Cyberbullying hingga Konten Negatif Mengintai, Arumi Serukan Pengawasan Gadget Anak

Laporan: Ninis Indrawati
SURABAYA | SUARAGKOBAL.COM – Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi digital, Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin, mengingatkan para orang tua agar tidak lengah dalam mengawasi penggunaan gadget oleh anak-anak sejak usia dini.
Pesan penting itu disampaikan Arumi saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan “Bijak Digital, Anak Terlindungi” yang digelar di Surabaya, Minggu (7/6/2026). Acara tersebut dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari organisasi perempuan, tenaga pendidik, komunitas, hingga pegiat perlindungan anak dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Dalam paparannya, Arumi menyoroti fenomena meningkatnya penggunaan gadget pada anak-anak yang kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, tidak sedikit anak yang telah mengenal smartphone dan internet sebelum memasuki usia sekolah.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata. Orang tua harus hadir sebagai pendamping utama agar anak tidak terjerumus pada dampak negatif penggunaan teknologi yang tidak terkontrol.
“Anak-anak saat ini tumbuh bersama teknologi. Karena itu, orang tua harus hadir sebagai pendamping yang aktif agar penggunaan gadget tetap memberikan manfaat bagi perkembangan mereka,” tegas Arumi di hadapan para peserta.
Arumi menjelaskan, perkembangan teknologi yang begitu cepat membuat dunia digital semakin dekat dengan anak-anak. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan penggunaan telepon seluler dan akses internet pada anak usia dini terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi tidak lagi menjadi kebutuhan orang dewasa semata, melainkan telah menjadi bagian dari keseharian generasi muda Indonesia.
Namun di balik berbagai manfaatnya, penggunaan gadget yang berlebihan juga menyimpan berbagai risiko yang perlu diwaspadai.
Arumi mengingatkan bahwa penggunaan gadget tanpa pengawasan dapat memicu berbagai persoalan, baik dari sisi kesehatan maupun perkembangan sosial anak.
Terlalu lama menatap layar, kata dia, dapat mengurangi aktivitas fisik anak, mengganggu kualitas tidur, hingga menurunkan kemampuan mereka dalam berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sekitar.
Tidak hanya itu, ruang digital juga menyimpan berbagai ancaman yang semakin kompleks. Mulai dari perundungan siber atau cyberbullying, penipuan daring, pencurian data pribadi, hingga paparan konten yang tidak sesuai dengan usia anak.
Karena itu, Arumi meminta para orang tua untuk lebih memahami aktivitas digital anak dan membangun komunikasi yang terbuka dalam keluarga.
“Pengawasan tidak berarti membatasi secara berlebihan, tetapi memastikan anak menggunakan teknologi secara sehat, aman, dan sesuai kebutuhan mereka,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Arumi juga membagikan sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan keluarga dalam mendampingi anak di era digital.
Di antaranya adalah menetapkan aturan penggunaan gadget sesuai usia, mengatur durasi screen time, memilih konten yang aman dan edukatif, serta mengarahkan anak memanfaatkan teknologi untuk belajar dan mengembangkan kreativitas.
Menurutnya, peran orang tua saat ini tidak hanya sebagai pengawas, tetapi juga menjadi sahabat digital yang mampu memberikan pemahaman kepada anak mengenai penggunaan teknologi secara bijak.
Dengan pendampingan yang tepat, gadget tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat mendukung proses belajar dan pengembangan potensi anak.
Pada acara yang sama, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, menegaskan pentingnya literasi digital bagi anak dan keluarga.
Menurutnya, masyarakat perlu membangun budaya digital yang cerdas dengan mengedepankan aspek keamanan, etika, serta tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
Ia berharap semakin banyak keluarga yang memahami pentingnya pendampingan digital sehingga anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang cakap dan aman dalam memanfaatkan internet.
Menutup pemaparannya, Arumi mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga pemerintah untuk bersama-sama menciptakan lingkungan digital yang aman dan ramah anak.
Ia menegaskan bahwa tantangan dunia digital tidak bisa dihadapi sendiri oleh orang tua, melainkan membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak agar anak-anak dapat tumbuh secara sehat di era teknologi.
“Teknologi harus menjadi alat yang mendukung masa depan anak-anak kita. Karena itu, pendampingan orang tua sejak dini menjadi kunci agar mereka tumbuh dengan sehat, aman, dan bahagia di era digital,” pungkas Arumi.
Dengan semakin tingginya penetrasi internet di kalangan anak-anak, pesan Arumi menjadi pengingat penting bahwa kecanggihan teknologi harus diimbangi dengan pendampingan yang kuat dari keluarga. Sebab, di era digital saat ini, perhatian orang tua menjadi benteng utama untuk melindungi anak dari berbagai risiko yang mengintai di balik layar gadget. (*)








Tinggalkan Balasan