Laporan: Wahyu Widodo

SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Membangun generasi bangsa tidak cukup hanya dengan mengajarkan anak membaca, menulis, dan berhitung. Jauh lebih penting, menanamkan kejujuran, kedisiplinan, sopan santun, serta kepedulian terhadap sesama sejak usia dini. Semangat inilah yang dibawa Kapolres Salatiga AKBP Afrito Marbaro saat mengunjungi TK Kemala Bhayangkari 31 Salatiga, Senin (26/10/2026).

Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi. Di balik suasana hangat bersama para guru dan anak-anak, tersimpan pesan penting tentang tanggung jawab bersama dalam membentuk karakter generasi penerus bangsa. Melalui program Polisi Peduli Pendidikan, Polres Salatiga berupaya hadir lebih dekat dengan lingkungan sekolah sekaligus memperkenalkan sosok polisi sebagai sahabat yang siap melindungi dan memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Kapolres Salatiga AKBP Afrito Marbaro, S.H., S.I.K., M.H., M.Tr.Mil., M.Han., hadir didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Salatiga Ny. Ita Afrito Marbaro beserta pengurus Bhayangkari Cabang Salatiga.

Kedatangan rombongan disambut penuh keceriaan oleh para guru dan peserta didik TK Kemala Bhayangkari 31 Salatiga. Suasana akrab dan bersahabat mewarnai kegiatan tersebut, memperlihatkan bahwa kedekatan antara kepolisian dan anak-anak dapat dibangun melalui pendekatan yang ramah, menyenangkan, serta sesuai dengan dunia mereka.

Pendidikan Bukan Sekadar Membaca dan Berhitung

Dalam kunjungan tersebut, AKBP Afrito Marbaro menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini mempunyai peran strategis dalam membangun fondasi kepribadian. Pada fase inilah anak mulai mengenali lingkungan, memahami aturan, belajar berinteraksi, serta membentuk kebiasaan yang akan memengaruhi perilakunya ketika tumbuh dewasa.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari kemampuan akademik. Anak juga perlu dibimbing agar memiliki karakter yang baik, menghormati orang lain, berani berkata jujur, disiplin, dan mampu menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.

“Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang harus kita persiapkan sejak dini. Mereka perlu mendapatkan kasih sayang, pendampingan, dan pendidikan yang baik agar tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, disiplin, jujur, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. Pembentukan karakter harus dimulai dari lingkungan keluarga dan diperkuat melalui pendidikan di sekolah,” ungkap AKBP Afrito Marbaro, S.H., S.I.K., M.H., M.Tr.Mil., M.Han.

Baca Juga:  Revitalisasi Pemasyarakatan di Jawa Tengah: Evaluasi Strategi Kebijakan Permenkumham 35/2018 dalam Pelayanan Tahanan

Pesan tersebut menegaskan bahwa pembentukan karakter anak bukan pekerjaan instan. Dibutuhkan proses berkelanjutan, pendampingan yang konsisten, serta keteladanan dari orang-orang dewasa yang berada di sekitar mereka.

Keluarga menjadi lingkungan pertama bagi anak untuk mengenal nilai-nilai kehidupan. Sementara itu, sekolah berperan memperkuat kebiasaan positif melalui kegiatan pembelajaran, interaksi dengan guru, serta hubungan sosial bersama teman sebaya.

Bhayangkari Dorong Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bhayangkari Cabang Salatiga Ny. Ita Afrito Marbaro mengajak para guru untuk terus memberikan pendampingan terbaik kepada peserta didik. Proses pembelajaran diharapkan berlangsung secara kreatif, menyenangkan, dan menyesuaikan tahap perkembangan anak usia dini.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar anak dapat memahami nilai-nilai positif tanpa merasa tertekan. Melalui contoh nyata, kebiasaan sehari-hari, dan interaksi yang hangat, anak-anak diharapkan lebih mudah mengenali perilaku baik serta menerapkannya dalam kehidupan.

Keteladanan orang dewasa menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat yang mereka dengar, tetapi juga mengamati bagaimana orang tua, guru, dan orang-orang di sekitarnya berbicara, bersikap, menyelesaikan masalah, serta memperlakukan orang lain.

Karena itu, suasana pendidikan yang positif perlu dibangun melalui kerja sama antara tenaga pendidik dan keluarga. Dengan pendampingan yang tepat, sekolah dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengembangkan kemampuan, membangun rasa percaya diri, dan belajar menghargai perbedaan.

Polisi Ingin Hadir sebagai Sahabat Anak

Baca Juga:  Tempura ala Squid Game di Salatiga: Inak Inuk Tawarkan Sensasi Rp15 Ribu yang Bikin Deg-degan

Tak hanya menyoroti pentingnya pendidikan karakter, Kapolres Salatiga juga mendorong penanaman nilai kebersamaan, persahabatan, dan kepedulian sosial sejak dini.

Anak-anak perlu dibiasakan untuk saling menyayangi, berbagi dengan teman, menghormati guru dan orang tua, serta menghindari tindakan yang dapat menyakiti orang lain. Kebiasaan sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik.

Di sisi lain, pengenalan terhadap sosok polisi juga menjadi bagian penting dari pendekatan yang dilakukan. Kepolisian ingin membangun pemahaman bahwa polisi bukan sosok yang harus ditakuti, melainkan sahabat masyarakat yang hadir untuk membantu, melindungi, dan memberikan rasa aman.

“Kami ingin anak-anak mengenal polisi sebagai sahabat yang hadir untuk melindungi, membantu, dan memberikan rasa aman kepada masyarakat. Sejak kecil, anak-anak perlu diajarkan untuk berbuat baik, menghormati orang lain, menaati aturan, serta berani menyampaikan kepada guru atau orang tua apabila mengalami atau melihat sesuatu yang membuat mereka merasa tidak aman,” tambah AKBP Afrito Marbaro., S.H., S.I.K., M.H., M.Tr.Mil., M.Han.

Pesan tersebut sekaligus menekankan pentingnya membangun keberanian anak untuk mencari pertolongan ketika menghadapi situasi yang membuat mereka tidak nyaman atau merasa terancam.

Anak-anak perlu memahami bahwa mereka dapat bercerita kepada orang dewasa tepercaya, seperti orang tua dan guru, ketika mengalami atau melihat sesuatu yang berpotensi membahayakan keselamatan mereka. Dengan begitu, lingkungan pendidikan diharapkan semakin memperhatikan aspek perlindungan anak, selain proses belajar mengajar.

Perlindungan Anak Butuh Sinergi Bersama

AKBP Afrito Marbaro menegaskan bahwa kepedulian terhadap pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Keluarga, tenaga pendidik, masyarakat, pemerintah, dan kepolisian memiliki peran masing-masing yang saling melengkapi dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Sinergi tersebut dibutuhkan agar anak memperoleh lingkungan yang mendukung perkembangan fisik, sosial, dan emosional. Selain mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan potensi, anak juga harus terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan serta memperoleh ruang yang aman untuk menyampaikan perasaan dan kebutuhan mereka.

Baca Juga:  Ida Nurul Farida Ingatkan Bahaya Pengasuhan Anak di Era Modern, Keluarga Harus Jadi Benteng Utama

Perhatian terhadap pendidikan sejak usia dini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Sebaliknya, kepedulian tersebut perlu diwujudkan melalui pendampingan berkelanjutan, komunikasi yang baik antara sekolah dan keluarga, serta keterlibatan berbagai pihak dalam menciptakan lingkungan yang ramah anak.

Melalui program Polisi Peduli Pendidikan, Polres Salatiga berharap hubungan harmonis antara kepolisian dan dunia pendidikan semakin kuat. Program ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan nilai keamanan, ketertiban, kedisiplinan, dan kepedulian sosial menggunakan pendekatan yang mudah dipahami anak-anak.

Wujudkan Generasi Cerdas, Bahagia, dan Berkarakter

Kunjungan Kapolres Salatiga ke TK Kemala Bhayangkari 31 Salatiga menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa turut ditentukan oleh perhatian yang diberikan kepada anak-anak hari ini.

Membangun generasi berkualitas membutuhkan lebih dari sekadar fasilitas pendidikan. Anak-anak memerlukan kasih sayang, rasa aman, bimbingan, kesempatan untuk berkembang, serta teladan yang baik dari lingkungan sekitarnya.

Sejalan dengan semangat “Polisi Bersama Masyarakat”, Polres Salatiga berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat, termasuk mendukung dunia pendidikan dan pembentukan karakter generasi penerus bangsa sejak usia dini.

Dengan kolaborasi yang berkelanjutan antara Polri, sekolah, orang tua, dan masyarakat, anak-anak diharapkan dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, bahagia, berkarakter, peduli terhadap sesama, serta siap menyongsong masa depan.

Sebab, menanamkan kebaikan sejak dini bukan hanya tentang membentuk perilaku anak hari ini, melainkan juga menyiapkan fondasi bagi lahirnya generasi yang bertanggung jawab dan mampu memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara. (*)