Laporan: Wahyu Widodo

KAB. SEMARANG | SUARAGLOBAL.COM – Belum tuntas membangun, kembali maju menjadi pilihan. Itulah alasan yang disampaikan M. Khoirudin Bagas, A.Md., R.O., saat kembali mendaftarkan diri sebagai bakal calon petahana Kepala Desa Muncar, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, untuk periode 2027–2035.

Bagas ingin melanjutkan sejumlah program pembangunan yang telah dirintis selama masa kepemimpinannya. Mulai dari pengembangan desa wisata, pemenuhan kebutuhan air bersih melalui optimalisasi embung, hingga penguatan ekonomi masyarakat lewat budidaya ikan, pertanian, dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurut Bagas, masih ada sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan agar program pembangunan yang telah direncanakan bersama masyarakat benar-benar memberikan manfaat lebih luas bagi warga.

Ia menegaskan, keputusan kembali maju dalam pemilihan kepala desa (Pilkades) bukan semata-mata untuk mempertahankan jabatan. Baginya, ada tanggung jawab yang perlu dituntaskan setelah pembangunan dirintis selama periode sebelumnya.

“Tujuan kami ingin melanjutkan misi-misi yang belum terselesaikan. Ibarat membangun rumah, saya yang memulai, tetapi rumahnya belum selesai. Saya merasa harus bertanggung jawab untuk menuntaskannya,” kata Bagas.

Pernyataan tersebut menjadi gambaran arah pembangunan yang ingin dilanjutkan Bagas apabila kembali memperoleh kepercayaan masyarakat Desa Muncar.

Tiga Prioritas: Wisata, Air Bersih, dan Ketahanan Pangan

Bagas menyebut pengembangan desa wisata, penyediaan air bersih, serta penguatan ketahanan pangan melalui sektor perikanan sebagai sejumlah prioritas yang ingin dilanjutkan.

Ketiga bidang tersebut dinilai memiliki keterkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat sekaligus peluang untuk menggerakkan perekonomian desa.

Di sektor pariwisata, Bagas ingin mengembangkan potensi alam Desa Muncar dengan tetap mengangkat kekayaan budaya lokal. Menurutnya, desa wisata tidak seharusnya hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas dan tradisi masyarakat kepada pengunjung maupun generasi muda.

Ia menilai kebudayaan Jawa perlu terus dirawat agar tidak terkikis oleh perubahan zaman dan pengaruh budaya dari luar.

“Kami ingin membangun ekonomi melalui desa wisata yang sudah dirintis sejak awal. Kami juga ingin mengangkat kebudayaan, khususnya budaya Jawa, yang mulai terkikis oleh perkembangan budaya dari luar,” ujarnya.

Pengembangan wisata berbasis budaya tersebut diharapkan mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Kehadiran destinasi wisata juga berpotensi menggerakkan sektor pendukung, seperti kuliner, kerajinan, penginapan, serta berbagai produk lokal yang dapat dipasarkan kepada pengunjung.

Namun, pengembangan destinasi wisata tentu membutuhkan pengelolaan yang berkelanjutan, promosi, serta keterlibatan masyarakat agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara lebih luas.

Embung Sudah Dibangun, Distribusi Air Bersih Jadi Pekerjaan Rumah

Selain pariwisata, persoalan air bersih menjadi perhatian penting dalam agenda pembangunan Desa Muncar.

Bagas mengatakan, pemerintah desa telah membangun embung sebagai bagian dari upaya mendukung ketersediaan air. Meski demikian, keberadaan infrastruktur tersebut belum sepenuhnya menjawab kebutuhan warga karena jaringan pengolahan dan distribusi air masih perlu dituntaskan.

Menurutnya, embung yang sudah dibangun perlu didukung sistem penyaringan serta jaringan penyaluran yang memadai agar air dapat dimanfaatkan masyarakat.

Bagas menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya, sistem pengolahan air yang direncanakan diperkirakan mampu melayani sekitar 800 kepala keluarga (KK).

“Kami sudah membuat embung, tetapi airnya belum didistribusikan kepada masyarakat. Kami optimistis program ini bisa membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga,” katanya.

Baca Juga:  BPJS Ketenagakerjaan Permudah Perlindungan Pekerja Informal Lewat Iuran Diskon 50 Persen, Ini Jelasnya 

Target pelayanan sekitar 800 KK tersebut menjadi salah satu rencana yang perlu diwujudkan melalui penyelesaian infrastruktur pendukung.

Bagi masyarakat, ketersediaan air bersih bukan hanya menyangkut kebutuhan rumah tangga, melainkan juga dapat menunjang kegiatan pertanian, budidaya ikan, serta berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

Karena itu, penyelesaian sistem distribusi air menjadi pekerjaan penting agar pembangunan embung dapat memberikan manfaat nyata bagi warga.

Budidaya Ikan Jadi Strategi Regenerasi Petani

Di bidang ketahanan pangan, Bagas menyoroti tantangan regenerasi petani. Ia menyebut sebagian petani di Desa Muncar telah berusia di atas 50 tahun sehingga diperlukan upaya untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam sektor produktif.

Salah satu langkah yang dikembangkan pemerintah desa adalah budidaya ikan.

Menurut Bagas, usaha perikanan memiliki peluang untuk tumbuh karena didukung ketersediaan sumber air dan lahan yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

Pemerintah desa pun mendorong warga terlibat dalam pengelolaan kolam budidaya ikan. Usaha tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menjadi alternatif sumber pendapatan bagi keluarga dan generasi muda.

“Kami melihat budidaya ikan cukup menjanjikan. Potensi airnya tersedia dan kami terus melakukan pembinaan kepada masyarakat agar usaha ini bisa berkembang,” ujarnya.

Pengembangan sektor perikanan juga menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan pekerjaan produktif di pedesaan. Dengan pembinaan yang tepat, budidaya ikan berpeluang dikembangkan sebagai usaha masyarakat yang berkelanjutan.

Meski demikian, keberhasilannya tetap membutuhkan pengelolaan yang baik, pendampingan teknis, akses pemasaran, serta perhitungan biaya produksi agar usaha warga dapat berkembang secara ekonomis.

Lahan Produktif dan Tanaman Buah Ikut Dikembangkan

Bagas menegaskan, penguatan ekonomi masyarakat tidak berhenti pada sektor perikanan.

Pemerintah desa juga mendorong pemanfaatan lahan yang belum produktif untuk kegiatan pertanian dan perkebunan. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah penyaluran bantuan bibit tanaman buah kepada masyarakat, termasuk bibit durian.

Selain durian, warga turut mengembangkan tanaman petai dan sejumlah tanaman lainnya.

Pengembangan tanaman produktif tersebut diharapkan memberikan manfaat dalam jangka panjang. Selain meningkatkan pemanfaatan lahan, tanaman buah dan perkebunan berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan apabila dikelola secara berkelanjutan.

Program tersebut sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal, tanpa hanya bergantung pada satu sektor ekonomi.

Enam Dusun Dipetakan Berdasarkan Potensi UMKM

Penguatan ekonomi Desa Muncar juga diarahkan pada pengembangan UMKM.

Bagas mengatakan, pemerintah desa telah melakukan pemetaan potensi ekonomi berdasarkan karakteristik enam dusun. Pemetaan tersebut mencakup dusun kuliner, kerajinan, budaya, religi, agro, dan homestay.

Pengelompokan ini diharapkan memudahkan pemerintah desa dalam menentukan pola pembinaan, mengembangkan produk lokal, serta memperkuat potensi unggulan masing-masing wilayah.

Dengan pemetaan tersebut, setiap dusun diharapkan memiliki peluang untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi desa sesuai dengan sumber daya yang dimiliki.

Pemerintah desa juga mendorong terbentuknya paguyuban UMKM dan pertemuan rutin sebagai wadah koordinasi para pelaku usaha.

Melalui forum tersebut, para pelaku UMKM diharapkan dapat bertukar pengalaman, meningkatkan kemampuan usaha, serta membangun kerja sama untuk memperluas pasar.

Baca Juga:  Polda Jateng Ungkap Kasus Pornografi, Irjen Pol Ahmad Luthfi: Polri Akan Lindungi Anak-Anak

Pengembangan UMKM juga memiliki keterkaitan dengan sektor pariwisata. Jika kunjungan wisata meningkat, pelaku usaha kuliner, kerajinan, dan homestay berpeluang memperoleh manfaat ekonomi.

Namun, peluang tersebut perlu diikuti peningkatan kualitas produk, pelayanan, promosi, serta pengelolaan usaha agar potensi yang ada tidak berhenti sebatas pemetaan.

Bagas Mengaku Mendapat Dukungan Warga

Menjelang Pilkades Muncar, Bagas mengaku merasakan antusiasme masyarakat yang mendorong dirinya kembali mencalonkan diri.

Ia mengatakan, dukungan datang dari sejumlah warga, baik secara pribadi maupun kelompok. Dukungan tersebut menjadi salah satu motivasinya untuk melanjutkan program pembangunan yang dinilai masih membutuhkan penyelesaian.

Meski demikian, Bagas menyadari bahwa keputusan akhir berada di tangan masyarakat melalui mekanisme pemilihan.

Ia berharap warga menggunakan hak pilih secara bijaksana, menjaga suasana tetap kondusif, serta menghindari hal-hal yang dapat memicu perpecahan di tengah masyarakat.

“Ini kesempatan masyarakat untuk menentukan masa depan Desa Muncar selama delapan tahun ke depan. Harapan kami, masyarakat mendapatkan petunjuk dari Allah SWT dan bisa memilih dengan hati yang jernih serta bertanggung jawab terhadap pilihannya,” kata Bagas.

Terkait berbagai isu yang berkembang menjelang pemilihan, Bagas memilih untuk tidak larut dalam perdebatan. Ia menegaskan akan tetap berfokus pada program kerja.

“Kami fokus pada program saja. Kalau memang ada hal yang berkaitan langsung dengan kami, tentu kami akan kooperatif. Biarlah waktu yang menjawab isu-isu yang berkembang,” ujarnya.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa Bagas ingin mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan pembangunan dan program yang ditawarkan, meskipun berbagai dinamika menjelang pemilihan tetap menjadi bagian dari proses demokrasi desa.

Warga Menilai Pembangunan Desa Mulai Terlihat

Sejumlah warga menyampaikan pandangan positif terhadap perkembangan Desa Muncar selama kepemimpinan Bagas. Penilaian tersebut terutama berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, pengembangan wisata, serta kepedulian terhadap masyarakat.

Eni Sulistiawati (62), warga Desa Muncar, mengaku telah mengenal Bagas selama bertahun-tahun. Menurutnya, setiap pemimpin tentu memiliki kelebihan dan kekurangan, tetapi ia menilai sisi positif Bagas lebih menonjol.

“Semua manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, menurut saya, kelebihan Pak Bagas lebih banyak. Saya menyampaikan ini bukan karena disuruh siapa pun, tetapi berdasarkan penilaian saya sendiri,” kata Eni.

Ia juga menilai Bagas memiliki kepedulian sosial terhadap warga. Menurut Eni, Bagas kerap hadir ketika masyarakat mengalami musibah maupun menggelar hajatan.

Eni menambahkan, sejumlah pembangunan yang pada awalnya terlihat belum sempurna kini mulai menunjukkan hasil dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Ia mencontohkan pembangunan jembatan gantung serta pengembangan fasilitas wisata, termasuk homestay.

“Memang pada awalnya pembangunan itu terlihat seperti terburu-buru. Namun, sekarang hasilnya sudah nyata dan masyarakat juga bisa merasakan manfaatnya,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Nurkholik (48). Ia menilai Bagas sebagai sosok yang ramah, jujur, dan rendah hati.

Menurut Nurkholik, selama memimpin desa, Bagas dinilai mampu menjalankan pelayanan kepada masyarakat dengan baik. Ia berharap kualitas pelayanan tersebut tetap dipertahankan, termasuk dalam membantu warga yang membutuhkan.

“Siapa pun masyarakatnya harus dilayani dan dibantu,” kata Nurkholik.

Baca Juga:  Sosok Misterius di Bawah Jembatan Kalitanggi Tengaran, Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tak Bernyawa

Sementara itu, tokoh masyarakat Mulyadi (62) menilai pembangunan infrastruktur di Desa Muncar mengalami perkembangan yang cukup merata.

Ia mencontohkan kondisi jalan di sejumlah wilayah desa yang dinilainya semakin baik. Mulyadi juga menyebut Bagas sebagai sosok yang mudah diajak bekerja sama dalam kegiatan pembangunan.

Meski memberikan penilaian positif, Mulyadi berharap pembangunan yang sudah berjalan tidak membuat pemerintah desa mengabaikan pekerjaan yang masih perlu diperbaiki.

“Yang sudah bagus harus dipertahankan, sedangkan yang masih kurang perlu diperbaiki,” ujarnya.

Praktisi Hukum Ingatkan Warga Jangan Mudah Terpengaruh Isu

Menjelang Pilkades Muncar, praktisi hukum Muhammad Sofyan turut mengingatkan masyarakat agar menggunakan hak pilih secara bijaksana dengan mempertimbangkan rekam jejak, program, dan komitmen para calon.

Menurut Sofyan, pemilihan kepala desa merupakan bagian dari proses demokrasi di tingkat lokal yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menentukan pemimpin sesuai aspirasi mereka.

Ia menilai, selama delapan tahun kepemimpinan Bagas, terdapat sejumlah perubahan yang dapat diamati, terutama dalam pengembangan desa wisata, pembangunan infrastruktur, serta pengembangan kesenian dan kebudayaan.

Salah satu hal yang disorotnya adalah pengembangan kawasan wisata yang sebelumnya berupa lahan semak belukar menjadi destinasi rekreasi bagi masyarakat.

Menurut Sofyan, perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penataan lingkungan, tetapi juga membuka peluang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi warga.

Ia juga menilai perkembangan infrastruktur di sejumlah wilayah desa dan partisipasi masyarakat, termasuk kalangan pemuda, menjadi faktor penting dalam proses pembangunan.

Namun, Sofyan mengingatkan agar masyarakat tidak langsung mempercayai setiap informasi yang beredar menjelang pemilihan, terutama jika belum jelas sumber dan kebenarannya.

Ia meminta warga memeriksa informasi secara cermat dan membandingkannya dengan fakta serta bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Masyarakat harus bijaksana dan cermat dalam mencermati isu-isu yang berkembang. Informasi yang beredar perlu dikorelasikan dengan fakta yang sebenarnya,” kata Sofyan.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menilai program pembangunan yang telah dilaksanakan sekaligus mencermati rencana kerja yang ditawarkan seluruh calon sebelum menentukan pilihan.

Pilkades Jadi Penentu Arah Pembangunan Muncar

Pilkades Muncar periode 2027–2035 akan menjadi momentum bagi masyarakat untuk menentukan arah pembangunan desa selama delapan tahun mendatang.

Bagi Bagas, kesempatan kembali maju merupakan upaya melanjutkan program yang menurutnya belum sepenuhnya tuntas. Desa wisata, penyelesaian distribusi air bersih, budidaya ikan, pengembangan pertanian, dan penguatan UMKM menjadi sejumlah agenda yang ingin terus didorong.

Sementara itu, warga memiliki ruang untuk menilai hasil pembangunan yang telah berjalan, mengidentifikasi kekurangan, serta membandingkan program yang ditawarkan para calon.

Dukungan dari sebagian masyarakat menjadi salah satu modal bagi Bagas. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan pemilih melalui proses demokrasi yang harus berlangsung secara bijaksana dan kondusif.

Pada akhirnya, tantangan pembangunan Desa Muncar bukan hanya melanjutkan program yang sudah dirintis, melainkan memastikan setiap rencana dapat diwujudkan, manfaatnya dirasakan masyarakat, dan pengelolaannya berjalan secara berkelanjutan.

Dengan berbagai pekerjaan yang masih menanti, Pilkades Muncar bukan sekadar perebutan kursi kepala desa, tetapi juga momentum untuk menentukan masa depan pembangunan, pelayanan publik, dan kesejahteraan warga. (*)