Laporan: Wahyu Widodo

SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Perjuangan panjang Tim Sepak Bola Popda Kota Salatiga di Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Tengah 2026 akhirnya berbuah manis. Tak hanya membawa pulang trofi juara, para pemain muda yang tampil impresif di ajang tingkat provinsi tersebut juga mendapat guyuran bonus dengan total mencapai Rp26,3 juta.

Bonus itu menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras para pemain yang berhasil mengharumkan nama Kota Salatiga di pentas olahraga pelajar Jawa Tengah.

Manager Tim Popda Salatiga, Coach Joko Prasetyo, SH, mengatakan bonus tersebut berasal dari sejumlah pihak yang memberikan dukungan terhadap perjuangan para pemain.

Dari total Rp26,3 juta tersebut, Joko memberikan Rp15 juta. Kemudian Rp5 juta berasal dari Sis, Rp3 juta dari Danang Dispora, Rp2 juta dari Ibu Bintang STC, Rp1 juta dari Hartoko Budiono, serta Rp300 ribu dari Yani UKSW.

“Anak-anak menerima bonus total Rp26.300.000. Ini bentuk apresiasi atas perjuangan mereka yang sudah membawa nama baik Kota Salatiga di tingkat Jawa Tengah,” kata Joko.

Bagi Joko, bonus tersebut bukan semata-mata soal nominal. Ada pesan penghargaan di balik uang yang diterima para pemain. Sebab, skuad muda Salatiga telah melewati rangkaian pertandingan penuh tekanan sebelum akhirnya berdiri sebagai kampiun.

Perjalanan Tak Semulus Jalan Tol

Baca Juga:  Mengungkap Rahasia Klinik Hoaks: Diskominfo Jatim Berbagi Ilmu dengan Diskominfo Sumbar

Jalan menuju podium juara memang tidak mudah. Sejak fase grup, pemain Salatiga sudah dituntut tampil konsisten dan menjaga mental bertanding.

Di babak penyisihan Grup B, Salatiga langsung menunjukkan taringnya. Mereka sukses menundukkan Kabupaten Pekalongan dengan skor 4-2.

Kemenangan tersebut menjadi modal penting untuk melangkah ke pertandingan berikutnya. Salatiga kembali meraih hasil positif setelah mengalahkan Kabupaten Kudus dengan skor tipis 1-0.

Dua kemenangan itu mengantarkan Salatiga melaju ke fase gugur dengan kepercayaan diri tinggi.

Memasuki perempat final, tantangan semakin berat. Salatiga berhadapan dengan Popda Wonosobo.

Namun, tekanan tersebut berhasil dijawab dengan permainan efektif. Salatiga mengamankan tiket semifinal setelah menang dengan skor 2-0.

Drama sesungguhnya pecah di semifinal.

Menghadapi Kota Semarang, pertandingan berlangsung ketat dan sengit. Kedua tim sama-sama ngotot memburu tiket menuju partai puncak.

Waktu normal berakhir tanpa pemenang sehingga pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti.

Di titik inilah mental para pemain diuji habis-habisan.

Salatiga tampil lebih tenang dalam drama tos-tosan tersebut. Mereka akhirnya mengunci kemenangan 5-3 melalui adu penalti dan memastikan tempat di final.

Final Jadi Panggung Pembuktian

Partai puncak mempertemukan Salatiga dengan Kabupaten Wonogiri.

Setelah melewati fase grup, perempat final, hingga drama semifinal, Salatiga kembali dituntut menunjukkan mental juara.

Pertandingan final berlangsung ketat. Namun, satu gol menjadi pembeda.

Baca Juga:  Duka Poso Pascagempa M5,8: Dua Warga Tewas, Puluhan Rumah Rata dengan Tanah, BNPB Salurkan Bantuan Darurat

Salatiga berhasil mencetak gol tunggal yang kemudian bertahan hingga laga berakhir. Skor 1-0 memastikan kemenangan sekaligus mengantarkan Tim Sepak Bola Popda Kota Salatiga menjadi juara Popda Jawa Tengah 2026.

Trofi pun akhirnya menjadi milik Salatiga.

Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena skuad yang dibawa bukan sekadar kumpulan pemain dari berbagai daerah. Menurut Joko, tim tersebut merupakan hasil pembinaan pemain lokal Salatiga.

100 Persen Produk Anak Salatiga

Joko mengungkapkan kebanggaannya terhadap komposisi skuad yang berhasil menjadi juara tingkat provinsi tersebut.

“Baru kali ini saya benar-benar bangga dengan tim sepak bola Salatiga yang mampu menjadi juara tingkat provinsi. Ini produk asli 100 persen anak Salatiga, hasil binaan duet pelatih Coach Wahyu Buto dan WW,” ungkapnya.

Bagi pembinaan sepak bola daerah, capaian tersebut menjadi sinyal positif. Talenta lokal ternyata mampu bersaing ketika mendapatkan ruang, pembinaan, serta kesempatan bertanding yang memadai.

Namun, Joko mengingatkan agar euforia juara tidak membuat proses pembinaan berhenti.

Menurutnya, trofi Popda seharusnya menjadi pintu masuk menuju pembinaan yang lebih serius, bukan garis akhir perjalanan para pemain muda tersebut.

Ia berharap Pemerintah Kota Salatiga melalui pihak-pihak yang berkaitan dengan pembinaan olahraga, khususnya Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora), KONI Salatiga, serta Pengcab PSSI Kota Salatiga, dapat terus memberikan perhatian terhadap para pemain.

Baca Juga:  Diduga Karena Vertigo, Seorang Pemancing Tewas Tenggelam di Ujung Jembatan Biru Kawasan Wisata Sumurup

“Anak-anak akamsi (anak kampung sini) ini perlu dipersiapkan untuk menghadapi event berikutnya seperti Piala Soeratin dan Porprov,” ujarnya.

Jangan Sampai Habis Setelah Angkat Trofi

Pesan tersebut menjadi pekerjaan rumah penting setelah keberhasilan Salatiga meraih gelar juara.

Pasalnya, perjalanan seorang pemain muda tidak berhenti ketika medali dikalungkan atau trofi diangkat ke udara. Justru setelah menjadi juara, tantangan berikutnya dimulai.

Para pemain membutuhkan program pembinaan berkelanjutan, kompetisi yang rutin, serta jenjang yang jelas agar kemampuan mereka terus berkembang.

Skuad Popda Salatiga sendiri berada di bawah pembinaan Dispora Kota Salatiga.

Tim tersebut ditangani jajaran pelatih yang terdiri atas Wahyu Wijiastanto sebagai pelatih utama, Hary Darmawan dan Bambang Pinastiko sebagai asisten pelatih, serta Wahyu Purnomo sebagai pelatih kiper.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari proses panjang hingga akhirnya Salatiga mampu menembus persaingan sepak bola pelajar tingkat Jawa Tengah.

Kini, setelah bonus Rp26,3 juta dibagikan dan trofi juara berada di tangan, tantangannya tinggal satu: jangan biarkan generasi emas ini redup setelah pesta juara usai.

Sebab, jika pembinaan dilakukan secara konsisten, para pemain lokal yang hari ini menjadi juara Popda bukan tidak mungkin menjadi kekuatan Salatiga di ajang yang lebih besar pada masa mendatang. (*)