Segar, Rendah Gula dan Bikin Nagih! Susu Lokal Kadirejo Jadi Favorit Siswa Penerima MBG di Kabupaten Semarang

Laporan: Wahyu Widodo
KAB. SEMARANG | SUARAGLOBAL.COM – Dari kandang sapi perah di kawasan Getasan hingga meja makan anak-anak sekolah di Kabupaten Semarang. Begitulah perjalanan susu segar peternak lokal yang kini ikut mengambil bagian dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Produk susu olahan Rumah Susu Indonesia yang berada di Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, kini menjadi salah satu menu tambahan dalam program MBG. Setiap hari, susu yang berbahan baku susu segar tersebut dipasok ke sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk selanjutnya dibagikan kepada siswa di sekolah.
Bagi Rumah Susu Indonesia, masuknya produk susu lokal ke dalam program MBG bukan sekadar soal memenuhi kebutuhan konsumsi siswa. Di baliknya terdapat upaya untuk ikut menyerap hasil produksi peternak sapi perah lokal.
Pimpinan Rumah Susu Indonesia, Riyadi, mengatakan penggunaan susu segar dalam program MBG juga menjadi bagian dari upaya membantu peternak.
“Ini sesuai arahan dari Kepala BGN Pak Sudaryono, dalam rangka membantu peternak dalam hal susu. Untuk MBG juga diarahkan menggunakan susu segar yang minimal 80 persen kandungan susunya,” kata Riyadi kepada Suaraglobal.com.
Ia menegaskan, produk yang diolah Rumah Susu Indonesia menggunakan 100 persen susu murni.
Saat ini, Rumah Susu Indonesia telah melayani enam SPPG. Menurut Riyadi, masing-masing SPPG rata-rata melayani sekitar 2.000 hingga 2.600 penerima.
“Untuk saat ini sudah ada enam SPPG yang kita layani dari Rumah Susu ini,” ujar Riyadi yang juga Kepala Desa Kadirejo.
Bahan Baku dari Peternak Getasan
Untuk menjaga ketersediaan bahan baku, Rumah Susu Indonesia menggandeng koperasi yang berada di wilayah Getasan, Kabupaten Semarang.
Getasan merupakan salah satu kawasan penghasil susu sapi perah di Kabupaten Semarang. Melalui kerja sama tersebut, kebutuhan bahan baku diperoleh dari jaringan kelompok tani dan peternak sapi perah yang berada dalam pembinaan koperasi.
“Kita kerja sama dengan koperasi di sana yang membina kelompok-kelompok tani dan juga peternak susu sapi perah,” kata Riyadi.
Kerja sama tersebut menjadi bagian penting dalam mata rantai produksi susu lokal. Susu segar yang dihasilkan peternak kemudian masuk ke proses pengolahan di Rumah Susu Indonesia sebelum dikemas dan disalurkan melalui SPPG.
Dengan demikian, produk yang akhirnya diminum siswa tidak berdiri sendiri. Ada rantai produksi yang melibatkan peternak, koperasi, pengolah susu, SPPG hingga sekolah.
Dari sisi kapasitas, Rumah Susu Indonesia juga memiliki kemampuan produksi yang cukup besar. Jika seluruh mesin dimaksimalkan, kapasitas produksi dapat mencapai 24.000 cup per hari.
“Kalau kita maksimalkan mesin ini, sebenarnya bisa 24.000 cup per hari. Artinya kebutuhan bahan bakunya tiga ton per hari,” ujarnya.
Kapasitas tersebut sekaligus menunjukkan besarnya kebutuhan bahan baku apabila produksi dijalankan secara maksimal.
Empat Kali Sepekan, Siswa Menunggu Susu
Kehadiran susu Rumah Susu Indonesia dalam program MBG sudah dirasakan langsung oleh para siswa.
Kepala TK Harapan Desa Semowo, Eli Sulistiani, mengatakan siswa di sekolahnya telah menerima susu produksi Rumah Susu Indonesia selama sekitar empat bulan.
Menurut Eli, produk tersebut mendapat respons positif dari anak-anak. Selain rasanya disukai, susu tersebut juga dinilai lebih segar dan memiliki kadar gula yang rendah.
“Alhamdulillah kalau susu dari Rumah Susu Indonesia Kadirejo ini sangat disukai anak-anak. Rasanya juga enak, berkualitas bagus dan kadar gulanya rendah,” kata Eli.
Saat ini susu diberikan kepada siswa sebanyak empat kali dalam sepekan.
Menariknya, ketidakhadiran susu pada satu hari tertentu justru membuat sebagian siswa bertanya kepada guru.
Eli menceritakan, anak-anak bahkan menanyakan keberadaan susu ketika pada hari tertentu mereka tidak mendapatkannya.
“Setiap Rabu tidak dapat, anak-anak sangat minta. ‘Bu, susunya mana?’ seperti itu,” ujarnya.
Respons positif juga datang dari orang tua siswa. Menurut Eli, para orang tua turut memberikan dukungan terhadap pemberian susu tersebut.
“Menurut kami lebih bagus dan lebih segar daripada susu kemasan. Orang tua juga sangat menyarankan susu ini karena kadar gulanya rendah,” kata Eli.
Mulai 13 Juli 2026 di SD Negeri Kadirejo 03
Hal senada disampaikan Kepala SD Negeri Kadirejo 03, Rokhaniah.
Ia mengatakan susu produksi Rumah Susu Indonesia mulai diberikan kepada para siswa sejak awal tahun ajaran baru, tepatnya 13 Juli 2026.
“Mulai tanggal 13 Juli, awal tahun ajaran baru, itu sudah berjalan setiap hari,” kata Rokhaniah.
Menurutnya, susu tersebut memiliki rasa yang lebih segar.
“Kalau menurut saya pribadi, lebih enak susu yang ini. Rasanya segar dan tidak terlalu enek,” ujarnya.
Penilaian tersebut, kata Rokhaniah, juga dirasakan oleh guru dan siswa di sekolahnya.
Selain mendapatkan tambahan susu melalui program MBG, keberadaan produk tersebut dinilai turut memberikan ruang bagi produk lokal untuk dikonsumsi di lingkungan sekolah.
“Artinya juga turut mendukung produk lokal,” katanya.
Siswa Kelas VI: “Terus”
Bagi siswa, susu tersebut bukan sekadar bagian dari menu tambahan MBG. Rasanya yang disukai membuat sebagian siswa berharap pemberiannya terus berlanjut.
Salah satunya Fahira, siswi kelas VI.
Ketika ditanya mengenai rasa susu yang diberikan melalui program MBG, Fahira memberikan jawaban singkat.
“Enak,” kata Fahira.
Ketika ditanya apakah dirinya berharap susu tersebut tetap diberikan dalam menu MBG, jawabannya kembali singkat.
“Terus.”
Jawaban sederhana tersebut menggambarkan respons salah satu penerima manfaat terhadap produk susu yang disajikan melalui program MBG di sekolahnya.
Susu Pasteurisasi Masih Perlu Dikenalkan
Di tengah semakin luasnya pemanfaatan susu lokal dalam program MBG, Riyadi mengatakan masih ada pekerjaan lain yang perlu dilakukan, yakni memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai susu pasteurisasi.
Menurutnya, belum semua masyarakat mengenal secara baik produk susu pasteurisasi.
“Susu pasteurisasi ini perlu pengenalan lebih tajam lagi ke masyarakat supaya dapat menggunakan dan mengenal susu pasteurisasi,” katanya.
Riyadi menjelaskan, susu pasteurisasi diolah melalui proses pemanasan pada suhu sekitar 72 derajat Celsius.
Produk tersebut juga memiliki masa simpan yang berkaitan erat dengan kondisi penyimpanan. Menurut Riyadi, dalam kondisi dingin, susu pasteurisasi dapat bertahan sekitar tujuh hari. Sementara apabila berada di luar kondisi dingin, masa simpannya menjadi lebih pendek.
Karena itu, pendistribusian dan pemberian susu kepada siswa juga menyesuaikan jadwal konsumsi di sekolah.
“Di sekolah itu biasanya sudah ada jadwal. Misalkan TK pukul 09.00 saat istirahat pertama, kemudian kalau SMA biasanya saat istirahat kedua,” ujar Riyadi.
Dari Peternak, Masuk SPPG, Berakhir di Sekolah
Masuknya susu produksi Rumah Susu Indonesia ke dalam menu MBG membuat produk olahan susu lokal tersebut kini memiliki jalur distribusi yang langsung bersinggungan dengan kebutuhan siswa di sekolah.
Susu segar dari peternak sapi perah di wilayah Getasan dihimpun melalui koperasi. Selanjutnya, bahan baku tersebut diolah di Rumah Susu Indonesia, Desa Kadirejo, menjadi produk susu yang kemudian dipasok kepada SPPG.
Dari SPPG, susu tersebut selanjutnya dibagikan kepada siswa sebagai bagian dari menu tambahan MBG.
Saat ini terdapat enam SPPG yang dilayani Rumah Susu Indonesia, dengan jumlah penerima setiap SPPG rata-rata mencapai 2.000 hingga 2.600 orang.
Jika kapasitas mesin produksi dimaksimalkan, Rumah Susu Indonesia bahkan mampu menghasilkan hingga 24.000 cup per hari dengan kebutuhan bahan baku sekitar tiga ton susu per hari.
Rantai tersebut mempertemukan kepentingan peternak, pengolah susu, penyedia layanan gizi dan sekolah dalam satu jalur. Produk susu yang dihasilkan peternak lokal akhirnya dapat dikonsumsi secara langsung oleh siswa.
Bagi peternak, program tersebut menjadi salah satu saluran penyerapan susu. Bagi pengolah, terdapat kebutuhan produksi yang harus dipenuhi. Sementara bagi siswa, susu menjadi salah satu tambahan menu dalam program MBG.
Di tengah program pemenuhan gizi bagi anak sekolah, susu lokal Kabupaten Semarang pun ikut mengambil tempat. Dari peternak sapi perah, masuk ke rumah produksi, diteruskan ke SPPG, dan akhirnya sampai ke tangan siswa di sekolah.
Sebuah perjalanan panjang yang membuat segelas susu tidak hanya berbicara soal minuman, tetapi juga tentang bagaimana produk peternak lokal bergerak hingga menjadi bagian dari menu anak-anak sekolah. (*)












Tinggalkan Balasan