Laporan: Wahyu Widodo

YOGYAKARTA, SUARAGLOBAL.COM – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga di panggung kompetisi nasional. Kali ini, Tim Saga Enerva berhasil membuktikan bahwa mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) tidak hanya unggul dalam bidang keagamaan, tetapi juga mampu bersaing dan menciptakan inovasi di bidang sains, teknologi, serta penelitian berbasis teknologi modern.

Melalui inovasi teknologi Solar Tracker berbasis Internet of Things (IoT), Tim Saga Enerva sukses meraih **medali perak pada cabang Riset/Teknologi Konservasi Energi dalam ajang OASE PTKIN 2026** yang diselenggarakan di Yogyakarta.

Capaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa kreativitas dan kemampuan riset mahasiswa UIN Salatiga mampu berbicara di tingkat nasional. Terlebih, inovasi yang dihasilkan tidak sekadar menawarkan kecanggihan teknologi, tetapi juga membawa solusi nyata dalam mendukung pemanfaatan energi terbarukan, khususnya energi matahari.

Solar Tracker IoT, Inovasi Cerdas Tingkatkan Efisiensi Energi Surya

Keberhasilan Tim Saga Enerva tidak lepas dari inovasi Solar Tracker yang dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT).

Teknologi ini dirancang untuk meningkatkan efektivitas penyerapan energi matahari melalui sistem pelacakan posisi matahari. Dengan pendekatan tersebut, panel surya dapat diarahkan agar memperoleh paparan sinar matahari secara lebih optimal.

Salah satu keunggulan inovasi tersebut terletak pada penggunaan teknologi Real-Time Clock (RTC), yang menjadi bagian dari sistem pengaturan waktu dalam mekanisme kerja perangkat.

Berdasarkan hasil yang dipaparkan tim, penerapan teknologi Solar Tracker tersebut mampu meningkatkan efektivitas penyerapan energi surya hingga 16 persen.

Angka tersebut menjadi salah satu keunggulan yang menarik perhatian dewan juri. Inovasi ini dinilai memiliki potensi untuk mendukung pengembangan teknologi konservasi energi yang lebih efisien dan aplikatif.

Di tengah meningkatnya kebutuhan energi serta dorongan untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan, riset semacam ini menjadi semakin relevan. Solar Tracker tidak hanya menjadi proyek akademik, tetapi juga membuka peluang pengembangan teknologi yang dapat dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat.

Baca Juga:  Okamura, Omah Klambi Murah Slogan Perusahaan Seorang Anggota Polri di Polres Semarang

Kolaborasi Lintas Disiplin, Kekuatan Tim Saga Enerva

Keberhasilan Tim Saga Enerva juga menarik perhatian dari sisi komposisi anggotanya. Tim ini merupakan gabungan mahasiswa dari beberapa disiplin ilmu yang berbeda.

Mereka terdiri dari Karel, Najma, dan Dimas dari Program Studi Sains Data, Faizal dari Tadris IPA, serta Tsania dari Hukum Keluarga Islam.

Kolaborasi lintas disiplin tersebut memperlihatkan bahwa inovasi teknologi dapat berkembang melalui kerja sama mahasiswa dengan latar belakang keilmuan yang beragam.

Perpaduan kemampuan analisis data, pemahaman sains, serta perspektif keilmuan lainnya menjadi modal penting dalam membangun sebuah karya riset yang kompetitif.

Prestasi medali perak OASE PTKIN 2026 sekaligus mempertegas bahwa pengembangan riset STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di lingkungan UIN Salatiga memiliki potensi besar untuk terus berkembang.

Pembina: Bukti Riset STEM UIN Salatiga Sudah Berada di Jalur yang Tepat

Pembina Tim Saga Enerva, Dr. Erna Risfaula, M.Si., menyambut positif keberhasilan mahasiswa binaannya tersebut.

Menurutnya, pencapaian medali perak di tingkat nasional bukan sekadar penghargaan atas hasil kerja keras mahasiswa, melainkan juga menjadi indikator berkembangnya iklim penelitian dan pengembangan teknologi di lingkungan kampus.

Ia menilai, mahasiswa UIN Salatiga memiliki kemampuan untuk menghasilkan teknologi terapan apabila mendapatkan pembinaan, pendampingan, serta dukungan akademik yang tepat.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa iklim riset bidang STEM di UIN Salatiga sudah on-track. Dengan adanya pembinaan yang tepat, mahasiswa UIN juga bisa merancang teknologi terapan,” ujarnya.

Dr. Erna Risfaula juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran pimpinan universitas dan seluruh sivitas akademika UIN Salatiga atas dukungan yang telah diberikan kepada tim.

Baca Juga:  Rp3,7 Triliun Mengalir untuk Pekerja Jateng, BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan hingga Akar Rumput

Dukungan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kreativitas, keberanian berinovasi, dan kemampuan bersaing dalam kompetisi akademik berskala nasional.

Karel: Mahasiswa PTKIN Bisa Bersaing di Bidang Teknologi

Rasa bangga dan kebahagiaan juga dirasakan seluruh anggota Tim Saga Enerva. Perwakilan tim, Karel, mengungkapkan bahwa keikutsertaan mereka dalam OASE PTKIN 2026 menjadi pengalaman berharga sekaligus pembuktian kemampuan mahasiswa PTKIN di bidang riset dan teknologi.

Menurutnya, keberhasilan meraih medali perak merupakan hasil kerja sama, proses pembelajaran, serta perjuangan seluruh anggota tim dalam mengembangkan inovasi yang mereka usung.

“Senang sekali kami bisa ikut serta dalam gelaran OASE 2026. Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa PTKIN juga punya kemampuan yang tidak kalah hebat di bidang riset dan teknologi. Kami berharap prestasi ini menjadi momentum untuk menciptakan ekosistem riset STEM yang lebih baik di kampus,” ungkap Karel.

Ia berharap keberhasilan tersebut tidak berhenti sebagai pencapaian satu tim saja. Lebih dari itu, prestasi ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk berani melakukan penelitian, mengembangkan teknologi, dan menghasilkan karya inovatif yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Rektor: Sejalan dengan Visi Green Wasathiyah Campus

Apresiasi terhadap keberhasilan Tim Saga Enerva juga disampaikan Rektor UIN Salatiga, Prof. Zakiyuddin Baidhawy.

Ia menegaskan bahwa capaian tersebut sejalan dengan visi Green Wasathiyah Campus serta program prioritas ekoteologi yang dicanangkan Kementerian Agama.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga harus mampu menghadirkan penelitian dan inovasi yang memberikan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat.

Baca Juga:  Babinsa Kalipadang Jadi Sahabat Petani, Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Pendampingan Petani Sayur

Pengembangan teknologi energi terbarukan, seperti Solar Tracker berbasis IoT, menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata dunia pendidikan dalam mendukung efisiensi energi dan kepedulian terhadap lingkungan.

“UIN Salatiga akan terus menghadirkan riset yang solutif bagi masyarakat. Ini adalah bentuk kontribusi kampus untuk mendukung efisiensi energi,” tegas Prof. Zakiyuddin Baidhawy.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa UIN Salatiga akan terus memperkuat pengembangan Fakultas Sains dan Teknologi yang saat ini menjadi rumah bagi tiga program studi di bidang STEM.

Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk mengembangkan penelitian, menciptakan inovasi, serta menghasilkan teknologi yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Jadi Momentum Penguatan Riset dan Teknologi Kampus

Raihan medali perak oleh Tim Saga Enerva menjadi catatan penting bagi perjalanan pengembangan akademik UIN Salatiga.

Keberhasilan ini sekaligus memberikan pesan bahwa kampus berbasis keagamaan memiliki peluang yang sama untuk berkembang menjadi pusat inovasi sains dan teknologi.

Dengan dukungan pembinaan yang berkelanjutan, penguatan fasilitas penelitian, serta kolaborasi lintas disiplin ilmu, potensi mahasiswa dalam bidang STEM dapat terus ditingkatkan.

Inovasi Solar Tracker berbasis IoT yang mampu meningkatkan efektivitas penyerapan energi surya hingga 16 persen menjadi salah satu bukti bahwa mahasiswa UIN Salatiga mampu menghasilkan karya yang kompetitif dan memiliki orientasi manfaat bagi masyarakat.

Kini, medali perak OASE PTKIN 2026 bukan sekadar simbol kemenangan. Prestasi tersebut menjadi pemantik semangat baru bagi UIN Salatiga untuk terus melahirkan generasi peneliti, inovator, dan teknolog muda yang mampu membawa nama kampus bersaing di tingkat nasional hingga internasional.

UIN Salatiga membuktikan, kampus keagamaan juga bisa menjadi ruang lahirnya inovasi teknologi masa depan. (*)