Laporan: Budi Santoso

NGAWI | SUARAGLOBAL.COM – Krisis air bersih yang melanda Dusun Gunungsari, Desa Gunungsari, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, membuat warga harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Di tengah kondisi tersebut, bantuan datang dari Bolone MAS’e Ngawi yang menyalurkan satu tangki air bersih berkapasitas 10.000 liter untuk membantu masyarakat terdampak kekeringan.

Bantuan tersebut menjadi angin segar bagi sekitar 60 kepala keluarga (KK) yang tinggal di wilayah RT 01, RT 02, dan RT 03, RW 04. Bagi warga yang kesulitan mendapatkan pasokan air, kedatangan satu tangki air bersih bukan sekadar bantuan sosial, melainkan juga harapan untuk kembali menjalankan aktivitas rumah tangga dengan lebih tenang.

Kondisi kekeringan yang dialami warga tahun ini bahkan disebut sebagai yang terparah dalam kurun waktu puluhan tahun terakhir. Situasi itu tergambar dari pengakuan Suwantin, salah seorang warga Gunungsari, yang tak kuasa menahan haru ketika menceritakan beratnya kondisi yang mereka hadapi.

“Sejak tahun 1983, baru tahun 2026 ini kami mengalami kekeringan separah ini,” ungkap Suwantin dengan mata berkaca-kaca dan menitikkan air mata.

Berawal dari Informasi Warga yang Membutuhkan Bantuan

Penyaluran bantuan air bersih tersebut berawal dari informasi mengenai krisis air yang disampaikan Maryanto, sahabat Ngawi Peduli yang selama ini aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Baca Juga:  Nguri-uri Budaya, Ida Nurul Farida Siap Realisasikan Aspirasi Pelaku Seni

Informasi tersebut menjadi penghubung antara kondisi warga yang membutuhkan bantuan dan pihak yang dapat memberikan dukungan. Setelah mengetahui kesulitan yang dialami masyarakat Dusun Gunungsari, Bolone MAS’e Ngawi menyalurkan air bersih untuk membantu memenuhi kebutuhan warga.

Air bersih itu didatangkan langsung dari wilayah Ngrendeng, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi. Sebanyak satu tangki berkapasitas 10.000 liter disalurkan ke Dusun Gunungsari agar dapat dimanfaatkan oleh warga yang terdampak kekeringan.

Di lokasi penyaluran, kegiatan tersebut diarahkan oleh Siti Wulandari bersama Kepala Dusun Gunungsari, Kamin. Bantuan diprioritaskan bagi warga di tiga RT dalam wilayah RW 04, dengan jumlah penerima manfaat sekitar 60 KK.

Penyaluran ini menjadi bentuk respons terhadap kebutuhan masyarakat yang tengah menghadapi keterbatasan pasokan air bersih. Dalam situasi ketika sumber air mulai mengering, tambahan pasokan air sangat berarti bagi keluarga untuk mempertahankan aktivitas sehari-hari.

Tangis Haru Suwantin, Kekeringan Disebut Terparah dalam Puluhan Tahun

Bagi sebagian warga, kesulitan mendapatkan air bersih bukan sekadar persoalan kenyamanan, tetapi menyangkut kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan sehari-hari.

Air dibutuhkan untuk memasak, minum, membersihkan rumah, mencuci, serta berbagai keperluan rumah tangga lainnya. Ketika pasokan air terbatas, warga harus berupaya lebih keras agar kebutuhan tersebut tetap terpenuhi.

Baca Juga:  Pekerja Migran Indonesia Jadi Pahlawan Devisa, Muh Haris Tekankan Perlindungan Maksimal di Tengah Ketidakpastian Global

Pengakuan Suwantin memperlihatkan betapa berat kondisi yang dirasakan masyarakat Gunungsari. Ia menyebut kekeringan pada 2026 sebagai pengalaman terparah yang dirasakan sejak 1983.

Pernyataan tersebut menjadi gambaran nyata mengenai kesulitan yang dihadapi warga. Meski bantuan satu tangki air tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan kekeringan, pasokan tersebut setidaknya memberikan tambahan air yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Bagi keluarga penerima manfaat, kehadiran bantuan juga memberikan kelegaan di tengah kekhawatiran mengenai ketersediaan air untuk kebutuhan harian.

Kepala Dusun Apresiasi Kepedulian Bolone MAS’e Ngawi

Kepala Dusun Gunungsari, Kamin, menyampaikan terima kasih kepada Bolone MAS’e Ngawi atas bantuan air bersih yang diberikan kepada warganya.

Menurutnya, bantuan satu tangki air berkapasitas 10.000 liter tersebut sangat membantu masyarakat di tiga RT, dengan total sekitar 60 KK yang sedang menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih.

Apresiasi tersebut sekaligus menjadi harapan agar kepedulian terhadap warga terdampak kekeringan tidak berhenti pada satu kali penyaluran. Dukungan dari berbagai pihak dinilai penting untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar selama kondisi kekeringan masih berlangsung.

Keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam membantu warga yang mengalami kesulitan juga menjadi bagian penting dari semangat gotong royong. Ketika persoalan air bersih mulai membebani kehidupan sehari-hari, kepedulian dan kerja sama dapat membantu meringankan dampak yang dirasakan masyarakat.

Baca Juga:  Polres Sampang Bekuk Kurir Sabu: Pengungkapan di Tengah Program Swasembada Pangan

Satu Tangki Air, Sejuta Arti bagi Warga

Aksi sosial Bolone MAS’e Ngawi di Dusun Gunungsari menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sesama dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Bantuan air bersih yang disalurkan menjadi bentuk solidaritas kepada masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan.

Bantuan tersebut juga diharapkan dapat menginspirasi komunitas, organisasi sosial, serta berbagai elemen masyarakat lainnya untuk ikut memperhatikan kebutuhan warga yang terdampak kekeringan.

Bagi warga Gunungsari, satu tangki air bersih memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar jumlah 10.000 liter. Air tersebut menjadi penopang kebutuhan sehari-hari di tengah terbatasnya pasokan, sekaligus menghadirkan rasa lega bagi keluarga yang sedang berjuang menghadapi musim kemarau.

Di tengah kondisi kekeringan yang disebut belum pernah separah ini sejak 1983, kepedulian semacam itu menjadi pengingat bahwa persoalan masyarakat dapat dihadapi bersama melalui gotong royong dan bantuan yang tepat sasaran.

Harapannya, dukungan terhadap warga Dusun Gunungsari dapat terus berlanjut sehingga kebutuhan air bersih tetap terpenuhi dan masyarakat tidak harus menghadapi masa sulit ini sendirian. (*)