Laporan: Andy Saputra

SEMARANG | SUARAGLOBAL.COM — Ada yang berbeda dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero) di wilayah KAI Daop 4 Semarang. Bukan sekadar seremoni, peringatan yang digelar pada 28 September 2026 itu justru mengajak masyarakat menengok kembali jejak panjang perjalanan perkeretaapian Indonesia.

Nuansa masa lalu tersebut hadir melalui KA Argo Merbabu yang tampil dengan vintage livery terinspirasi dari kereta seri ABL-9000. Kereta yang pernah menjadi bagian penting dalam perkembangan layanan perkeretaapian pada era Djawatan Kereta Api (DKA) itu seolah kembali menyapa publik melalui wajah baru di rangkaian KA Argo Merbabu.

Kehadiran vintage livery tersebut merupakan hasil kolaborasi KAI Daop 4 Semarang bersama Indonesian Railway Preservation Society (IRPS).

Satu rangkaian KA Argo Merbabu yang menggunakan livery bernuansa sejarah tersebut terdiri atas sembilan kereta eksekutif New Image, satu kereta makan New Image hasil modifikasi Balai Yasa Tegal, serta satu kereta pembangkit.

Total terdapat 450 tempat duduk dalam satu rangkaian. Dengan kapasitas tersebut, KA Argo Merbabu dapat melayani hingga 450 pelanggan dalam setiap perjalanan pada relasi Semarang Tawang–Gambir pulang pergi.

Menariknya, meski tampil dengan sentuhan masa lalu, rangkaian tersebut tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai sarana transportasi modern. Vintage livery menjadi jembatan visual yang mempertemukan perjalanan masa lalu dengan layanan kereta api masa kini.

Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, mengatakan kehadiran vintage livery menjadi salah satu cara KAI merayakan HUT ke-81 sekaligus mengajak masyarakat mengenang sejarah perjalanan perkeretaapian Indonesia.

“HUT ke-81 KAI menjadi momentum untuk melihat perjalanan perusahaan sekaligus mengenang sejarah perkeretaapian yang telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa. Melalui vintage livery ini, kami menghadirkan kembali nuansa salah satu kereta bersejarah dalam bentuk yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat saat ini,” ujar Luqman.

Baca Juga:  Motor Jadul Bisa Jadi Alat Tepat Guna di Tangan Prajurit Yonif R 300/Bjw

Jejak ABL-9000 dan Cerita Perjalanan Masa Lalu

Di balik tampilan vintage KA Argo Merbabu, terdapat sejarah panjang kereta seri ABL-9000.

Kereta tersebut mulai digunakan oleh DKA pada 1 Oktober 1954. Pada masa itu, ABL-9000 memiliki konfigurasi kelas 1 dan kelas 2 dalam kompartemen yang dipisahkan sekat berpintu.

Kapasitasnya terdiri atas 12 tempat duduk kelas 1 dan 47 tempat duduk kelas 2.

Sebanyak 49 unit ABL-9000 dipesan oleh DKA dan diproduksi oleh tiga pabrikan asal Prancis, yakni Société Lorraine, Carel Fouché, serta Brissonneau et Lotz.

Pada awal pengoperasiannya, kereta tersebut digunakan untuk mendukung layanan ekspres di sejumlah rute penting. Di antaranya Jakarta–Surabaya, Jakarta–Semarang, Jakarta–Yogyakarta, hingga Jakarta–Bandung.

ABL-9000 juga memiliki catatan dalam perjalanan sejarah nasional. Kereta seri tersebut pernah digunakan untuk mendukung perjalanan peserta Konferensi Asia-Afrika pada 1955.

Seiring perubahan zaman dan perkembangan kebutuhan layanan kereta api, sebagian ABL-9000 kemudian mengalami perubahan fungsi. Kereta tersebut dikonversi menjadi kereta kelas ekonomi.

Tidak berhenti sampai di sana. Sebagian unit kemudian kembali dikonversi menjadi kereta kelas eksekutif pada dekade 1990-an dan digunakan dalam layanan KA Argo Lawu.

Jejak panjang itulah yang kemudian menjadi inspirasi dalam menghadirkan vintage livery pada KA Argo Merbabu.

“Yang kami hadirkan hari ini bukan sekadar tampilan livery lama. Ada cerita panjang di baliknya. Kereta yang dahulu menjadi bagian dari perjalanan penting pada masanya, kini inspirasinya hadir kembali melalui rangkaian KA Argo Merbabu dalam momentum HUT ke-81 KAI,” jelas Luqman.

Baca Juga:  Dari Nusakambangan hingga Wonogiri! 16 Narapidana Hindu di Jateng Terima Remisi

Ketika Sejarah Kereta Api Bertemu Sastra

Perayaan HUT ke-81 KAI di Daop 4 Semarang tidak berhenti pada tampilan kereta bernuansa tempo dulu.

Di Stasiun Semarang Tawang, sejarah perjalanan kereta api kemudian dipertemukan dengan dunia sastra melalui pembacaan puisi “Di Stasiun Tawang” karya Louis-Philippe Dalembert.

Kegiatan tersebut menghadirkan kolaborasi dengan Triyanto Triwikromo, sastrawan sekaligus akademisi Universitas Diponegoro, serta Ucik Fuadhiyah, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang yang juga dikenal sebagai sastrawati dan peneliti.

Pemilihan Stasiun Semarang Tawang sebagai lokasi pembacaan puisi bukan tanpa alasan.

Stasiun yang berdiri sejak 1914 itu merupakan salah satu bangunan bersejarah di Kota Semarang. Hingga sekarang, Stasiun Tawang tetap menjadi bagian penting dari aktivitas perjalanan kereta api.

Di tempat tersebut, kereta datang dan pergi silih berganti. Penumpang berdatangan dengan berbagai tujuan, sementara sebagian lainnya meninggalkan Semarang membawa cerita masing-masing.

Karena itu, stasiun tidak hanya dipandang sebagai ruang kedatangan dan keberangkatan kereta, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan cerita manusia tentang perjalanan, pertemuan, perpisahan, kota, serta perubahan zaman.

Bagi KAI Daop 4 Semarang, pembacaan puisi tersebut menjadi pelengkap dari pesan sejarah yang dibawa vintage livery KA Argo Merbabu.

Jika vintage livery menghadirkan kembali wajah kereta dari masa lalu, maka puisi menghadirkan kembali cerita, suasana, dan rasa yang tumbuh di sekitar perjalanan kereta api.

“Kereta api dan sastra memiliki satu ruang pertemuan yang sama, yaitu manusia dan perjalanannya. Stasiun menjadi tempat banyak cerita dimulai maupun berakhir. Karena itu, melalui pembacaan puisi di Stasiun Tawang, kami ingin menghadirkan cara lain untuk melihat perjalanan kereta api, tidak hanya dari sisi sarana dan perjalanan, tetapi juga dari sisi budaya dan cerita manusia,” kata Luqman.

Baca Juga:  Zaenal Petir Konsisten Bela Wong Cilik, Diguyur Penghargaan IKADIN

Stasiun Tawang, Saksi Panjang Perjalanan Zaman

Stasiun Semarang Tawang sendiri menyimpan sejarah yang tak kalah panjang.

Stasiun tersebut dibangun pada 1914 sebagai pengganti stasiun NIS sebelumnya yang sudah tidak lagi mampu menampung pertumbuhan aktivitas perjalanan kereta api.

Lebih dari satu abad kemudian, bangunan tersebut masih menjalankan fungsi utamanya sebagai simpul perjalanan kereta api sekaligus menjadi salah satu bagian penting dari identitas Kota Semarang.

Di sinilah kemudian perayaan HUT ke-81 KAI mendapatkan makna yang lebih luas.

Vintage livery KA Argo Merbabu membawa kembali gambaran tentang wajah perkeretaapian masa lalu, sementara pembacaan puisi mengajak masyarakat melihat perjalanan kereta api dari sisi yang lebih manusiawi.

Dua pendekatan tersebut dipertemukan di satu ruang yang telah menjadi saksi perjalanan zaman: Stasiun Semarang Tawang.

KAI Daop 4 Semarang pun menjadikan momentum tersebut sebagai bagian dari upaya merawat keterhubungan antara sejarah, perjalanan kereta api, budaya, dan kehidupan masyarakat.

“81 tahun KAI adalah perjalanan yang panjang. Kami ingin merayakannya dengan mengingat dari mana perjalanan ini berasal, menghargai cerita yang telah menjadi bagian dari sejarah, sekaligus terus melangkah bersama masyarakat. Semoga rangkaian kegiatan ini dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan menikmati kembali sejarah perkeretaapian melalui cara yang lebih dekat,” tutup Luqman.

Perayaan HUT ke-81 KAI di Semarang akhirnya bukan hanya tentang usia sebuah perusahaan. Di balik deru roda kereta dan kesibukan stasiun, ada sejarah yang terus bergerak, cerita manusia yang terus berganti, serta warisan perkeretaapian yang tetap dirawat agar tidak hilang ditelan zaman. (*)