Kalimasada Kawedar Lima Bahasa, UIN Salatiga Tancap Gas Menuju World Class University

Laporan: Wahyu Widodo
SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Wayang bukan sekadar tontonan budaya. Di tangan mahasiswa Program Kelas Khusus Internasional (KKI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Salatiga, wayang justru menjelma menjadi panggung diplomasi budaya sekaligus etalase kemampuan bahasa internasional.
Hal itu terlihat dalam pagelaran Art and Language Exhibition (ALE) “Kalimasada Kawedar” yang digelar di Auditorium Student Centre Prof. Dr. Achmadi, Selasa (1/9/2026).
Yang membuat pagelaran kali ini berbeda adalah penggunaan lima bahasa sekaligus, yakni bahasa Jawa, Indonesia, Inggris, Arab, dan Filipina. Perpaduan bahasa tersebut menjadikan kisah pewayangan yang diangkat bukan hanya dekat dengan akar budaya Jawa, tetapi juga dapat dinikmati oleh mahasiswa dari berbagai latar belakang kebangsaan.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Salatiga, Prof. Dr. Miftahuddin, M.Ag., menilai pagelaran tersebut memiliki arti strategis bagi perjalanan UIN Salatiga menuju pengakuan sebagai World Class University.
Menurutnya, internasionalisasi perguruan tinggi tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan akademik, penelitian, maupun kerja sama dengan institusi luar negeri. Penguatan seni, budaya, bahasa, serta jejaring internasional juga menjadi bagian penting dalam membangun rekognisi global.
“Kami sangat mendukung kegiatan ini. Pagelaran seni dan konferensi internasional adalah salah satu hal yang diperhitungkan untuk meraih rekognisi global,” tegas Prof. Miftahuddin.
Ketika Wayang Berbicara Lima Bahasa
“Kalimasada Kawedar” mengangkat cerita tentang hilangnya pusaka pengayom kerajaan, yakni jimat Kalimasada.
Kisah tersebut kemudian dikemas dalam sebuah pertunjukan wayang dengan konsep lintas bahasa. Bahasa Jawa tetap menjadi salah satu ruh utama pertunjukan, sementara bahasa Indonesia, Inggris, Arab, dan Filipina hadir untuk memperluas jangkauan komunikasi.
Konsep tersebut sekaligus menjadi pembeda ALE tahun ini.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya pagelaran ALE lebih dikenal sebagai “Wayang 3 Bahasa” dengan penggunaan bahasa Jawa, Inggris, dan Arab, tahun ini konsep tersebut berkembang menjadi pertunjukan lima bahasa.
Sutradara “Kalimasada Kawedar”, Dewi Wulandari, M.Sn., mengatakan penggunaan lima bahasa merupakan inovasi yang membuat pagelaran tahun ini semakin istimewa.
“Tahun ini pagelaran Art and Language Exhibition lebih dikenal sebagai wayang 3 bahasa, yaitu Jawa, Inggris, Arab. Tapi tahun ini istimewa dengan menggunakan 5 bahasa. Jawa, Indonesia, Inggris, Arab, dan Filipina,” ujarnya.
Bukan sekadar menampilkan kemampuan berbahasa, konsep tersebut juga memperlihatkan bagaimana budaya tradisional Indonesia dapat dikemas secara kreatif agar dapat diterima oleh penonton internasional.
Mahasiswa Filipina Turut Memainkan Tokoh Penting
Keunikan lain terlihat dari keterlibatan mahasiswa asing dalam pementasan.
Para pemain merupakan mahasiswa semester 3 dan 5 Program KKI. Di antara mereka terdapat tiga mahasiswa asing asal Filipina yang turut mengambil peran dalam pertunjukan.
Mereka tidak sekadar menjadi penonton. Para mahasiswa tersebut ikut masuk ke dalam cerita dan memerankan sejumlah tokoh, mulai dari tokoh utama Puntadewa hingga prajurit.
Keterlibatan mahasiswa asing ini memperlihatkan bahwa proses internasionalisasi kampus dapat berjalan dua arah. Mahasiswa internasional tidak hanya datang untuk belajar di Indonesia, tetapi juga ikut terlibat dalam mengenal, memainkan, dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia.
Di sinilah panggung “Kalimasada Kawedar” memiliki makna lebih luas.
Wayang yang selama ini identik dengan masyarakat Jawa dipertemukan dengan mahasiswa dari berbagai negara melalui bahasa yang lebih beragam.
Bukan Sekadar Pentas, Tapi Misi Kenalkan Budaya Indonesia
Dewi Wulandari menjelaskan, tujuan utama ALE “Kalimasada Kawedar” adalah memperkenalkan budaya Indonesia kepada mahasiswa KKI, termasuk mahasiswa internasional yang menempuh pendidikan di UIN Salatiga.
Menurutnya, pengenalan budaya tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran di dalam kelas. Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman langsung agar dapat memahami sekaligus mengapresiasi budaya Indonesia.
“Semoga mahasiswa KKI bisa lebih mengenal budaya Indonesia dan menguasainya. Karena ketika mereka PPL dan KKN ke luar negeri, bisa turut mempromosikan budaya Indonesia,” ujarnya.
Harapannya, pengalaman tersebut tidak berhenti ketika pertunjukan selesai. Para mahasiswa KKI diharapkan mampu membawa pengetahuan mengenai budaya Indonesia ketika menjalani aktivitas akademik maupun pengabdian di luar negeri.
Dengan demikian, mahasiswa dapat berperan sebagai duta budaya Indonesia secara informal di berbagai negara.
Dewi juga berharap ALE dapat terus diselenggarakan setiap tahun sehingga menjadi salah satu agenda berkelanjutan yang mempertemukan pendidikan, bahasa, seni, dan budaya dalam satu panggung.
Pemkot Salatiga Beri Apresiasi
Pagelaran tersebut turut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Salatiga.
Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Salatiga, Drs. Nasiruddin, M.M., menilai “Kalimasada Kawedar” merupakan contoh nyata bagaimana pelestarian budaya dapat dilakukan dengan pendekatan yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, penggunaan lima bahasa membuat wayang tidak hanya menjadi pertunjukan bagi masyarakat lokal, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkenalkan budaya Jawa Tengah kepada masyarakat internasional.
“Kami dari Pemerintah Kota Salatiga sangat mendukung kegiatan seperti ini. Dengan mengemas wayang dalam 5 bahasa, mahasiswa UIN Salatiga telah ikut mempromosikan budaya Jawa Tengah ke kancah global,” ungkap Nasiruddin.
Ia berharap kemasan budaya dan bahasa yang ditampilkan dalam ALE “Kalimasada Kawedar” dapat menjadi jembatan bagi mahasiswa KKI untuk membawa budaya Indonesia ke tingkat yang lebih luas.
Mahasiswa, kata dia, memiliki posisi strategis karena mereka dapat menjadi penghubung antara kekayaan budaya lokal dengan masyarakat global.
Dihadiri Peserta dari 13 Negara
Pementasan “Kalimasada Kawedar” juga semakin terasa nuansa internasionalnya karena turut disaksikan sejumlah tokoh dan tamu undangan.
Di antaranya Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Ag., Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Salatiga Drs. Nasiruddin, M.M., serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Salatiga Henni Mulyani, SE., MAP., MA.
Selain itu, hadir pula mahasiswa asing dari 13 negara peserta ISCETAC.
Kehadiran mahasiswa internasional tersebut memberikan warna tersendiri. Panggung wayang yang berangkat dari kisah tradisional Jawa berubah menjadi ruang perjumpaan budaya antarnegara.
Bagi UIN Salatiga, momentum ini sekaligus menunjukkan bahwa kekayaan budaya lokal dapat menjadi bagian dari strategi internasionalisasi perguruan tinggi.
Budaya Lokal, Gagasan Global
Langkah UIN Salatiga mengemas wayang ke dalam lima bahasa menunjukkan bahwa upaya menuju kampus berkelas dunia tidak harus meninggalkan identitas lokal.
Justru sebaliknya, budaya lokal dapat menjadi kekuatan ketika dikemas dengan pendekatan yang mampu menjangkau masyarakat internasional.
“Kalimasada Kawedar” menjadi contoh bahwa bahasa, seni, pendidikan, dan internasionalisasi dapat berjalan beriringan.
Di atas panggung, mahasiswa tidak hanya memainkan karakter dalam cerita pewayangan. Mereka juga sedang belajar bagaimana membawa identitas budaya Indonesia ke ruang pergaulan global.
Dan dari panggung sederhana di Kota Salatiga itu, sebuah pesan besar digaungkan: untuk melangkah menuju dunia, sebuah perguruan tinggi tidak harus meninggalkan akar budayanya.
Justru dengan akar budaya yang kuat, langkah menuju World Class University bisa memiliki karakter dan identitas yang lebih jelas. (*)












Tinggalkan Balasan