Laporan: W Widodo 

KAB. SEMARANG | BERITA-GLOBAL.COM – Setiap menjelang Ramadan, tepatnya pada bulan Sya’ban, masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta, selalu melakukan tradisi Nyadran. Budaya yang telah dijaga selama ratusan tahun ini, dilakukan dengan bersih-bersih makam para orang tua atau leluhur, membuat dan membagikan makanan tradisional, serta berdoa atau selamatan bersama di sekitar area makam.

Dalam kalender Jawa, Bulan Sya’ban disebut dengan Bulan Ruwah, sehingga Nyadran juga dikenal sebagai acara Ruwahan. Dirangkum dari berbagai sumber, tradisi ini adalah hasil akulturasi budaya Jawa dengan Islam. Kata Nyadran berasal dari kata ‘Sraddha’ yang bermakna keyakinan.

Baca Juga:  Pastikan Pelayanan Bantuan Hukum Berjalan Optimal, 60 Organisasi Bantuan Hukum Tanda Tangani Perjanjian Kinerja

Hal tersebut disampaikan oleh Babinsa Keseneng Koramil 10/Sumowono Sertu Nova saat menghadiri acara  Sadranan di Makam Gumuk Kembang Dusun Keseneng Desa Keseneng Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang, Jumat (10/03/2023).

“Nyadran menjadi bagian penting bagi masyarakat Jawa. Sebab, para pewaris tradisi ini menjadikan Nyadran sebagai momentum untuk menghormati para leluhur dan ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Biasanya, Nyadran diadakan satu bulan sebelum dimulainya puasa Ramadhan, atau pada 15, 20, dan 23 bulan Ruwah (Sya’ban)” ungkapnya.

Ditambahkan Sertu Nova Masyarakat yang melakukan tradisi Nyadran percaya, membersihkan makam adalah simbol dari pembersihan diri menjelang Bulan Suci Ramadhan. Bukan hanya hubungan manusia dengan Sang Pencipta, Nyadran dilakukan sebagai bentuk bakti kepada para pendahulu dan leluhur. Kerukunan serta hangatnya persaudaraan sangat terasa setiap kali tradisi Nyadran berlangsung.

Baca Juga:  Pak Cah : Kolaborasi Rumah dan Sekolah, Kurangi Dampak Tantangan Pendidikan di Era Disrupsi

“Nyadran yang telah dijaga selama ratusan tahun, mengajarkan untuk mengenang dan mengenal para leluhur, silsilah keluarga, serta memetik ajaran baik dari para pendahulu. Seperti pepatah Jawa kuno yang mengatakan “Mikul dhuwur mendem jero” yang kurang lebih memiliki makna “ajaran-ajaran yang baik kita junjung tinggi, yang dianggap kurang baik kita tanam dalam-dalam” pungkasnya. (*)