Laporan: Ninis Indrawati

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM — Semangat persatuan membahana di Lapangan Mapolda Jawa Timur, Rabu (28/10/2026). Sebanyak 5.000 mahasiswa, pemuda, dan santri dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur berkumpul dalam Konsolidasi Akbar Mahasiswa, Pemuda, dan Santri Jawa Timur 2026 untuk meneguhkan komitmen menjaga keutuhan bangsa.

Berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, kegiatan tersebut menjadi momentum bagi generasi muda untuk menyatukan langkah, menolak perpecahan, menjauhi narkoba, serta memperkuat persatuan di tengah berbagai tantangan sosial dan perkembangan arus informasi digital.

Ribuan peserta yang memadati lapangan Mapolda Jatim membawa pesan bahwa pemuda bukan sekadar penonton perjalanan bangsa. Mereka memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan, penjaga nilai kebangsaan, sekaligus generasi penerus yang akan menentukan arah Indonesia menuju masa depan.

Konsolidasi akbar tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan semangat mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan kalangan santri dalam satu komitmen bersama: menjaga persatuan tanpa kehilangan sikap kritis, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

Kapolda Jatim: Pemuda Jadi Kekuatan Menuju Indonesia Emas 2045

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Dekananto Eko Purwono menyampaikan bahwa konsolidasi tersebut menjadi pemantik penting untuk memperkuat persatuan sekaligus mendorong keterlibatan aktif generasi muda dalam pembangunan.

Menurutnya, energi dan semangat anak muda merupakan modal penting bagi Jawa Timur maupun Indonesia dalam mempersiapkan diri menyongsong Indonesia Emas 2045.

“Generasi muda Jawa Timur yang akan mengisi Indonesia Emas 2045 hadir dengan semangat yang tinggi. Dengan semangat persatuan dan kebersamaan, mereka bertekad untuk mengisi pembangunan Jawa Timur agar lebih baik dan lebih maju,” ujar Irjen Pol Dekananto.

Kapolda menilai, semangat kebersamaan yang ditunjukkan ribuan peserta harus terus dipelihara dan diwujudkan melalui tindakan nyata. Persatuan tidak cukup hanya diucapkan dalam deklarasi, tetapi perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam menyikapi perbedaan pandangan dan menjaga hubungan sosial di tengah masyarakat.

Ia juga memberikan apresiasi atas sikap tegas para peserta yang menyatakan komitmen menolak perpecahan dan peredaran narkoba.

Baca Juga:  Libur HUT ke-80 RI, Satpas Colombo Surabaya Tutup 17–18 Agustus, Layanan SIM Kembali Normal 19 Agustus

Bagi Kapolda, mahasiswa, pemuda, dan santri mempunyai posisi strategis dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat agar tetap kondusif. Peran tersebut semakin penting karena generasi muda merupakan bagian besar dari kekuatan sosial yang dapat mendorong kemajuan daerah.

Komitmen menjauhi narkoba juga menjadi pesan penting dalam kegiatan tersebut. Ancaman narkotika bukan hanya persoalan hukum, melainkan juga persoalan masa depan generasi penerus. Karena itu, keterlibatan pemuda dalam membangun lingkungan yang sehat dan bebas narkoba diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan di tengah masyarakat.

Pangdam V/Brawijaya: Negara Menanti Karya Generasi Muda

Senada dengan Kapolda Jatim, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Piek Budyakto mengajak seluruh elemen generasi muda untuk tidak berhenti berkarya dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Ia menegaskan bahwa kemajuan bangsa membutuhkan keterlibatan anak muda melalui kontribusi konkret, baik dalam lingkup keluarga, lingkungan tempat tinggal, masyarakat, maupun kehidupan bernegara.

“Teruslah berkarya untuk kemajuan diri kalian sendiri, keluarga, lingkungan, masyarakat, dan negara kita, NKRI. Negara dan bangsa menanti karya kalian,” tegas Mayjen TNI Piek Budyakto.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan melalui kerja nyata. Kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kepedulian sosial, dan kemauan untuk berkolaborasi merupakan sejumlah modal yang dapat dimanfaatkan generasi muda untuk menjawab tantangan zaman.

Menurut Pangdam, pemuda memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam berbagai bidang pembangunan. Kontribusi itu tidak harus selalu berupa sesuatu yang besar, tetapi dapat dimulai dari kegiatan sederhana yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia juga menegaskan komitmen Kodam V/Brawijaya bersama Polda Jatim untuk mengawal stabilitas wilayah serta mendukung pelaksanaan program pemerintah.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi Jawa Timur tetap kondusif sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas dan pembangunan berlangsung dengan baik.

Sekda Jatim Ingatkan Pemuda Tetap Kritis, tetapi Solutif

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Dr. Adhy Karyono menekankan pentingnya mempertahankan daya kritis mahasiswa dan pemuda dalam mengawal jalannya pembangunan.

Baca Juga:  Rudy T Mintarto, Sang Arsitek Anggrek yang Kobarkan Semangat “Indonesia Raya” Tiga Stanza di Makam W.R. Soepratman

Menurutnya, sikap kritis merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat yang dinamis. Mahasiswa dan pemuda memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, memberikan masukan, serta mengingatkan apabila terdapat persoalan yang membutuhkan perhatian.

Namun, sikap kritis tersebut perlu dibarengi dengan cara penyampaian yang bijak dan berorientasi pada penyelesaian masalah.

“Janganlah berhenti untuk kritis, tetapi tetap solutif. Perbedaan harus kita sikapi dengan bijak, tetapi kita tetap harus menjaga persatuan,” pesan Adhy.

Pernyataan itu menegaskan bahwa persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan pendapat. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang untuk bertukar gagasan dan memperbaiki kebijakan selama disampaikan secara bertanggung jawab.

Dalam kehidupan demokratis, kritik yang disertai data, argumentasi, dan tawaran solusi dapat menjadi masukan berharga bagi pemerintah. Dengan demikian, partisipasi generasi muda tidak berhenti pada penyampaian aspirasi, tetapi juga berkontribusi terhadap upaya mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

Pesan Sekda Jatim tersebut sekaligus menjadi pengingat agar semangat kebangsaan tidak digunakan untuk membungkam perbedaan. Persatuan justru perlu dirawat melalui dialog, sikap saling menghormati, dan kesediaan mendengarkan pandangan pihak lain.

Cipayung Plus Ajak Pemuda Tangkal Hoaks di Media Sosial

Dari kalangan pemuda, Ketua Cipayung Plus Jawa Timur Hendra Prayogi mengajak seluruh peserta agar semakin cerdas dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial.

Menurutnya, derasnya arus informasi di ruang digital menuntut generasi muda memiliki kemampuan memilah informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya. Berita bohong atau hoaks berpotensi memicu kesalahpahaman, memperbesar konflik, dan merusak hubungan antarkelompok masyarakat.

Karena itu, pemuda diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas sumber maupun kebenarannya.

“Kami mengajak seluruh pemuda untuk sama-sama menghindari hoaks dan lain sebagainya. Ini poin-poin inti dari kegiatan ini, selain komitmen kami untuk menjaga persatuan sebagaimana yang sudah kami laksanakan dalam deklarasi,” pungkas Hendra.

Ajakan tersebut relevan dengan kehidupan generasi muda yang tidak terpisahkan dari media sosial. Di satu sisi, ruang digital memberikan kesempatan luas untuk berbagi gagasan, menyampaikan aspirasi, dan membangun jejaring. Namun, di sisi lain, informasi yang tidak terverifikasi dapat menyebar dengan cepat dan menimbulkan dampak negatif.

Baca Juga:  Jumat Berkah, Satlantas Gresik Tak Hanya Beri Sembako, Tanamkan Kepedulian Sosial di Pesantren

Sikap kritis diperlukan agar pengguna media sosial tidak sekadar menjadi penerima informasi. Memeriksa sumber berita, membandingkan informasi dengan sumber tepercaya, serta tidak langsung meneruskan kabar yang meragukan merupakan langkah sederhana untuk mencegah penyebaran hoaks.

Dengan demikian, komitmen menjaga persatuan juga perlu diwujudkan dalam perilaku digital yang bertanggung jawab.

Sumpah Pemuda Harus Melampaui Seremoni

Konsolidasi Akbar Mahasiswa, Pemuda, dan Santri Jawa Timur 2026 menjadi momentum untuk kembali menegaskan arti penting Sumpah Pemuda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 tetap relevan untuk menghadapi tantangan masa kini, mulai dari ancaman narkoba, penyebaran informasi palsu, potensi perpecahan sosial, hingga tuntutan agar generasi muda mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Pesan yang disampaikan Kapolda Jatim, Pangdam V/Brawijaya, Sekda Jatim, dan perwakilan Cipayung Plus bertemu pada satu titik: generasi muda perlu menjaga persatuan, berani berpikir kritis, menghindari tindakan yang merugikan diri sendiri maupun masyarakat, serta menghasilkan karya yang bermanfaat.

Dengan melibatkan ribuan mahasiswa, pemuda, dan santri dari berbagai daerah, kegiatan tersebut memperlihatkan pentingnya ruang kolaborasi lintas kelompok untuk memperkuat kesadaran kebangsaan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan komitmen yang disuarakan dalam deklarasi tidak berhenti sebagai pernyataan di atas panggung. Nilai-nilai tersebut perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata di kampus, pesantren, organisasi kepemudaan, lingkungan keluarga, dan masyarakat.

Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya semangat yang dikobarkan dalam peringatan Sumpah Pemuda, tetapi juga oleh konsistensi generasi mudanya dalam menjaga persaudaraan, menolak narkoba, melawan hoaks, serta memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa.

Dari Lapangan Mapolda Jatim, pesan itu kembali digaungkan: berbeda bukan berarti terpecah, kritis bukan berarti bermusuhan, dan menjadi pemuda bukan sekadar soal usia, melainkan tentang keberanian mengambil peran untuk masa depan Indonesia. (*)