Srikandi Cilik Tak Mau Kalah! MLSC Semarang Jadi Ajang Unjuk Bakat dan Mental Juara

Laporan: Wahyu Widodo
SEMARANG | SUARAGLOBAL.COM – Lapangan hijau di Kota Semarang mendadak berubah menjadi panggung adu skill para pesepak bola putri cilik. Bukan sekadar mengejar kemenangan, ribuan srikandi muda datang membawa mimpi besar: menjadi bagian dari masa depan sepak bola putri Indonesia.
Semangat itu mewarnai pelaksanaan MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Seri 1 musim 2026–2027 yang berlangsung pada 1–6 September 2026. Semarang dan Tangerang dipercaya menjadi dua kota pembuka untuk musim kali ini.
Khusus di Semarang, pertandingan digelar di dua venue, yakni Stadion Universitas Diponegoro (Undip) dan Lapangan Arhanud, Jatingaleh. Sementara di Tangerang, laga dipusatkan di Stadion Kera Sakti dan Stadion Cisauk.
Antusiasme peserta pun bukan kaleng-kaleng. MLSC Semarang diikuti 1.091 atlet yang berasal dari 63 SD dan MI. Mereka terbagi dalam 35 tim Kelompok Umur (KU) 10 dan 67 tim KU 12.
Angka tersebut menjadi gambaran betapa sepak bola putri mulai menemukan tempat yang semakin kuat di kalangan anak-anak usia dini.
Di atas lapangan, para pemain tidak hanya dituntut mampu menggiring bola, melakukan passing, dan mencetak gol. Mereka juga belajar tentang keberanian, kerja sama tim, disiplin, sportivitas, serta bagaimana mengelola emosi ketika menghadapi tekanan pertandingan.
MLSC sendiri merupakan turnamen sepak bola putri yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife. Kompetisi ini dirancang sebagai bagian dari upaya mempopulerkan sepak bola putri sejak usia dini sekaligus membangun fondasi pembinaan atlet secara berkelanjutan.
Targetnya pun tidak main-main. Dari lapangan-lapangan lokal, talenta-talenta muda tersebut diharapkan suatu hari mampu mengharumkan nama Indonesia di pentas sepak bola internasional.
Digelar di 15 Kota
Perjalanan MLSC Seri 1 musim 2026–2027 tidak berhenti di Semarang dan Tangerang. Kompetisi ini dijadwalkan bergulir di 15 kota, yakni Tangerang, Semarang, Jakarta Raya (Jakarta Timur), Yogyakarta, Kudus, Bekasi, Jakarta Jaya (Jakarta Utara), Bandung, Surabaya, Garut, Malang, Solo, Samarinda, Banjarmasin, dan Jayapura.
Jangkauan yang luas tersebut menunjukkan upaya memperlebar ekosistem sepak bola putri hingga berbagai daerah.
Semakin banyak kota yang menjadi tuan rumah, semakin besar pula peluang bagi anak-anak untuk mengenal sepak bola secara kompetitif sejak usia belia.
MLSC Seri 1 2026–2027 sekaligus meneguhkan konsistensi dan komitmen Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama MilkLife dalam mencari serta membina bibit-bibit pesepak bola putri potensial.
Format 7 Lawan 7, Laga Dibuat Padat
Untuk memberikan pengalaman bertanding yang sesuai dengan kelompok usia peserta, MLSC menggunakan format 7 vs 7.
Pada babak penyisihan hingga perempat final, pertandingan berlangsung 2 x 10 menit. Sedangkan pada babak semifinal dan final, durasi pertandingan ditingkatkan menjadi 2 x 15 menit.
Setiap tim diperkuat tujuh pemain inti dan lima pemain cadangan. Dengan demikian, satu tim memiliki total 12 pemain.
Menariknya, MLSC juga mengusung semangat inklusivitas. Seluruh pemain mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam pertandingan.
Konsep tersebut membuat kompetisi tidak sekadar berorientasi pada hasil akhir. Setiap anak memperoleh ruang untuk merasakan atmosfer pertandingan, belajar mengambil keputusan, sekaligus membangun kepercayaan diri.
Regulasi Usia Ikut Berubah
Musim terbaru MLSC juga membawa sejumlah perubahan regulasi.
Untuk KU 10, peserta merupakan pemain kelahiran 1 Juli 2016 hingga 30 Juni 2018. Sedangkan KU 12 diperuntukkan bagi pemain kelahiran 1 Juli 2014 hingga 30 Juni 2016.
Perubahan juga terjadi pada ukuran lapangan KU 10. Jika sebelumnya lapangan berukuran 40 x 24 meter, kini diperlebar menjadi 42 x 26 meter.
Penyesuaian tersebut membuat anak-anak mendapatkan ruang permainan yang berbeda sekaligus pengalaman baru dalam mengembangkan kemampuan teknis maupun taktikal.
Tak hanya KU 10 dan KU 12, anak-anak yang lebih muda juga tetap mendapatkan kesempatan untuk merasakan keseruan sepak bola melalui Festival SenengSoccer.
Festival ini diperuntukkan bagi anak kelahiran 1 Juli 2018 hingga 31 Desember 2020.
Bukan Sekadar Tendang Bola
Di Festival SenengSoccer, sepak bola dikemas dalam berbagai aktivitas yang menyenangkan.
Anak-anak diajak melakukan lari zig-zag melewati rintangan, belajar melakukan lemparan ke dalam atau throw in, menggiring bola melewati cone, melakukan passing maupun tendangan ke arah gawang, melompat dengan dua kaki, hingga berlari menuju garis finis dan menekan tombol timer.
Permainan tersebut menjadi pintu masuk untuk mengenalkan teknik dasar sepak bola dengan cara yang tidak membuat anak merasa sedang menjalani latihan berat.
Pelatih Kepala MilkLife Soccer Challenge All-Stars Semarang, Aji Irawan, mengatakan pendekatan menyenangkan menjadi salah satu kunci untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap olahraga.
Hal itu disampaikannya saat ditemui di Stadion Diponegoro Undip, Sabtu (5/9/2026).
“Antusiasme peserta menunjukkan semakin besarnya minat anak-anak terhadap sepak bola,” ujarnya.
Menurut Aji, pembinaan sejak usia dini sangat penting untuk mendukung proses regenerasi atlet.
Bakat yang muncul sejak usia belia, kata dia, membutuhkan lingkungan pembinaan yang tepat agar dapat berkembang secara bertahap.
Berharap Sepak Bola Putri Makin Bergaung
Aji juga melihat perkembangan sepak bola putri Indonesia semakin menunjukkan tren positif.
Karena itu, ia berharap sepak bola putri mendapatkan perhatian yang setara dengan sepak bola putra. Menurutnya, anak-anak perempuan juga harus memiliki ruang yang sama untuk berkembang, berkompetisi, dan mengejar prestasi.
“Perkembangan sepak bola putri juga luar biasa. Saya berharap, olahraga ini setara dengan tim putra, agar sama-sama dikedepankan, sehingga mampu memberi peran penting dan tempat di mancanegara,” jelasnya.
Harapan tersebut terasa semakin relevan ketika melihat antusiasme ribuan peserta MLSC di Semarang.
Satu per satu mereka berlari mengejar bola. Ada yang berani melakukan penetrasi, ada yang sibuk mengawal lawan, ada pula yang berdiri di bawah mistar gawang menjadi benteng terakhir timnya.
Di balik setiap pertandingan, tersimpan proses panjang pembentukan karakter dan kemampuan.
Sebab, bintang sepak bola tidak selalu lahir dari lapangan megah. Bisa jadi, perjalanan itu justru dimulai dari lapangan sederhana, dari sebuah turnamen usia dini, dari satu gol pertama, atau dari keberanian seorang anak perempuan untuk mengejar bola dan bermimpi setinggi mungkin.
Dan MLSC 2026–2027 mencoba membuka pintu itu selebar-lebarnya. Dari Semarang dan Tangerang, perjalanan panjang srikandi-srikandi cilik menuju panggung sepak bola yang lebih tinggi resmi dimulai. (*)












Tinggalkan Balasan