Laporan: Andy Saputra

SEMARANG | SUARAGLOBAL.COM — Terobosan layanan kemanusiaan kembali dilakukan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang. Kali ini, inovasi menyasar penyandang tunanetra dengan meluncurkan kartu donor darah dan kartu golongan darah menggunakan huruf Braille.

Peluncuran kartu khusus tersebut dilakukan bertepatan dengan peresmian Pondok Pesantren Sahabat Mata di Dawung, Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Selasa (29/9/2026).

Inovasi tersebut menjadi langkah baru dalam memberikan akses pelayanan yang lebih inklusif. Dengan format Braille, penyandang tunanetra dapat mengenali identitas kartu donor maupun informasi golongan darah melalui sentuhan, tanpa harus bergantung kepada orang lain.

Ketua PMI Kota Semarang, Dr. dr. Awal Prasetyo, M.Kes., Sp.THT-KL., MM(ARS), mengatakan pelayanan kemanusiaan semestinya dapat diakses seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

Menurut Awal, keterbatasan penglihatan bukan alasan bagi seseorang untuk tidak dapat berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan, termasuk donor darah.

“PMI Kota Semarang memelopori pemberian identitas pendonor darah sekaligus kartu golongan darah dalam huruf Braille,” ujar Awal.

Ia menjelaskan, kondisi penglihatan seseorang tidak memiliki kaitan dengan darah yang didonorkan. Karena itu, penyandang tunanetra juga mempunyai kesempatan yang sama untuk mengambil bagian dalam kegiatan donor darah sepanjang memenuhi persyaratan kesehatan yang berlaku.

Peluncuran kartu donor darah dan kartu golongan darah Braille ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Bulan Kemanusiaan PMI Kota Semarang 2026.

Kegiatan tersebut digelar bersama Kejaksaan Kota Semarang dengan memberikan perhatian khusus kepada kelompok lanjut usia serta penyandang disabilitas.

Baca Juga:  PLN Icon Plus Rapikan Kabel Semrawut di Mijen, Demi Keamanan dan Tampilan Kota

Tak hanya meluncurkan kartu Braille, PMI Kota Semarang juga menggelar donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis. PMI turut memberikan satu meja tenis meja yang dirancang khusus agar dapat digunakan oleh penyandang tunanetra.

Bagi PMI Kota Semarang, berbagai kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni. Lebih jauh, kegiatan itu menjadi upaya membuka ruang yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk terlibat dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Awal berharap inovasi kartu Braille tersebut dapat memperluas keterlibatan penyandang disabilitas sekaligus membangun kesadaran masyarakat bahwa gerakan kemanusiaan harus dapat dirasakan semua kalangan.

“Ini merupakan kali pertama kartu golongan darah Braille dan kartu pendonor darah Braille diluncurkan melalui PMI Kota Semarang,” jelasnya.

Menariknya, sejumlah penyandang tunanetra yang baru pertama kali mengikuti donor darah dalam kegiatan tersebut langsung mendapatkan kartu pendonor beserta informasi golongan darah dalam format Braille.

Kartu tersebut memungkinkan informasi dibaca melalui sentuhan. Dengan demikian, pemilik kartu dapat mengenali dan memastikan informasi yang tertera secara lebih mandiri.

Langkah tersebut mendapat sambutan positif dari Pimpinan Pondok Pesantren Sahabat Mata, Basuki.

Menurut Basuki, penggunaan huruf Braille pada kartu donor merupakan bukti bahwa perhatian terhadap kebutuhan penyandang disabilitas semakin berkembang.

“Alhamdulillah, kami sangat senang. Artinya semakin banyak orang yang benar-benar peduli kepada penyandang disabilitas,” kata Basuki.

Basuki menuturkan, Sahabat Mata telah berdiri sejak 2008. Pada awalnya, kegiatan dilakukan di sebuah tempat sederhana dengan fasilitas yang masih sangat terbatas.

Seiring berjalannya waktu, Sahabat Mata berkembang setelah mendapatkan wakaf tanah. Lahan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membangun Pondok Pesantren Sahabat Mata yang kini menjadi tempat pembelajaran dan pembinaan penyandang tunanetra.

Baca Juga:  Polda Jateng Ungkap Sindikat Ekspor Ilegal Kendaraan ke Timor Leste, Bermodus Dokumen Fiktif

Sejak berdiri, ribuan penyandang tunanetra dari berbagai daerah di Indonesia telah mendapatkan pembelajaran dan pembinaan di lembaga tersebut.

Mereka datang dari berbagai wilayah, mulai dari Medan, Papua, Sulawesi hingga sejumlah daerah lainnya.

Saat ini sekitar 10 penyandang tunanetra tinggal di pondok tersebut. Ke depan, kapasitas penghuni ditargetkan meningkat hingga mencapai 30 orang.

Program pembinaan di Sahabat Mata berlangsung sekitar tiga tahun. Selama mengikuti program, para peserta tidak hanya mendapatkan pembelajaran, tetapi juga dibekali berbagai keterampilan agar mampu menjalani kehidupan secara lebih mandiri.

Keterampilan yang diajarkan antara lain komputer, pijat hingga kemampuan komunikasi. Seluruh program pembinaan tersebut diberikan tanpa dipungut biaya.

“Harapannya mereka bisa mandiri, bisa menghidupi dirinya sendiri dan bisa membantu teman-teman yang lain,” ujar Basuki.

Bagi Basuki, kartu donor darah dengan tulisan Braille memiliki manfaat sederhana tetapi sangat berarti bagi penyandang tunanetra.

Selama ini, kartu atau dokumen yang hanya mengandalkan tulisan biasa membuat penyandang tunanetra harus meminta bantuan orang lain untuk mengetahui isi atau identitas dokumen tersebut.

Dengan adanya tulisan Braille, mereka dapat mengenali kartu miliknya secara mandiri.

“Kalau ada Braille, teman-teman bisa meraba dan mengetahui, oh, ini kartu saya,” katanya.

Sementara itu, Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung RI, Prof. Dr. Reda Manthovani, yang hadir dalam peresmian Pondok Pesantren Sahabat Mata, mengatakan pembangunan fasilitas tersebut tidak terlepas dari dukungan jajaran Kejaksaan.

Baca Juga:  DPW SKKP Jawa Tengah Tancap Gas: Rapat Perdana Tegaskan Komitmen Bangun Dapur Sehat Menuju Generasi Emas 2045

Reda menuturkan, perhatian terhadap Sahabat Mata bermula setelah pihaknya melihat film karya Basuki bersama komunitas Sahabat Mata.

Film tersebut menggambarkan kondisi pondok yang ketika itu masih kosong. Dari karya tersebut kemudian muncul dorongan untuk memberikan dukungan terhadap pembangunan fasilitas yang diperuntukkan bagi penyandang tunanetra.

Reda juga mendorong agar karya film komunitas Sahabat Mata dikembangkan sehingga dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

Menurutnya, pengembangan karya tersebut dapat dilakukan melalui kolaborasi dengan pekerja seni maupun artis nasional yang memiliki kepedulian terhadap penyandang disabilitas.

Ia menilai berbagai inovasi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut juga memiliki peluang untuk dikembangkan dan menjadi contoh bagi daerah lain yang mempunyai kebutuhan serupa.

“Ini akan kita jadikan percontohan. Kalau memang ada daerah lain yang membutuhkan seperti ini,” pungkas Reda.

Peluncuran kartu donor darah dan kartu golongan darah Braille akhirnya bukan hanya menjadi catatan baru dalam pelayanan PMI Kota Semarang. Di balik kartu yang dapat dibaca melalui sentuhan tersebut, terselip pesan bahwa aksi kemanusiaan tidak mengenal batas kemampuan fisik.

Donor darah, pelayanan kesehatan, hingga berbagai kegiatan sosial semestinya memberikan ruang yang sama bagi setiap orang untuk berkontribusi.

Dari Dawung, Mijen, sebuah kartu kecil dengan tulisan yang dirasakan melalui ujung jari menjadi simbol bahwa inklusivitas dalam gerakan kemanusiaan dapat diwujudkan melalui langkah nyata. (*)