Laporan: Heru Santoso

KAB. SEMARANG | SUARAGLOBAL.COM – Suasana seni dan budaya mewarnai pendopo Grha Abdi Praja, Kantor Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Puluhan karya lukis dan kain Batik Patron Ambarawa dipajang dalam sebuah “Pameran Kolaborasi” yang mempertemukan kreativitas para perupa dengan kekayaan batik tradisional khas Ambarawa.

Sedikitnya 50 lukisan karya para pelukis yang tergabung dalam HIPPA (Himpunan Perupa Palagan Ambarawa) dipamerkan selama dua hari, Jumat-Sabtu (11-12/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-321 Ambarawa.

Pameran bertajuk “Pameran Kolaborasi – Komunitas Batik Patron Ambarawa bersama HIPPA” itu tidak hanya menampilkan karya lukis dengan beragam corak dan karakter. Kain Batik Patron Ambarawa yang diproduksi para pembatik lokal juga turut menjadi daya tarik tersendiri.

Kolaborasi tersebut mendapat dukungan dari mahasiswa FKIP UNS melalui Tim PISN UNS serta para pegiat utama Batik Patron Ambarawa. Kehadiran berbagai unsur ini membuat pameran tidak sekadar menjadi ruang untuk memajang karya, tetapi juga menjadi upaya mempertemukan seni, pendidikan, kreativitas, sekaligus pelestarian budaya lokal.

Perwakilan Tim PISN UNS, Rony, mengatakan karya-karya yang disuguhkan dalam pameran tersebut diyakini memiliki nilai tambah dan fungsi tersendiri. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi proses awal menuju kebangkitan dan pengembangan hasil karya seni agar semakin mendapat tempat di tengah masyarakat.

Sementara itu, tokoh pegiat Batik Patron Ambarawa, Mahfud, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia juga menyampaikan terima kasih atas kerja sama serta pendampingan yang diberikan Tim PISN UNS dalam mendorong pengembangan Batik Patron Ambarawa.

Baca Juga:  Polresta Malang Kota Dorong Ketahanan Pangan dengan Kolaborasi dan Inovasi Pertanian

Menurut Mahfud, Batik Patron merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki akar sejarah kuat di Ambarawa. Keberadaan batik tersebut bahkan disebut memiliki jejak sejarah hingga ke Museum Leiden, Belanda.

“Batik Patron ini merupakan warisan nenek moyang yang ada di Ambarawa. Selain itu, Batik Patron ini juga tersimpan di Museum Leiden Belanda dan batik ini telah diproduksi sejak tahun 1876,” ujar Mahfud saat memberikan penjelasan kepada pengunjung pameran.

Ia menuturkan, keberadaan Batik Patron sempat menghilang selama lebih dari seratus tahun. Hingga kemudian, sekitar tahun 2020, batik tersebut kembali ditemukan dan mulai digali serta dikembangkan kembali.

Dari penelusuran tersebut, ditemukan puluhan motif Batik Patron. Saat ini, pengembangan terus dilakukan agar motif-motif tersebut dapat kembali dikenal masyarakat sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi para perajin batik di Ambarawa.

Ketua HIPPA Yohanes Handoko juga mengaku bangga atas terselenggaranya pameran kolaborasi tersebut. Ia menyampaikan apresiasi kepada Tim PISN UNS yang telah membantu mempersiapkan berbagai kebutuhan hingga kegiatan dapat terlaksana.

“Sekali lagi kami sampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Tim PISN UNS yang sudah membantu terselenggaranya Pameran Kolaborasi – Batik Patron Ambarawa dengan lukisan ini. Selamat menikmati pameran lukisan ini, semoga ada yang membelinya juga,” tandas Handoko.

Apresiasi serupa disampaikan Camat Ambarawa Wahyu Pito Nugroho melalui Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Harmini. Ia menilai pameran lukisan dan batik tersebut memiliki arti penting dalam upaya menjaga serta mengenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat.

Baca Juga:  Penguatan Layanan Pemasyarakatan: Ditjenpas Jateng Gandeng Kemenko Kumham Imipas Selaraskan Kebijakan

Menurut Harmini, pameran kolaborasi tersebut merupakan salah satu wujud nyata pelestarian budaya bangsa, khususnya seni lukis dan batik.

“Kegiatan yang dikemas dengan Pameran Kolaborasi ini, intinya sebagai salah satu wujud pelestarian budaya bangsa khususnya pelestarian Batik maupun Seni Lukis,” ungkap Harmini.

Ia menambahkan, karya seni yang dipamerkan tidak hanya dapat dinikmati secara visual, tetapi juga dapat dimiliki masyarakat melalui transaksi pembelian. Dengan demikian, pameran sekaligus membuka ruang apresiasi sekaligus peluang ekonomi bagi para seniman dan perajin.

“Lukisan yang dipamerkan bisa dinikmati dan dapat dimiliki dengan cara dibeli. Karena, seni itu tidak semuanya bisa menikmatinya, namun semuanya bisa mendapatkan kebanggaan tersendiri,” lanjutnya.

Harmini berharap kegiatan tersebut memberikan manfaat lebih luas sekaligus mampu mengangkat nama Batik Patron Ambarawa agar semakin dikenal, tidak hanya di wilayah Ambarawa, tetapi juga di luar daerah.

Ia pun mengajak masyarakat Ambarawa ikut berperan aktif memperkenalkan dan mempromosikan Batik Patron. Terlebih, batik tersebut disebut sebagai salah satu batik tua yang memiliki nilai sejarah di Jawa Tengah.

“Harapannya, kegiatan ini bisa bermanfaat dan bisa juga mengangkat Batik Patron Ambarawa semakin lebih dikenal,” tegasnya.

Setelah memberikan sambutan, Harmini bersama Kapolsek Ambarawa dan Danramil Ambarawa secara resmi membuka pameran. Pembukaan ditandai dengan pengguntingan untaian pita sebagai simbol dimulainya pameran kolaborasi.

Sejumlah pejabat dan tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Danramil 09/Ambarawa Kapten Inf Sutarjo, Kapolsek Ambarawa AKP Wiwid Wijayanti, Tim PISN UNS, Ketua HIPPA Yohanes Handoko beserta para perupa HIPPA, Ketua Batik Patron Mahfud, para kepala sekolah dasar (SD) di wilayah Ambarawa, serta Babinsa dan Bhabinkamtibmas Kelurahan Kranggan, Sertu Romdhoni dan Bripka Risdi.

Baca Juga:  Silvana Lamanda Raih Medali Emas di Taekwondo -62kg, Indonesia Kian Dekat Juara Umum AUG 2024

Pantauan di lokasi, sedikitnya 50 lukisan dengan beragam jenis, corak dan karakter menghiasi area pameran. Karya-karya tersebut merupakan hasil kreativitas para perupa yang tergabung dalam HIPPA.

Di sisi lain, sejumlah kain Batik Patron Ambarawa hasil produksi pembatik lokal juga dipajang dengan beragam pilihan warna. Pengunjung dapat melihat langsung perpaduan antara seni lukis kontemporer dengan kekayaan motif batik tradisional yang menjadi identitas budaya Ambarawa.

Menariknya, karya-karya tersebut tidak hanya dipamerkan. Lukisan dan kain Batik Patron Ambarawa juga ditawarkan kepada masyarakat umum sehingga pengunjung berkesempatan membawa pulang karya seni yang mereka sukai.

Untuk lukisan, harga yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari Rp500.000 hingga Rp7.500.000, tergantung karya dan ukurannya. Sementara kain Batik Patron berukuran 2 meter x 1,15 meter ditawarkan dengan harga Rp185.000.

Pameran ini pun menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dikemas secara kreatif. Lukisan menjadi ruang ekspresi para seniman, sementara Batik Patron menjadi jejak sejarah yang terus dihidupkan kembali melalui tangan para perajin Ambarawa.

Di tengah derasnya perkembangan zaman, kolaborasi tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membuat seni rupa dan Batik Patron Ambarawa semakin dikenal. Bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai karya budaya yang mampu memberikan kebanggaan sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat setempat. (*)