Laporan: Akbaruddin

JAKARTA | SUARAGLOBAL.COM — Industri teh nasional tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dinamika harga, kondisi cuaca hingga tuntutan menjaga kualitas produksi menjadi pekerjaan rumah yang harus dihadapi bersama oleh seluruh pelaku industri teh di Indonesia.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Direktur Utama PT Agriwangi Sentosa, Rahman Priyono, menyerukan pentingnya memperkuat kolaborasi dan sinergi antarpelaku industri teh. Menurutnya, persoalan yang dihadapi sektor teh tidak akan efektif diselesaikan apabila masing-masing pelaku usaha berjalan sendiri-sendiri.

Rahman menilai industri teh membutuhkan wadah bersama yang mampu menjadi ruang komunikasi, menyatukan strategi, sekaligus memperkuat posisi teh Indonesia agar semakin kompetitif, baik di pasar dalam negeri maupun pasar internasional.

Pesan tersebut disampaikan Rahman saat memberikan sambutan dalam 4th National Tea Competition Indonesia 2026, yang menjadi bagian dari rangkaian pameran Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Bagi Rahman, ajang tersebut bukan sekadar kompetisi untuk menentukan teh dengan kualitas terbaik. Lebih dari itu, National Tea Competition dinilai mampu menjadi ruang pertemuan para insan teh sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di tengah tantangan industri yang semakin kompleks.

PT Agriwangi Sentosa sendiri tercatat telah mengikuti tiga dari empat kali penyelenggaraan kompetisi yang digagas oleh Asosiasi Teh Indonesia (ATI) tersebut.

Rahman mengaku melihat suasana yang berbeda dalam kompetisi tersebut. Kendati menggunakan embel-embel kompetisi, menurut dia, atmosfer persahabatan justru terasa lebih kuat dibandingkan nuansa persaingan.

Baca Juga:  Polres Pasuruan Salurkan Bantuan bagi Korban Pergeseran Tanah di Purwodadi

ā€œMeskipun judulnya kompetisi, suasana persahabatannya jauh lebih menonjol dibandingkan persaingannya. Para insan teh membawa suasana yang hangat dan penuh kegembiraan, dan ini sangat positif bagi industri kita,ā€ ujar Rahman.

Menurut Rahman, suasana seperti itu penting untuk terus dipelihara. Sebab, industri teh membutuhkan komunikasi dan hubungan yang kuat antarpelaku usaha untuk bersama-sama mencari jalan keluar dari berbagai persoalan yang dihadapi.

Ia pun memberikan apresiasi kepada ATI yang secara konsisten menyelenggarakan National Tea Competition. Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan tersebut membutuhkan proses yang panjang, mulai dari pengumuman kompetisi, pengumpulan puluhan sampel teh hingga tahapan penjurian.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa kompetisi teh bukan sekadar kegiatan seremonial. Ada proses untuk mendorong produsen agar semakin memperhatikan mutu, konsistensi produksi dan karakteristik produk yang dihasilkan.

Bagi Rahman, peningkatan kualitas tersebut pada akhirnya akan berhubungan langsung dengan citra teh Indonesia di mata konsumen.

Bukan Sekadar Adu Mutu

National Tea Competition 2026 juga diharapkan mampu menjadi salah satu pintu untuk memperkenalkan lebih jauh produk teh Indonesia kepada pasar yang lebih luas.

Rahman berharap kompetisi tersebut tidak berhenti pada pemberian apresiasi kepada produsen teh berkualitas. Ajang tersebut juga diharapkan mampu menarik perhatian buyers dari mancanegara sehingga peluang pemasaran produk teh Indonesia ke pasar ekspor semakin terbuka.

Menurut dia, Indonesia memiliki potensi teh yang besar. Namun potensi tersebut membutuhkan penguatan dari berbagai sisi, mulai dari kualitas produk, kesinambungan produksi, promosi hingga kemampuan membangun jaringan pasar.

Baca Juga:  Kunjungi Kodim 0703/Cilacap, Pangdam IV/Diponegoro Tekankan Netralitas Pemilu

Karena itu, keberadaan organisasi dan wadah bersama seperti Asosiasi Teh Indonesia maupun Dewan Teh Indonesia dinilai memiliki peran penting.

ā€œTantangan industri teh saat ini sangat berat. Kita tidak akan mampu bertahan jika berjuang sendiri-sendiri. Wadah seperti Asosiasi Teh Indonesia maupun Dewan Teh Indonesia menjadi perekat penting agar kita bisa menyatukan strategi, bersepakat, dan maju bersama demi kemajuan teh Indonesia,ā€ tegasnya.

Cuaca Ikut Menguji Produksi

Di balik semangat untuk memperluas pasar, industri teh nasional masih menghadapi sejumlah tantangan fundamental. Salah satunya berkaitan dengan kondisi cuaca yang dapat berpengaruh langsung terhadap produksi perkebunan teh.

Rahman mengatakan fenomena cuaca kering yang berkaitan dengan El NiƱo menjadi salah satu faktor yang turut memberikan tekanan terhadap produksi teh nasional.

Kondisi tersebut membuat produsen harus bekerja lebih keras untuk menjaga kesinambungan pasokan sekaligus mempertahankan kualitas teh yang dihasilkan.

Bagi industri teh, menjaga kualitas bukan perkara sederhana. Faktor lingkungan, proses produksi hingga konsistensi bahan baku menjadi bagian yang saling berkaitan dalam menghasilkan produk teh yang mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Karena itu, kompetisi seperti National Tea Competition dinilai dapat menjadi pemacu bagi produsen untuk terus melakukan pembenahan.

Ajang tersebut memberikan ruang bagi produsen untuk mengukur kualitas produknya sekaligus melihat perkembangan mutu teh yang dihasilkan oleh pelaku industri lainnya.

Baca Juga:  Kapolda Jateng Ajak Masyarakat Boyolali: Dengan Solidaritas Mari Kita Bangun Daerah Lebih Baik

Pemerintah Diharapkan Perkuat Promosi

Selain persoalan produksi dan kualitas, dukungan pemerintah juga dinilai penting untuk membawa teh Indonesia semakin dikenal di pasar global.

Pelaku industri berharap pemerintah dapat terus memperluas ruang promosi teh Indonesia melalui berbagai pameran, forum perdagangan dan kegiatan internasional.

Promosi dinilai tidak hanya bertujuan memperkenalkan produk, tetapi juga membuka pertemuan antara produsen dalam negeri dengan calon pembeli dari berbagai negara.

Jika promosi, kualitas dan jaringan perdagangan dapat berjalan beriringan, peluang teh Indonesia untuk memperluas pasar dinilai akan semakin terbuka.

Pada akhirnya, industri teh membutuhkan kerja bersama dari berbagai unsur. Pelaku usaha berada di garis depan produksi dan perdagangan, asosiasi menjadi ruang komunikasi serta konsolidasi, sementara dukungan pemerintah dibutuhkan untuk memperkuat promosi dan membuka akses pasar.

National Tea Competition 2026 pun menjadi salah satu momentum untuk mempertemukan berbagai kepentingan tersebut.

Dari sebuah kompetisi, terselip pesan yang jauh lebih besar: teh Indonesia membutuhkan kekuatan bersama.

Dengan kolaborasi yang semakin solid antara pelaku usaha, asosiasi dan pemangku kepentingan terkait, industri teh nasional diharapkan tidak hanya mampu bertahan menghadapi tantangan, tetapi juga memiliki strategi yang lebih kuat untuk memperluas pasar dan meningkatkan posisi teh Indonesia di panggung perdagangan global. (*)