapan Dapat Program Pembinaan

Baret dan seragam yang dikenakan, menurutnya, membawa nama besar institusi Pemasyarakatan.

“Jaga kehormatan baret, jaga kehormatan seragam, jaga integritas diri, dan jaga nama baik Pemasyarakatan,” pungkasnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi garis bawah dari seluruh rangkaian pembaretan.

Dari lapangan, menempuh longmarch, melewati empat pos, menghadapi berbagai rintangan, menjalani pemeriksaan hingga akhirnya berdiri di Pantai Permisan menerima penyematan baret, seluruh tahapan dirancang untuk memberikan pengalaman nyata tentang arti disiplin dan pengabdian.

Bagi 375 CPNS tersebut, Nusakambangan bukan sekadar lokasi kegiatan.

Medan yang mereka lewati menjadi bagian dari proses pembentukan karakter sebelum benar-benar memasuki dunia kerja sebagai insan Pemasyarakatan.

Baret telah disematkan. Tantangan pengabdian kini menanti.

Harapannya, pengalaman tersebut mampu menjadi bekal bagi para CPNS untuk tumbuh menjadi Petugas Pemasyarakatan yang disiplin, kompak, profesional, berintegritas, serta mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab.

Sebab pada akhirnya, baret bukan hanya simbol yang dikenakan di kepala. Nilai pengabdianlah yang harus terus hidup dalam setiap langkah dan tindakan. (*)