Laporan: Ninis Indrawati

SURABAYA, SUARAGLOBAL.COM – Ambisi besar menjadikan Surabaya bukan sekadar kota konsumen, tetapi juga sebagai pusat penguatan dan distribusi pangan Jawa Timur mulai digaungkan DPD Tani Merdeka Surabaya. Organisasi ini berkomitmen membangun kemitraan strategis dengan petani daerah, pelaku usaha, pemerintah, hingga masyarakat guna memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.

Langkah tersebut ditandai melalui kegiatan diskusi dan pelantikan kepengurusan DPD Tani Merdeka Surabaya yang berlangsung di Rumah Bhineka, Jalan Nginden Baru 6/28, Surabaya, Minggu (8/11/2026).

Dalam momentum tersebut, Aden Darmawan resmi ditunjuk untuk menakhodai DPD Tani Merdeka Surabaya. Ia akan memimpin organisasi bersama Akhmad Nueski Meiringga yang dipercaya sebagai Sekretaris dan Revi Arie sebagai Bendahara Umum.

Pelantikan ini bukan sekadar pergantian atau pembentukan kepengurusan organisasi. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi titik awal untuk mendorong peran nyata Tani Merdeka dalam membangun ekosistem ketahanan pangan perkotaan yang lebih kuat, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Diskusi Ketahanan Pangan, Rantai Pasok Jadi Sorotan

Sebelum prosesi pelantikan dilaksanakan, kegiatan diawali dengan diskusi bertema “Membangun Ekosistem Ketahanan Pangan di Kota Surabaya”.

Diskusi tersebut mengangkat persoalan penting mengenai bagaimana membangun hubungan kemitraan antara daerah penghasil pangan dengan Surabaya sebagai salah satu pusat perdagangan dan distribusi terbesar di Jawa Timur.

Dalam pembahasan tersebut, muncul pandangan bahwa ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan stok maupun intervensi pemerintah ketika harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan.

Diperlukan langkah yang lebih menyeluruh dengan membangun sistem pangan terintegrasi, mulai dari sektor produksi pertanian, pengolahan, penyimpanan, transportasi, distribusi, hingga akses masyarakat terhadap bahan pangan berkualitas dengan harga terjangkau.

Surabaya yang memiliki jumlah penduduk besar dan aktivitas ekonomi yang tinggi dinilai mempunyai posisi strategis untuk menjadi simpul distribusi pangan dari berbagai wilayah di Jawa Timur.

Baca Juga:  Cemburu Membutakan Hati: Mantan Suami Siri Aniaya Korban Hingga Alami Luka Serius di Surabaya

Potensi tersebut perlu dimaksimalkan melalui penguatan hubungan antara petani, kelompok tani, koperasi, pelaku perdagangan, dan pemerintah daerah.

Dengan demikian, hasil pertanian dari berbagai daerah tidak hanya memiliki kepastian pasar, tetapi juga dapat disalurkan secara lebih efisien untuk memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan.

Aden Darmawan Siapkan Langkah Kolaborasi

Usai dipercaya memimpin DPD Tani Merdeka Surabaya, Aden Darmawan menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya harus mampu memberikan kontribusi konkret bagi masyarakat.

Ia berharap Tani Merdeka Surabaya dapat menjadi mitra strategis Pemerintah Kota Surabaya dalam membangun sistem ketahanan pangan yang kuat dan berkelanjutan.

Menurut Aden, organisasi pertanian tidak boleh hanya menjadi wadah untuk menyampaikan gagasan dan kepentingan sektor pertanian. Sebaliknya, harus ada kerja nyata melalui kolaborasi lintas sektor yang memberikan manfaat langsung kepada petani maupun masyarakat.

“DPD Tani Merdeka Surabaya harus menjadi mitra strategis pemerintah kota dalam membangun ekosistem pangan. Kita ingin menghubungkan potensi daerah penghasil dengan kebutuhan masyarakat Surabaya melalui kemitraan rantai pasok yang saling menguntungkan.

Harapannya, Surabaya tidak hanya menjadi pasar bagi produk pangan daerah, tetapi juga berkembang menjadi lumbung pangan Jawa Timur,” ungkap Aden.

Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan arah kebijakan organisasi ke depan. Tani Merdeka Surabaya ingin mengambil peran sebagai penghubung antara potensi produksi pertanian di daerah dengan kebutuhan konsumsi masyarakat perkotaan.

Konsep tersebut diharapkan mampu menciptakan hubungan perdagangan yang lebih sehat, sehingga petani mendapatkan kepastian penyerapan hasil panen, sedangkan masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga yang lebih wajar.

Bidik Stabilitas Harga, Petani dan Masyarakat Harus Sama-Sama Diuntungkan

Salah satu agenda penting yang ingin didorong Aden bersama jajaran pengurus adalah membantu Pemerintah Kota Surabaya menjaga stabilitas harga pangan.

Baca Juga:  IPW Apresiasi Langkah Mabes Polri dalam Kasus Pembunuhan Vina, Masyarakat Diminta Bersabar Menunggu Hasil Penyidikan

Persoalan harga kebutuhan pokok selama ini menjadi perhatian masyarakat, terutama ketika terjadi gangguan distribusi, keterbatasan pasokan, maupun peningkatan permintaan pada periode tertentu.

Untuk menjawab persoalan tersebut, DPD Tani Merdeka Surabaya berencana memperkuat jaringan kemitraan dengan petani, kelompok tani, koperasi, pelaku usaha pangan, serta berbagai pihak yang terlibat dalam mata rantai distribusi.

Melalui jaringan tersebut, organisasi diharapkan dapat ikut mengidentifikasi persoalan pasokan, membuka jalur distribusi alternatif, serta mendorong mekanisme perdagangan yang lebih efisien.

Pemangkasan rantai distribusi yang terlalu panjang menjadi salah satu hal penting untuk diperhatikan. Sebab, semakin panjang jalur perdagangan, semakin besar pula potensi munculnya tambahan biaya yang pada akhirnya dapat membebani konsumen.

Di sisi lain, petani juga membutuhkan kepastian harga dan pasar agar hasil produksi mereka tidak merugikan ketika memasuki masa panen.

Karena itu, kemitraan yang dibangun diharapkan tidak hanya menguntungkan pelaku distribusi, tetapi juga memberikan posisi tawar yang lebih baik bagi petani.

Jika sistem tersebut berjalan optimal, Surabaya berpeluang menjadi pusat konsolidasi dan distribusi hasil pertanian dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Dihadiri Pemerintah dan Pengurus Tani Merdeka

Kegiatan diskusi dan pelantikan DPD Tani Merdeka Surabaya tersebut turut dihadiri sejumlah unsur pemerintahan dan organisasi.

Hadir dalam kegiatan itu perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), Dinas Pertanian, Ketua Umum DPN Tani Merdeka Don Muzakkir, perwakilan DPW Tani Merdeka Jawa Timur, serta sejumlah undangan dari organisasi kemasyarakatan di Surabaya.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi dan membuka peluang kerja sama lintas sektor untuk memperkuat agenda ketahanan pangan.

Sinergi antara organisasi, pemerintah, petani, dan pelaku usaha dinilai menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan pangan, mulai dari persoalan produksi, distribusi, stabilitas harga, hingga keterjangkauan bahan pokok.

Baca Juga:  Sholawat Menggema di Malam Kemerdekaan, RT 03 Leyangan Buktikan Semangat Guyub Warga

Surabaya Bukan Hanya Kota Konsumen

Gagasan menjadikan Surabaya sebagai lumbung pangan Jawa Timur memiliki makna strategis. Kota ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli, tetapi juga berkembang sebagai pusat pengelolaan, konsolidasi, dan distribusi komoditas pangan dari berbagai daerah.

Ke depan, DPD Tani Merdeka Surabaya berharap dapat membangun kolaborasi konkret dengan Pemerintah Kota Surabaya, pemerintah daerah penghasil pangan, pelaku usaha, serta komunitas pertanian.

Sejumlah agenda yang menjadi perhatian antara lain memperpendek rantai distribusi, memperkuat kepastian pasar bagi petani, memperluas akses perdagangan, serta memastikan masyarakat memperoleh bahan pangan berkualitas dengan harga yang wajar.

Pelantikan kepengurusan di Rumah Bhineka tersebut menjadi langkah awal bagi Aden Darmawan dan jajaran pengurus untuk menerjemahkan gagasan besar itu menjadi program kerja yang nyata.

Sebab, ketahanan pangan bukan hanya persoalan seberapa banyak stok tersedia di pasar maupun gudang penyimpanan. Ketahanan pangan juga menyangkut bagaimana produk dihasilkan, bagaimana hasil panen disalurkan, siapa yang memperoleh manfaat ekonomi, serta sejauh mana masyarakat mampu menjangkau kebutuhan pangan sehari-hari.

Dengan semangat kemitraan dan gotong royong, Tani Merdeka Surabaya ingin mengambil bagian dalam membangun ekosistem pangan yang adil, tangguh, dan berkelanjutan.

Kini, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa kolaborasi tersebut mampu menghadirkan perubahan nyata. Bukan hanya bagi petani sebagai produsen, tetapi juga bagi masyarakat Surabaya sebagai konsumen.

Jika kemitraan rantai pasok dapat diwujudkan secara konsisten, cita-cita menjadikan Surabaya sebagai simpul strategis sekaligus lumbung pangan Jawa Timur bukan sekadar slogan, melainkan peluang besar yang dapat diperjuangkan bersama. (*)