Laporan: Ninis Indrawati

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Dominasi Jawa Timur di panggung penelitian pelajar nasional belum terbendung. Untuk keenam kalinya secara beruntun, kontingen Jawa Timur kembali menyabet gelar juara umum Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026.

Bukan sekadar mempertahankan gelar, prestasi tersebut sekaligus menjadi bukti konsistensi pelajar Jawa Timur dalam mengasah kemampuan penelitian, berpikir kritis, memecahkan persoalan, hingga melahirkan gagasan inovatif.

Pada ajang OPSI 2026, kontingen Jawa Timur mengoleksi sembilan medali. Torehan itu kembali mengukuhkan posisi Jatim sebagai salah satu daerah dengan kekuatan pembinaan penelitian pelajar yang konsisten di tingkat nasional.

Sejak OPSI 2021, Jawa Timur tercatat mampu mempertahankan gelar juara umum secara beruntun. Rentetan prestasi tersebut menjadi catatan tersendiri sekaligus tantangan bagi Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur untuk menjaga tradisi prestasi tersebut pada tahun-tahun berikutnya.

Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, mengatakan capaian tersebut tidak datang secara instan. Persiapan para siswa dilakukan secara intensif, salah satunya melalui training center (TC) sebelum mereka tampil di tingkat nasional.

Dalam TC tersebut, pembinaan tidak lagi sebatas membahas hasil penelitian. Para siswa diarahkan untuk semakin matang dalam menyampaikan hasil penelitian, menguasai materi, membangun kepercayaan diri, serta menyiapkan mental agar mampu menghadapi tekanan kompetisi.

“Kita matangkan persiapan selama dua hari. Penelitian mereka sudah dilakukan bersama guru pendamping. Kita tinggal matangkan dari sisi presentasi dan mental siswa.

Baca Juga:  Presiden RI Joko Widodo Pimpin Ratas Tentang Antisipasi Dampak Kekeringan

Bagaimana menyuguhkan hasil penelitian mereka tanpa terganggu secara psikologisnya. Jadi mereka bisa tampil presentasi membawa hasil yang positif,” ujar Aries.

Strategi tersebut tampaknya membuahkan hasil. Jawa Timur mengirim 22 tim dalam OPSI Nasional 2026. Kontingen tersebut terdiri atas sembilan tim jenjang SMA sederajat dan 13 tim jenjang SMP sederajat.

Dari puluhan tim yang diterjunkan, Jatim berhasil membawa pulang sembilan medali.

Pada jenjang SMA/MA, kontingen Jatim menyumbangkan tiga medali perak dan satu penghargaan khusus. Sementara itu, pada jenjang SMP/MTs, Jawa Timur berhasil mengamankan enam medali, terdiri atas dua medali emas dan empat medali perunggu.

“Alhamdulillah di OPSI kemarin kita diwakili 22 tim, yang terdiri dari sembilan tim dari jenjang SMA sederajat dan 13 dari jenjang SMP sederajat.

Dari hasil itu kita berhasil membawa total sembilan medali,” kata Aries.

Bukan Sekadar Bertanding

Untuk memperbesar peluang siswa tampil maksimal, Dindik Jatim juga melibatkan sejumlah expert yang memiliki pengalaman dalam kompetisi OPSI tingkat nasional.

Kehadiran para ahli tersebut menjadi bagian dari strategi pembinaan. Mereka membantu siswa bersama guru pendamping membaca peta kompetisi, memahami tahapan final, hingga menyusun strategi menghadapi peserta dari berbagai daerah.

Dengan pola pembinaan tersebut, siswa tidak hanya dituntut memiliki penelitian yang bagus. Mereka juga harus mampu mempertanggungjawabkan penelitian di hadapan dewan juri dan menyampaikan temuan secara sistematis.

Bagi Dindik Jatim, kompetisi penelitian tidak semata-mata berburu medali. Lebih jauh, ajang seperti OPSI menjadi sarana untuk membentuk karakter akademik siswa sejak usia sekolah.

Baca Juga:  Rem Darurat Terlambat? Polisi Ungkap Alasan Masinis KA Anggrek Jadi Tersangka, Ini Jelasnya 

Aries menilai keberhasilan mempertahankan gelar juara umum selama enam kali berturut-turut merupakan gambaran pentingnya membangun budaya penelitian di lingkungan sekolah.

Menurutnya, penelitian harus ditempatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran, bukan hanya kegiatan tambahan yang dilakukan ketika ada perlombaan.

“Penelitian harus menjadi bagian dari proses pembelajaran di sekolah. Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga dilatih menemukan masalah, melakukan penelitian, dan menghasilkan solusi.

Ini yang akan membentuk kemampuan berpikir kritis dan inovatif mereka,” jelasnya.

KIR Jadi Kawah Candradimuka

Penguatan budaya penelitian tersebut juga dilakukan melalui kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di sekolah.

Melalui KIR, siswa mendapatkan ruang untuk mengembangkan berbagai proyek penelitian berdasarkan persoalan yang mereka temukan di lingkungan sekitar.

Mereka didorong untuk tidak berhenti pada kemampuan menemukan masalah. Persoalan tersebut kemudian diolah melalui proses penelitian, pengumpulan dan pengolahan data, hingga menghasilkan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pola pembelajaran berbasis problem solving itu dinilai penting karena melatih siswa melihat persoalan secara lebih kritis sekaligus mendorong lahirnya inovasi dari lingkungan terdekat mereka.

Tiga Bidang Penelitian

Dalam OPSI 2026, para peserta berkompetisi dalam sejumlah bidang penelitian. Salah satunya adalah bidang Matematika, Sains, dan Teknologi (MST) yang mencakup ilmu dasar, matematika, kimia, biologi, serta berbagai kajian sains murni.

Baca Juga:  Pasutri di Kabupaten Semarang Diciduk Bawa Sabu, Polisi Ungkap 10 Kasus Narkoba

Kemudian terdapat bidang Fisika Terapan dan Rekayasa (FTR) yang mencakup inovasi teknologi, rekayasa teknik, energi terbarukan, hingga berbagai penelitian terapan.

Sementara itu, bidang Ilmu Sosial dan Humaniora (ISH) memberikan ruang bagi peserta untuk mengeksplorasi penelitian sosial, psikologi, ekonomi, serta berbagai kajian humaniora.

Keragaman bidang tersebut membuat siswa dapat mengembangkan penelitian sesuai dengan persoalan dan ketertarikan yang mereka miliki.

Bagi Jawa Timur, sembilan medali yang berhasil diraih sekaligus menjadi hasil dari proses panjang pembinaan yang melibatkan siswa, guru pendamping, sekolah, Dindik Jatim, serta para ahli yang memberikan pendampingan.

Aries berharap prestasi enam kali beruntun tersebut tidak berhenti sebagai catatan prestasi. Sebaliknya, capaian tersebut diharapkan menjadi pemantik agar semakin banyak sekolah memperkuat ekosistem penelitian.

Ia ingin siswa tidak hanya mengejar piala dan medali dalam setiap kompetisi, tetapi mampu menghasilkan gagasan yang memiliki manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Dengan demikian, keberhasilan Jatim di OPSI Nasional 2026 bukan hanya tentang sembilan medali yang dibawa pulang. Di balik capaian tersebut terdapat pesan bahwa tradisi penelitian, kemampuan berpikir kritis, keberanian menguji gagasan, dan keberanian menawarkan solusi perlu terus ditanamkan sejak bangku sekolah.

Rentetan enam kali juara umum akhirnya menjadi modal sekaligus pekerjaan rumah bagi Jawa Timur: mempertahankan tradisi prestasi sambil terus melahirkan generasi pelajar yang mampu meneliti, berinovasi, dan menawarkan solusi atas persoalan di sekitarnya. (*)