Laporan: Ninis Indrawati

KEDIRI | SUARAGLOBAL.COM — Di tengah ancaman musim kemarau yang berpotensi memengaruhi produksi dan harga pangan, pemerintah memastikan kebutuhan masyarakat tetap menjadi prioritas. Bantuan beras pun dipastikan terus mengalir kepada jutaan keluarga yang membutuhkan.

Penegasan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan saat menghadiri Pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al-Amien, Kota Kediri, Kamis (10/9/2026).

Di hadapan para ulama, tokoh masyarakat, serta jajaran Forkopimda Plus Kota Kediri, Zulkifli Hasan tidak hanya berbicara mengenai nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW. Ia juga membawa kabar mengenai kebijakan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan memastikan masyarakat tetap bisa mendapatkan beras dengan harga terjangkau.

Menurut Zulkifli, persoalan pangan harus mendapat perhatian serius, terlebih ketika masyarakat menghadapi tantangan musim kemarau. Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap ketersediaan komoditas sekaligus memicu tekanan terhadap harga di tingkat masyarakat.

Karena itu, pemerintah dituntut bergerak cepat. Bukan hanya memastikan stok pangan tersedia, tetapi juga memberikan bantuan secara langsung kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Salah satu langkah yang terus dilakukan pemerintah adalah penyaluran bantuan beras sebanyak 10 kilogram setiap bulan kepada sekitar 33,2 juta penerima manfaat.

Baca Juga:  Rayakan HUT ke-77, Polwan Pacitan Bedah Rumah Warga Tulakan: Hadiah Nyata untuk Boiran

Program tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat, terutama kelompok yang memiliki keterbatasan daya beli. Pemerintah juga menyiapkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebagai salah satu instrumen untuk menjaga keterjangkauan harga beras.

“Tadi saya sudah serahkan bantuan di Kediri. Selanjutnya akan ke daerah-daerah lain. Kita harus cepat bantu rakyat yang tidak mampu,” ujar Zulkifli.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin persoalan pangan hanya ditangani ketika harga sudah terlanjur melonjak atau masyarakat mulai kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok.

Berbagai langkah antisipasi terus disiapkan untuk menjaga ketersediaan pangan nasional. Pemerintah, kata Zulkifli, juga melakukan sejumlah kebijakan lain, termasuk melalui lelang komoditas cadangan jagung pemerintah.

Selain itu, pemerintah menyiapkan beras yang dapat digunakan sebagai bahan baku tepung. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat diversifikasi pangan sekaligus menjaga keseimbangan pasokan komoditas.

Zulkifli menegaskan, ketahanan pangan bukan sekadar berbicara tentang seberapa banyak stok yang tersedia di gudang. Yang tidak kalah penting adalah memastikan masyarakat mampu membeli dan mengonsumsi pangan dengan harga yang wajar.

Dengan kata lain, ketersediaan harus berjalan beriringan dengan keterjangkauan.

Kebijakan bantuan beras, penyediaan SPHP, hingga berbagai upaya menjaga pasokan tersebut diharapkan mampu menjadi bantalan bagi masyarakat ketika tekanan ekonomi maupun kondisi produksi pangan mengalami perubahan.

Baca Juga:  Plt Bupati Sidoarjo Dukung LBH No Viral No Justice: Solusi Baru untuk Akses Hukum Tanpa Sensasi

Pesantren dan Ketahanan Pangan

Kehadiran Zulkifli Hasan dalam Pengajian Maulid Nabi di Pondok Pesantren Al-Amien juga mendapat sambutan dari Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati.

Vinanda menilai persoalan ketahanan pangan tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah. Diperlukan sinergi dan keterlibatan berbagai unsur masyarakat agar upaya menjaga ketersediaan pangan dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Ketahanan pangan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan sinergi seluruh elemen masyarakat. Dari apa yang disampaikan tadi kita mendapatkan informasi tentang pangan sekaligus nilai-nilai kehidupan yang bisa menjadi motivasi bagi kita semua,” kata Vinanda.

Menurutnya, pesantren memiliki posisi strategis dalam pembangunan masyarakat. Pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga memiliki potensi besar dalam bidang pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi, hingga mendukung ketahanan pangan.

Peran tersebut dinilai semakin penting karena pesantren memiliki jaringan sosial yang kuat dan dekat dengan masyarakat.

Dengan kekuatan tersebut, pesantren dapat menjadi bagian dari gerakan bersama untuk mendorong masyarakat agar semakin mandiri, termasuk dalam bidang ekonomi dan pangan.

Baca Juga:  Polres Kediri Kota dan TPID Gencarkan Pengawasan Beras Premium di Pasar Modern

Pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al-Amien berlangsung dengan menghadirkan tausiyah dari KH Anwar Zahid. Sejumlah ulama dan tokoh juga turut hadir, antara lain KH Anwar Iskandar, Habib Ahmad, Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani, serta jajaran Forkopimda Plus Kota Kediri.

Momentum Maulid Nabi tersebut akhirnya tidak sekadar menjadi ruang untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dan menyimak tausiyah keagamaan. Pertemuan itu juga menjadi kesempatan menyampaikan pesan mengenai kepedulian sosial dan keberpihakan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di tengah dinamika harga pangan dan tantangan musim kemarau, pemerintah berupaya memastikan masyarakat tidak berjalan sendirian menghadapi tekanan kebutuhan pokok.

Bantuan beras bagi puluhan juta penerima manfaat menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah. Bersamaan dengan itu, upaya menjaga stok dan stabilitas harga terus dilakukan agar beras tetap tersedia dan dapat dijangkau masyarakat.

Pesan yang disampaikan dari Kediri pun cukup jelas: ketahanan pangan harus dijaga bersama, sementara masyarakat yang membutuhkan bantuan harus menjadi prioritas.

Melalui berbagai program tersebut, pemerintah berharap ketersediaan pangan nasional tetap terjaga, harga komoditas tetap terkendali, dan daya beli masyarakat tidak semakin tertekan. (*)