Laporan: Ninis Indrawati

TULUNGAGUNG | SUARAGLOBAL.COM – Panggung final Ansor Cup XXI Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, akhirnya memiliki satu penguasa. Notorejo Putra tampil perkasa dan mengakhiri perlawanan Desa Jarakan dengan kemenangan telak 3-0 di Stadion Natadiwira, Desa Tawing, Kecamatan Gondang, Minggu (6/9/2026).

Tiga gol yang bersarang ke gawang Desa Jarakan menjadi penanda dominasi Notorejo Putra dalam pertandingan pamungkas tersebut. Sejak laga berlangsung, Notorejo Putra tampil penuh kepercayaan diri dan mampu memanfaatkan peluang yang mereka dapatkan.

Desa Jarakan bukan tanpa perlawanan. Tim tersebut berusaha mengejar ketertinggalan dan membangun serangan untuk memperkecil defisit gol. Namun, upaya tersebut belum mampu membongkar pertahanan Notorejo Putra.

Hingga pertandingan berakhir, keunggulan 3-0 tetap bertahan. Peluit panjang pun menjadi tanda pesta kemenangan bagi para pemain, official, serta pendukung Notorejo Putra.

Kemenangan itu sekaligus memastikan Notorejo Putra keluar sebagai juara pertama Ansor Cup XXI Kecamatan Gondang, sementara Desa Jarakan harus puas menempati posisi runner-up.

Suasana stadion pun semakin meriah. Masyarakat dari berbagai desa dan suporter kedua kesebelasan memadati Stadion Natadiwira. Dukungan dan sorakan terdengar sepanjang pertandingan, membuat partai final berlangsung semarak.

Ahmad Baharudin: Menang Kalah Itu Bagian dari Pertandingan

Partai final tersebut turut disaksikan langsung Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin. Di tengah euforia pertandingan, ia memberikan pesan penting kepada seluruh pihak yang terlibat dalam Ansor Cup XXI.

Baca Juga:  Kunjungan Penuh Empati, Erick Komala Ringankan Beban Warga Kurang Mampu di Penjaringansari

Menurutnya, persaingan di lapangan merupakan bagian dari olahraga. Namun, rivalitas tersebut tidak boleh berubah menjadi permusuhan.

Ahmad Baharudin meminta pemain, official, hingga suporter tetap menjunjung tinggi sportivitas, menjaga keamanan, serta ikut menciptakan suasana pertandingan yang tertib.

“Kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari pertandingan. Karena itu, seluruh peserta, official, dan suporter harus menjunjung tinggi sportivitas, menjaga keamanan, serta memelihara ketertiban,” kata Ahmad Baharudin.

Ia menegaskan, Ansor Cup seharusnya bukan sekadar panggung untuk memburu kemenangan. Lebih jauh, turnamen tersebut diharapkan mampu menjadi ruang perjumpaan masyarakat sekaligus mempererat hubungan antardesa.

Karena itu, rivalitas selama pertandingan diharapkan tetap berada dalam koridor olahraga.

Usai pertandingan, Ahmad Baharudin juga menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh pihak yang telah bekerja menyukseskan penyelenggaraan Ansor Cup XXI.

Menurutnya, turnamen sepak bola antardesa memiliki nilai positif karena dapat mempertemukan masyarakat dari berbagai wilayah melalui kegiatan olahraga.

Bukan Ajang Balas Dendam, Ansor Cup Jadi Ruang Pemuda

Pesan mengenai persaudaraan juga disampaikan Ketua GP Ansor Kecamatan Gondang, Mahamad Safi’i.

Ia menegaskan, Ansor Cup tidak semata-mata digelar untuk memperebutkan trofi dan hadiah. Ada misi lebih besar, yakni memberikan ruang kepada generasi muda untuk menyalurkan bakat sekaligus mengembangkan kemampuan di bidang sepak bola.

Baca Juga:  Polisi Peduli Ojol: Polresta Malang Kota Gelar Bhakti Kesehatan Gratis Sambut Hari Bhayangkara ke-79

Mahamad berharap semangat silaturahmi menjadi roh utama dalam setiap pelaksanaan Ansor Cup.

Jangan sampai rivalitas di lapangan justru terbawa keluar lapangan dan berkembang menjadi persoalan antarpemain maupun antarsuporter.

“Harapan kami, kegiatan seperti ini menjadi wadah silaturahmi, bukan menjadi ajang balas dendam ataupun perseteruan. Ini ajang silaturahmi agar pemuda-pemuda di Kecamatan Gondang bisa terwadahi di bidang sepak bola,” ujarnya.

Menurutnya, kompetisi semacam ini memberikan banyak manfaat bagi pemuda. Selain menjadi sarana mengasah kemampuan teknis, pertandingan juga dapat membentuk pengalaman, mental bertanding, serta memperluas jaringan persahabatan antarwilayah.

Dengan begitu, sepak bola tidak hanya berbicara mengenai siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Ada nilai kebersamaan yang diharapkan terus tumbuh setelah pertandingan selesai.

Trofi Jadi Kebanggaan Desa Notorejo

Keberhasilan Notorejo Putra merengkuh gelar juara mendapat sambutan positif dari Kepala Desa Notorejo, Mustakim.

Bagi masyarakat Desa Notorejo, kemenangan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Trofi Ansor Cup XXI menjadi buah dari perjuangan tim di sepanjang turnamen.

Namun, Mustakim berharap keberhasilan tersebut tidak berhenti pada pesta kemenangan.

Ia ingin gelar juara menjadi pemantik semangat generasi muda Desa Notorejo untuk semakin serius mengembangkan kemampuan di bidang sepak bola.

Baca Juga:  Hardiknas 2026: Ketua Fraksi PKS Jateng Tekankan Peran Pemuda Berilmu dalam Pembangunan

Pembinaan pemain usia muda juga dinilai penting agar prestasi yang diraih Notorejo Putra dapat berkelanjutan.

Keberhasilan di Ansor Cup XXI diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan sepak bola di tingkat desa sekaligus membuka peluang lahirnya pemain-pemain potensial.

Talenta-talenta tersebut nantinya diharapkan mampu membawa nama baik Desa Notorejo, bahkan Kecamatan Gondang, ke kompetisi yang lebih tinggi.

Bawa Pulang Trofi dan Hadiah Rp3,5 Juta

Sebagai juara pertama, Notorejo Putra berhak membawa pulang trofi Ansor Cup XXI sekaligus hadiah uang sebesar Rp3,5 juta.

Sementara itu, total hadiah yang diperebutkan dalam turnamen tersebut mencapai Rp10 juta.

Namun, bagi penyelenggara, keberhasilan turnamen tidak hanya diukur dari besarnya hadiah atau siapa yang mengangkat trofi.

Ada pesan persaudaraan yang ingin ditinggalkan setelah kompetisi berakhir.

Ansor Cup XXI menjadi bukti bahwa lapangan sepak bola dapat menjadi ruang bertemunya masyarakat dari berbagai desa. Persaingan boleh sengit selama pertandingan, tetapi setelah peluit panjang berbunyi, persaudaraan harus tetap menjadi pemenang.

Partai final di Stadion Natadiwira pun akhirnya ditutup dengan kemenangan Notorejo Putra.

Skor 3-0 mengantarkan Notorejo Putra ke puncak. Trofi berhasil dibawa pulang, tetapi pesan yang tak kalah penting ikut menggema: menanglah dengan sportif, kalah dengan terhormat, dan jangan biarkan rivalitas merusak persaudaraan. (*)