Kejar Generasi Emas 2045, Diskominfo Jatim Dorong Polinema Gaspol Gandeng Industri

Laporan: Ninis Indrawati
SURABAYA | SUARAFLOBAL.COM – Jangan tunggu tahun 2030 untuk berburu talenta unggul. Pesan itulah yang mengemuka ketika Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Timur mendorong Politeknik Negeri Malang (Polinema) memperkuat kolaborasi dengan dunia industri.
Bagi Pemprov Jatim, membangun sumber daya manusia (SDM) unggul bukan pekerjaan yang bisa dilakukan secara mendadak. Persiapannya harus dimulai sejak sekarang, terutama ketika perkembangan teknologi dan transformasi digital bergerak begitu cepat.
Sinergi kampus vokasi dengan dunia industri pun dinilai menjadi salah satu kunci. Mahasiswa tidak cukup hanya dijejali teori di ruang kuliah. Mereka juga harus mendapat pengalaman nyata, mengenal kebutuhan industri, serta memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja.
Dorongan tersebut disampaikan dalam kegiatan Temu Industri dan Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Kemitraan Strategis antara Politeknik Negeri Malang dan Dunia Industri, yang berlangsung di Kantor Diskominfo Jatim, Surabaya, Kamis (3/9/2026).
Kepala Bidang Data dan Statistik Diskominfo Jatim, Imam Fahamsyah, yang mewakili Kepala Diskominfo Jatim Sherlita Ratna Dewi Agustin, menegaskan pemerintah membuka ruang kerja sama seluas-luasnya bagi perguruan tinggi dan dunia industri.
Menurut Imam, kolaborasi tersebut harus dibangun sejak sekarang sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam menyiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan masa depan.
“Harapannya kita membuka ruang kerja sama seluas-luasnya, sehingga dari kerja sama ini tujuannya cuma satu, bagaimana Jawa Timur bisa jadi jauh lebih kompetitif di antara provinsi-provinsi lain,” kata Imam.
Jangan Tunggu 2030
Imam menekankan, cita-cita mewujudkan Generasi Emas 2045 tidak mungkin dicapai dengan persiapan yang serba mendadak.
Jika baru bergerak ketika mendekati 2045, menurut dia, persiapan tersebut jelas sudah terlambat. Karena itu, pembangunan SDM harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha dan dunia industri.
“Ketika kita punya mimpi 2045 ada Generasi Emas, maka itu tidak bisa dimulai pada tahun 2030, tetapi harus kita mulai dari sekarang,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Perubahan teknologi yang cepat membuat kebutuhan kompetensi tenaga kerja juga terus bergerak.
Pendidikan vokasi dituntut semakin adaptif. Kurikulum, metode pembelajaran, fasilitas praktik, hingga pengalaman mahasiswa harus terus diselaraskan dengan perkembangan dunia kerja.
Bukan hanya mahasiswa yang mendapatkan keuntungan. Dunia industri juga membutuhkan talenta yang sejak awal sudah memahami karakter pekerjaan dan memiliki keterampilan yang relevan.
Polinema Punya 15.000 Mahasiswa
Kolaborasi ini menjadi semakin strategis karena Polinema memiliki sekitar 15.000 mahasiswa aktif.
Dengan jumlah mahasiswa yang besar tersebut, penguatan jejaring dengan pemerintah, industri dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kebutuhan penting bagi kampus.
Direktur Polinema Supriatna Adhisuwignjo mengatakan perguruan tinggi vokasi memiliki tanggung jawab besar untuk melahirkan lulusan yang kompeten, berkualitas, sekaligus relevan dengan kebutuhan industri.
Namun, tugas tersebut tidak bisa dibebankan hanya kepada kampus.
“Polinema tidak bisa sendiri. Kami membutuhkan kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha dan dunia industri, serta masyarakat,” kata Supriatna.
Menurut dia, kemitraan yang kuat akan memperkokoh link and match antara pendidikan vokasi dan dunia kerja.
Artinya, mahasiswa tidak hanya mendapatkan kemampuan akademik dan teori, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk bersentuhan langsung dengan persoalan nyata di lapangan.
Pengalaman tersebut diharapkan membuat lulusan lebih siap ketika memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.
Tak Berhenti di Atas Kertas
Dalam forum tersebut, Polinema bersama sejumlah mitra industri juga menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS).
Namun, bagi Pemprov Jatim, penandatanganan dokumen bukanlah garis akhir.
Justru setelah MoU dan PKS diteken, pekerjaan sebenarnya dimulai.
Diskominfo Jatim mendorong agar kerja sama tersebut diterjemahkan menjadi program konkret yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh mahasiswa, perguruan tinggi, industri maupun masyarakat.
Sejumlah bentuk kolaborasi menjadi bahan pembahasan, mulai dari program magang, penelitian, teaching factory, pengembangan kurikulum, hingga peningkatan kompetensi mahasiswa.
Forum juga menjadi ruang untuk berbagi praktik baik sekaligus mendiskusikan kebutuhan industri terhadap lulusan pendidikan vokasi.
Dengan pola tersebut, kampus diharapkan tidak berjalan dengan asumsi sendiri mengenai kebutuhan dunia kerja. Sebaliknya, industri dapat memberikan gambaran nyata mengenai kompetensi yang dibutuhkan.
Dari sinilah proses link and match diharapkan semakin kuat.
Polinema Sudah Jadi Mitra Pemprov Jatim
Diskominfo Jatim mencatat Polinema menjadi perguruan tinggi ke-10 yang menjalin kerja sama dengan Pemprov Jatim, khususnya Diskominfo Jatim.
Kerja sama tersebut mencakup sejumlah program strategis, di antaranya magang mahasiswa, Cerdas Digital, serta pemanfaatan Open Data Jawa Timur untuk penelitian dan inovasi.
Program tersebut membuka ruang lebih luas bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan sekaligus mengenal kebutuhan dunia kerja.
Di sisi lain, industri mendapatkan peluang untuk ikut berperan dalam membentuk talenta yang sesuai dengan kebutuhan sektor usaha.
Kolaborasi semacam ini menjadi semakin penting di tengah percepatan transformasi digital. Kebutuhan tenaga kerja dengan kemampuan teknologi, data, inovasi dan adaptasi akan terus meningkat.
Jawa Timur pun membutuhkan ekosistem pendidikan yang mampu merespons perubahan tersebut.
Bidik Jawa Timur Makin Kompetitif
Penguatan kerja sama Polinema dan industri pada akhirnya bukan hanya soal kepentingan kampus atau perusahaan.
Ada target yang lebih besar: memperkuat daya saing Jawa Timur.
Pemprov Jatim ingin pendidikan vokasi menjadi salah satu mesin penghasil SDM yang mampu mengisi kebutuhan industri sekaligus mendorong inovasi.
Karena itu, sinergi tiga unsur—pemerintah, perguruan tinggi dan industri—menjadi semakin penting.
Pemerintah menyediakan ruang kebijakan dan fasilitasi. Kampus menyiapkan pendidikan serta kompetensi. Sementara industri memberikan gambaran kebutuhan riil dunia kerja sekaligus ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman praktis.
Jika ketiganya bergerak dalam satu irama, jarak antara dunia pendidikan dan dunia kerja dapat semakin dipangkas.
Pada akhirnya, lulusan tidak lagi sekadar membawa ijazah ketika keluar dari kampus. Mereka diharapkan membawa kompetensi, pengalaman, kemampuan beradaptasi, serta keterampilan yang benar-benar dibutuhkan industri.
Itulah yang menjadi pekerjaan rumah sekaligus tantangan menuju Generasi Emas 2045.
Diskominfo Jatim pun menegaskan bahwa kemitraan strategis tersebut harus menghasilkan aksi nyata, bukan berhenti sebagai seremoni penandatanganan dokumen.
Sebab, jika targetnya adalah mencetak SDM unggul dan membuat Jawa Timur semakin kompetitif, maka langkahnya memang harus dimulai sekarang. (*)












Tinggalkan Balasan