4.463 Siswa SMP di Salatiga Ikuti Psikotes Gratis, MAVI Petakan Bakat dan Minat Generasi Muda

Laporan: Wahyu Widodo
SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Nilai rapor bukan satu-satunya ukuran untuk melihat masa depan seorang anak. Di balik angka-angka akademik, setiap siswa memiliki bakat, minat, dan kemampuan berbeda yang perlu dikenali sejak dini. Berangkat dari pemikiran tersebut, sebanyak 4.463 siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Salatiga mengikuti program psikotes gratis untuk membantu memetakan potensi diri sekaligus menentukan arah pendidikan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Program yang digelar MAVI bekerja sama dengan Biro Beehive Psikologi ini berlangsung selama tiga hari, mulai 27 hingga 29 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menyasar siswa kelas VII dan IX di sejumlah SMP di Kota Salatiga.
Pada hari pertama pelaksanaan, psikotes dijadwalkan berlangsung di SMP Negeri 1, SMP Negeri 2, SMP Negeri 3, dan SMP Negeri 4 Salatiga. Melalui kegiatan ini, siswa tidak sekadar mengerjakan serangkaian soal, tetapi juga diharapkan memperoleh gambaran mengenai kecenderungan kemampuan, minat, serta potensi yang dapat dikembangkan untuk masa depan.
Program tersebut menjadi salah satu upaya untuk membantu sekolah dan orang tua memahami karakteristik anak secara lebih terarah. Dengan demikian, proses pendidikan diharapkan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga memperhatikan kemampuan dan kecenderungan masing-masing siswa.
Kelas VII Petakan Bakat, Kelas IX Bersiap Memilih Sekolah Lanjutan
Ketua Harian MAVI, Anggit K. Wisuda, menjelaskan bahwa pelaksanaan psikotes disesuaikan dengan kebutuhan siswa berdasarkan jenjang kelasnya.
Bagi siswa kelas VII, psikotes difokuskan pada pemetaan bakat, minat, serta kecenderungan metode belajar. Informasi yang diperoleh diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi guru bimbingan dan konseling (BK) maupun orang tua dalam mendampingi perkembangan anak selama menjalani pendidikan di SMP.
Sementara itu, bagi siswa kelas IX, psikotes lebih diarahkan untuk mengenali minat dan kecenderungan pilihan pendidikan lanjutan. Hasilnya diharapkan dapat membantu siswa mempertimbangkan pilihan melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas (SMA) atau sekolah menengah kejuruan (SMK).
Menurut Anggit, pengenalan potensi sejak dini penting agar siswa tidak hanya menjadikan nilai akademik sebagai pertimbangan utama ketika menentukan sekolah lanjutan.
Setiap anak memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing. Ada siswa yang lebih tertarik pada bidang akademik, sementara siswa lainnya mungkin memiliki kecenderungan pada keterampilan praktis, komunikasi, maupun bidang lain yang perlu mendapatkan ruang untuk berkembang.
MAVI sendiri memiliki keterkaitan dengan pendidikan vokasi. Karena itu, pendidikan di SMK juga dapat menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan siswa apabila sesuai dengan minat dan potensi mereka.
“Harapannya ini menjadi pemetaan,” ujarnya.
Pemetaan tersebut diharapkan membantu siswa dan orang tua melihat pilihan pendidikan secara lebih objektif. Dengan memahami kecenderungan kemampuan anak, keputusan mengenai sekolah lanjutan diharapkan tidak semata-mata didasarkan pada keinginan orang tua atau mengikuti pilihan teman sebaya.
Hasil Tes Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Anggit menegaskan, manfaat psikotes tidak berhenti pada pelaksanaan tes maupun keluarnya hasil pemeriksaan. Informasi yang diperoleh perlu dibahas bersama pihak sekolah dan keluarga agar benar-benar dapat digunakan sebagai dasar pendampingan siswa.
Dalam pelaksanaannya, orang tua juga dilibatkan dengan mengisi tes sebagai bahan pembanding terhadap hasil yang diperoleh siswa. Pendekatan tersebut diharapkan memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kecenderungan, minat, serta potensi anak, sekaligus membantu menyelaraskan pemahaman antara keluarga dan sekolah.
“Harapannya bisa klop, orang tua pengennya apa, siswanya bagaimana,” kata Anggit.
Keterlibatan orang tua menjadi bagian penting karena proses pengembangan potensi anak tidak hanya berlangsung di sekolah. Lingkungan keluarga juga berperan dalam memberikan dukungan, membangun kebiasaan belajar, serta membantu anak mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Melalui hasil psikotes, orang tua diharapkan dapat lebih memahami kecenderungan anak. Di sisi lain, pihak sekolah dapat memperoleh masukan untuk menyesuaikan pendekatan pembelajaran dan pendampingan berdasarkan kebutuhan siswa.
Dengan begitu, hasil tes diharapkan menjadi titik awal untuk mengenali dan mengembangkan kemampuan anak, bukan sekadar dokumen yang disimpan setelah kegiatan selesai.
Siswa Mendapat Sertifikat Digital, Guru Dibekali Hasil Pemetaan
Dalam program ini, hasil psikotes akan diberikan kepada siswa dalam bentuk sertifikat digital. Sementara itu, guru memperoleh rangkuman hasil untuk membantu kebutuhan pemetaan kelas.
Adapun guru BK mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kecenderungan siswa di sekolah masing-masing. Informasi tersebut diharapkan membantu mereka menyusun pola pendampingan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa.
Peran guru BK dinilai penting, terutama dalam mendampingi siswa yang sedang berada pada tahap mengenali kemampuan diri dan menentukan pilihan pendidikan. Bagi siswa kelas IX, misalnya, pemetaan minat dapat menjadi salah satu bahan diskusi sebelum memutuskan sekolah lanjutan.
Meski demikian, hasil psikotes perlu dipahami sebagai salah satu bahan pertimbangan, bukan satu-satunya penentu masa depan siswa. Pembahasan bersama guru, orang tua, dan siswa tetap diperlukan agar keputusan pendidikan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk minat pribadi, kemampuan akademik, serta peluang pengembangan keterampilan.
Anggit menyebutkan, berdasarkan data yang diterima MAVI, jumlah peserta yang terdaftar dalam program tersebut mencapai 4.463 siswa. Seluruh rangkaian kegiatan direncanakan selesai dalam tiga hari sesuai jadwal yang telah disusun.
Antariksa Mulai Menemukan Ketertarikan pada Public Speaking
Pengalaman mengikuti psikotes juga dirasakan Antariksa Nata Adi, siswa kelas VII SMP Negeri 1 Salatiga. Ia mengaku cukup mudah mengerjakan tes IQ serta tes minat dan bakat yang diberikan.
Menurut Antariksa, soal-soal dalam tes IQ memiliki tingkat kesulitan yang beragam. Beberapa soal dapat dikerjakan dengan mudah, sedangkan soal lainnya membutuhkan ketelitian untuk menemukan pola yang tepat.
“Alhamdulillah mudah,” ujar Antariksa saat ditanya mengenai tingkat kesulitan tes tersebut.
Ia menjelaskan, sejumlah soal tes IQ berkaitan dengan pengenalan pola. Peserta, misalnya, diminta menentukan gambar atau pola yang tidak sesuai maupun memperkirakan bentuk pola berikutnya.
Sementara itu, tes minat dan bakat yang dikerjakannya terdiri atas sekitar 72 soal, meskipun ia mengaku tidak mengingat jumlah pastinya.
Bagi Antariksa, mengikuti tes tersebut menjadi pengalaman untuk lebih mengenali kecenderungan dirinya. Salah satu bidang yang mulai menarik perhatiannya adalah public speaking atau kemampuan berbicara di depan umum.
Ketertarikan tersebut menjadi gambaran bahwa proses mengenali potensi diri dapat membantu siswa mulai memahami bidang yang ingin mereka kembangkan. Pada usia sekolah, pemahaman semacam ini dapat menjadi bekal untuk mengeksplorasi berbagai kegiatan positif, baik di dalam maupun di luar kelas.
Antariksa mengaku bukan kali pertama mengikuti tes psikologi. Sebelumnya, ia pernah menjalani tes serupa.
Untuk persiapan kali ini, ia tidak melakukan latihan khusus. Ia menyebut kebiasaannya bermain gim yang mengasah logika sebagai salah satu aktivitas yang dilakukannya di rumah.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa bagi siswa, psikotes juga menjadi kesempatan untuk menghadapi tantangan berpikir sekaligus mengenali minat yang mungkin belum sepenuhnya disadari sebelumnya.
Dewan Pendidikan: Kemampuan Anak Tak Selalu Tercermin dari Nilai Akademik
Pelaksanaan psikotes gratis tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Dewan Pendidikan Kota Salatiga periode 2026–2031, Dr. H. Sugiman, B.Sc., M.Si.
Sugiman menilai, kegiatan ini dapat membantu orang tua dan sekolah mengenali potensi siswa secara lebih terarah. Menurut dia, kemampuan seorang anak tidak selalu dapat dilihat hanya dari prestasi akademik.
Sebagian siswa mungkin memiliki keunggulan dalam bidang keterampilan atau kemampuan lain yang belum sepenuhnya tercermin melalui nilai pelajaran. Potensi tersebut perlu dikenali agar memperoleh kesempatan untuk dikembangkan secara optimal.
Karena itu, hasil psikotes diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi guru dalam menentukan pendekatan pembelajaran dan pengembangan potensi siswa.
Dengan pemetaan yang lebih baik, sekolah diharapkan dapat memberikan pendampingan sesuai kebutuhan anak. Siswa yang memiliki kecenderungan dan minat tertentu pun dapat diarahkan untuk mengeksplorasi kemampuan tersebut melalui kegiatan pembelajaran maupun aktivitas pengembangan diri.
Sugiman juga mengapresiasi dukungan Dinas Pendidikan Kota Salatiga terhadap pelaksanaan program psikotes tersebut.
Baginya, upaya mengenali potensi siswa merupakan bagian penting dari pendidikan yang tidak hanya mengejar capaian nilai, tetapi juga memperhatikan perkembangan kemampuan dan karakter anak.
Tak Hanya Siswa, Kondisi Psikologis Guru Juga Perlu Diperhatikan
Selain memberikan apresiasi, Sugiman menyampaikan harapan agar perhatian terhadap kondisi psikologis ke depan tidak hanya diberikan kepada siswa, tetapi juga kepada para guru.
Ia mengusulkan agar kondisi psikologis tenaga pendidik turut mendapatkan perhatian dalam kesempatan mendatang. Menurut dia, tuntutan pekerjaan dan perkembangan zaman dapat menjadi beban tersendiri bagi guru dalam menjalankan tugasnya.
Guru memiliki peran penting dalam proses pendidikan, mulai dari menyampaikan materi pembelajaran hingga mendampingi perkembangan siswa. Oleh sebab itu, kondisi psikologis tenaga pendidik juga perlu diperhatikan agar mereka dapat menjalankan tugas secara optimal.
Perhatian terhadap guru dan siswa diharapkan dapat berjalan beriringan. Siswa membutuhkan pendampingan untuk mengenali potensi dan mengembangkan kemampuan, sedangkan guru membutuhkan dukungan agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Dengan demikian, upaya meningkatkan kualitas pendidikan tidak hanya berfokus pada hasil belajar siswa, tetapi juga memperhatikan faktor-faktor yang mendukung proses pembelajaran di sekolah.
Menyiapkan Masa Depan dengan Mengenali Potensi Sejak Dini
Program psikotes gratis bagi 4.463 siswa SMP di Kota Salatiga ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun pemahaman yang lebih baik mengenai potensi anak.
Melalui kerja sama MAVI dan Biro Beehive Psikologi, hasil pemetaan diharapkan dapat dimanfaatkan oleh siswa, orang tua, guru, dan guru BK untuk menentukan bentuk pendampingan yang sesuai.
Bagi siswa kelas VII, hasil tes dapat menjadi bahan untuk mengenali minat dan kecenderungan belajar. Sementara bagi siswa kelas IX, pemetaan tersebut diharapkan membantu mempertimbangkan pilihan pendidikan lanjutan, termasuk SMA maupun SMK, berdasarkan minat dan kemampuan masing-masing.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan anak tidak semestinya ditentukan hanya oleh angka di rapor atau harapan pihak lain. Pemahaman terhadap potensi diri, dukungan keluarga, pendampingan guru, dan kesempatan mengembangkan keterampilan menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan.
Dengan mengenali bakat dan minat sejak dini, siswa diharapkan semakin percaya diri dalam menentukan arah pengembangan dirinya. Sekolah dan keluarga pun diharapkan dapat berjalan seiring, membantu setiap anak menemukan ruang untuk tumbuh sesuai dengan kemampuan dan potensinya. (*)












Tinggalkan Balasan