Laporan: Ninis Indrawati

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM — Kreativitas tak mengenal batas, dan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang di era digital. Semangat itulah yang dihadirkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Timur melalui program CERDIG, dengan membuka ruang belajar videografi dan penyuntingan video bagi penyandang tuli dalam pelatihan bertajuk Visual Speaks.

Kegiatan yang digelar di kantor Diskominfo Jatim pada Selasa (27/10/2026) tersebut menjadi langkah nyata untuk memperluas akses keterampilan digital yang inklusif. Para peserta yang berasal dari Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) mendapatkan kesempatan mempelajari teknik dasar produksi video sekaligus mengembangkan kreativitas melalui media visual.

Pelatihan ini tidak sekadar memperkenalkan kamera dan perangkat lunak penyuntingan. Lebih dari itu, Visual Speaks menjadi ruang bagi penyandang tuli untuk mengasah kemampuan, menuangkan gagasan, serta membangun kepercayaan diri dalam menghasilkan karya digital.

Belajar Videografi, Mengasah Kreativitas Tanpa Batas

Suasana pelatihan berlangsung antusias. Para peserta mengikuti setiap tahapan pembelajaran untuk memahami dasar-dasar videografi, mulai dari teknik pengambilan gambar hingga proses penyuntingan video.

Materi disampaikan langsung oleh Bernard Realino Danu Kristianto, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra Surabaya. Dalam kegiatan tersebut, ia membimbing peserta mengenal teknik pengambilan gambar serta memahami proses pengolahan video agar dapat menjadi karya visual yang menarik.

Baca Juga:  Kapolda Jatim Dorong Brimob Tingkatkan Peran dalam Implementasi Asta Cita

Keterampilan tersebut menjadi bekal penting di tengah perkembangan dunia digital yang semakin mengandalkan konten visual. Video kini menjadi salah satu media untuk menyampaikan informasi, memperkenalkan produk, mendokumentasikan kegiatan, hingga menyuarakan gagasan kepada masyarakat luas.

Melalui pembelajaran ini, peserta tidak hanya diarahkan untuk memahami aspek teknis penggunaan kamera dan perangkat penyuntingan. Mereka juga didorong untuk mengeksplorasi ide, mengembangkan sudut pandang, serta mengekspresikan kreativitas melalui gambar bergerak.

Bagi penyandang tuli, media visual juga dapat menjadi sarana komunikasi dan ekspresi yang kuat. Pesan, cerita, dan gagasan dapat disampaikan melalui perpaduan gambar, teks, gerak, serta elemen visual lainnya.

Diskominfo Jatim Dorong Ruang Digital yang Inklusif

Kepala Dinas Kominfo Jatim, Sherlita Ratna Dewi Agustin, melalui Sekretaris Dinas Suharlina Kusumawardani, menyampaikan bahwa program tersebut dirancang untuk memberikan ruang belajar yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Pelatihan ini memberikan ruang belajar sekaligus kesempatan bagi rekan-rekan tuli untuk mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya digital,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya membuka akses pembelajaran digital tanpa membedakan kondisi maupun latar belakang peserta. Kesempatan untuk memperoleh keterampilan baru perlu tersedia bagi semua kalangan agar semakin banyak masyarakat dapat mengambil bagian dalam perkembangan teknologi.

Baca Juga:  22,226 Kg Kokain Dimusnahkan! Polda Jatim Kirim Pesan Keras: Tak Ada Ampun untuk Narkoba

Program CERDIG melalui Visual Speaks menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan proses pembelajaran yang memberi ruang bagi penyandang tuli dalam mengenal teknologi, mengembangkan potensi, dan menghasilkan karya yang dapat dinikmati masyarakat.

Dengan pendekatan pembelajaran yang sesuai kebutuhan peserta, pelatihan semacam ini juga dapat membantu memperluas partisipasi penyandang tuli dalam ekosistem digital. Mereka bukan hanya menjadi penikmat konten, melainkan juga berpeluang menjadi pembuat konten yang menyampaikan cerita dan perspektifnya sendiri.

Dari Keterampilan Menjadi Peluang Berkarya

Antusiasme peserta dalam mengikuti pelatihan memperlihatkan besarnya ruang pengembangan kreativitas melalui keterampilan digital. Kemampuan mengambil gambar dan menyunting video dapat menjadi modal untuk berbagai aktivitas, mulai dari dokumentasi, produksi konten media sosial, hingga pengembangan karya kreatif secara mandiri.

Di tengah pesatnya pertumbuhan industri konten digital, penguasaan keterampilan tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Karena itu, akses pelatihan yang inklusif menjadi bagian penting dalam mendorong pemerataan kesempatan belajar dan pengembangan kompetensi.

Namun, manfaat pelatihan tidak berhenti pada penguasaan perangkat maupun teknik produksi video. Kesempatan untuk mencoba, berkreasi, dan menyampaikan gagasan juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan diri peserta.

Baca Juga:  Bank Jatim Gandeng BIN Jawa Timur untuk Perkuat Keamanan Data dan Good Governance

Melalui Visual Speaks, penyandang tuli memperoleh ruang untuk menunjukkan bahwa kreativitas dapat hadir dalam beragam bentuk. Sebuah gagasan dapat disampaikan melalui rangkaian gambar, cerita dapat dibangun lewat visual, dan pesan dapat menjangkau publik melalui karya digital.

Komitmen Perluas Akses Keterampilan Digital

Diskominfo Jatim menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program-program digital yang dapat diakses oleh semua kalangan masyarakat tanpa terkecuali.

Komitmen tersebut menjadi penting seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap keterampilan teknologi dan kemampuan memproduksi informasi dalam format digital. Peluang untuk belajar dan berkarya perlu dibuka seluas-luasnya agar tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam perkembangan tersebut.

Pelatihan Visual Speaks menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan digital yang lebih terbuka, ramah, dan memberikan kesempatan setara. Melalui penguatan keterampilan videografi dan penyuntingan video, penyandang tuli didorong untuk terus mengembangkan potensi serta berani menghasilkan karya sesuai kreativitas masing-masing.

Pada akhirnya, Visual Speaks membawa pesan bahwa dunia digital seharusnya menjadi ruang bersama. Setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, berkreasi, dan menyampaikan gagasan. Sebab, ketika akses dibuka dan kesempatan diberikan, perbedaan bukanlah penghalang untuk berkarya, melainkan bagian dari keberagaman yang memperkaya dunia kreatif. (*)