Pagi Ceria di TK Gandulan, Semangat Belajar Anak-Anak Menginspirasi, Hadirkan Kegiatan Edukatif dan Inspiratif

Laporan: Wahono

TEMANGGUNG | SUARAGLOBAL.COM – Udara pagi yang dingin di lereng pegunungan Temanggung tak menyurutkan semangat puluhan anak untuk datang ke sekolah. Di pelataran TK Dharma Wanita Gandulan, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Kamis (30/4/26), keceriaan anak-anak justru menghangatkan suasana dalam kegiatan bertajuk “Pagi Ceria dan Bermain Bersama”.

Kegiatan ini menjadi bagian dari semarak menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026. Sejak pagi, tawa riang anak-anak terdengar bersahut-sahutan. Musik ceria mengiringi berbagai permainan dan pertunjukan sederhana yang disiapkan oleh pihak sekolah bersama wali murid.

Di tengah kemeriahan itu, sebuah kisah menyentuh hadir dari seorang bocah laki-laki bernama Azril. Ia tampak lincah menari dalam pertunjukan kuda lumping bersama teman-temannya. Gerakannya penuh semangat, wajahnya ceria, dan sorot matanya berbinar.

Siapa sangka, Azril adalah sosok yang sempat viral di media sosial. Wajahnya kala itu tampak legam dipenuhi debu arang. Bukan karena bermain, melainkan karena kesehariannya yang harus menunggu ibunya bekerja di pabrik arang selepas sekolah.

Baca Juga:  Perangkat Desa Jadi Garda Terdepan: Satresnarkoba Pasuruan Perkuat Edukasi Anti-Narkoba di Gading Maju

Tempat sederhana itu menjadi ruang bermain sekaligus tempat berteduh bagi Azril di tengah keterbatasan ekonomi keluarganya. Namun di sekolah, ia hadir sebagai anak yang memiliki hak yang sama: belajar, bermain, tertawa, dan bermimpi.

Keceriaan semakin terasa saat anak-anak berlarian membawa kitiran. Baling-baling warna-warni itu berputar kencang tertiup angin khas pegunungan. Bagi Azril dan teman-temannya, kitiran bukan sekadar mainan, tetapi simbol harapan yang terus bergerak dan tumbuh.

Saat sesi dongeng dimulai, suasana yang semula riuh mendadak hening. Seorang pendongeng tampil dengan gaya jenaka yang memikat perhatian anak-anak. Azril duduk di barisan depan, menyimak dengan penuh antusias. Tawa lepasnya pecah saat cerita mencapai bagian lucu, menciptakan momen hangat yang menyentuh hati.

Kisah Azril menjadi gambaran nyata bahwa keceriaan adalah hak setiap anak, tanpa memandang latar belakang sosial maupun ekonomi.

Baca Juga:  Kolaborasi Digital Cegah Konflik: Polda Jatim Gandeng Influencer untuk Pilkada Damai 2024

Perjalanan Azril untuk tetap bersekolah tidak lepas dari peran besar para pendidik di TK Dharma Wanita Gandulan. Para guru tak hanya mengajar di kelas, tetapi juga menunjukkan kepedulian yang tulus. Bahkan, mereka kerap mengantarkan Azril pulang hingga ke pabrik arang agar ia bisa kembali dengan aman ke ibunya.

Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kemendikdasmen, Kurniawan, memberikan apresiasi atas upaya sekolah dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif dan berpihak pada anak, (03/05/26).

“Kami memastikan bahwa anak-anak mendapat kesempatan bermain, apa pun kondisi latar belakang keluarganya. Bermain adalah cara belajar terbaik bagi mereka,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya program Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah sebagai fondasi pendidikan.

“Anak-anak seperti Azril harus terus berada di satuan PAUD. Dari PAUD, mereka mendapatkan stimulasi yang mendukung aspek kognitif, afektif, dan motorik. Pendidikan anak usia dini adalah fondasi bagi pembentukan karakter bangsa di masa depan,” tambahnya.

Baca Juga:  Lantunan Al Qur'an Diantara Puing - Puing Bangunan, Haflah Akhirusanah Santri Tambakrejo

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan PAUD Dinas Pendidikan Kabupaten Temanggung, Tusi Indreswari Kusumaningrum, menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan keluarga.

“Kami melihat antusiasme orang tua murid yang luar biasa. Mereka memahami bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Semangat gotong royong inilah yang membuat implementasi kebijakan pendidikan di daerah dapat berjalan dengan hangat dan manusiawi,” tuturnya.

Keberhasilan kegiatan ini juga tidak terlepas dari peran aktif para wali murid. Dengan semangat kebersamaan, mereka turut menyiapkan berbagai perlengkapan, mulai dari panggung sederhana, alat permainan, hingga hidangan lokal untuk anak-anak.

Kegiatan “Pagi Ceria dan Bermain Bersama” bukan sekadar hiburan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi cerminan bahwa pendidikan sejatinya adalah ruang yang ramah, inklusif, dan penuh kasih. Dari Temanggung, kisah Azril mengingatkan bahwa harapan akan masa depan selalu tumbuh, bahkan dari tempat yang paling sederhana. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!