Laporan: Bagas

SURABAYA |  – Kongres XVIII Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung sejak 10 Februari 2025 resmi ditutup pada Sabtu (15/2/2025) di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya. Dalam kongres ini, Khofifah Indar Parawansa kembali dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Pembina Pimpinan Pusat Muslimat NU untuk masa khidmat 2025-2030. Sementara itu, Arifatul Choiri Fauzi terpilih sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU untuk periode yang sama.

Dengan mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, Meneduhkan Peradaban,” kongres ini menegaskan komitmen Muslimat NU dalam memperkuat peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, baik sosial, ekonomi, maupun keagamaan.

Baca Juga:  Rampak Pada Membuka Kejuaraan Pencak Silat Kapolres Ngawi Cup III Tahun 2022

Pesan Para Tokoh NU: Muslimat NU Pilar Peradaban

Penutupan kongres diwarnai dengan pesan-pesan penting dari para ulama NU. Rais Syuriyah PBNU, K.H. Mohammad Nuh, menekankan bahwa Muslimat NU memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan sejarah dan membentuk masa depan umat.

“Panjenengan semua adalah pejuang kemanfaatan. Semoga Allah SWT senantiasa memberkati setiap langkah dan perjuangan yang dilakukan oleh Muslimat NU,” ujarnya.

Baca Juga:  Polres Nganjuk Tangkap Kakek 72 Tahun dalam Kasus Perjudian Togel, Bandar Masih Diburu

Sementara itu, Rais Aam PBNU, K.H. Miftachul Akhyar, yang hadir secara daring, memberikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan kongres.

“Semoga Muslimat NU semakin mendunia serta memberikan kontribusi nyata bagi negara, bangsa, dan agama,” tuturnya.

Baca Juga:  Ayunkan - Ayunkan Pedang di Jalan Bikin Resah Warga, Seorang Mahasiswa di Magelang Diamankan Warga dan Polisi

Khofifah Ajak Muslimat NU Perkuat Dakwah dan Kemandirian

Sebagai Ketua Umum Dewan Pembina yang baru, Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa Muslimat NU harus terus memperkuat dakwah dalam berbagai bentuk, baik melalui bil lisan (perkataan), bil maal (harta), maupun bil hal (tindakan nyata).

“Terima kasih atas dukungan semua pihak dalam penyelenggaraan kongres ini. Mohon maaf jika ada kekurangan. Selamat kembali ke daerah masing-masing, salam hormat untuk keluarga,” kata Khofifah dalam sambutannya.

Baca Juga:  Polda Jatim Bersinergi Gelar Bakti Kesehatan, Layani 1.500 Pasien di Ponorogo

Ketua Panitia Pusat Kongres XVIII Muslimat NU, Aniroh Slamet Effendy Yusuf, juga mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya acara dengan baik. Ia menegaskan bahwa Muslimat NU akan terus berkontribusi dalam mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045.

“Alhamdulillah semua bisa kita lewati dengan baik. Semoga Muslimat NU semakin luas manfaatnya bagi masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga:  Mudik Tanpa Macet! 1.447 Pemudik Merapat di Tanjung Emas dengan Kapal Perang KRI Banda Aceh-593

Rangkaian Acara Penutupan: Kolaborasi Seni, Ibadah, dan Testimoni Peserta

Penutupan Kongres XVIII Muslimat NU juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, di antaranya:

Penampilan Marawis dari SMKN 1 Surabaya yang menjadi juara pertama dalam Muslimat NU Expo 2025.

Baca Juga:  Di Tengah Dominasi BUMN dan Korporasi, Fraksi PKS DPR RI Raih Penghargaan PR Nasional

Pembacaan ayat suci Al-Qur’an dari Surat Ali Imran Ayat 103 oleh Hj. Siti Nur Asiyah dari Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Sumenep.

Testimoni peserta dari berbagai daerah, seperti Mugiyarti dari Papua dan Neila Maghfiroh dari PCI Muslimat NU Luar Negeri di Mesir, yang berbagi pengalaman mereka selama kongres.

Baca Juga:  PKDI Sidoarjo 2025–2029 Resmi Dilantik: Tonggak Baru Sinergi Desa dan Daerah Menuju Kesejahteraan Kolektif

Sebagai tuan rumah, Ketua Pimpinan Wilayah Muslimat NU Jawa Timur, Masruroh Wahid, juga menyampaikan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan acara ini.

“Kami berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras demi suksesnya kongres ini. Semoga Muslimat NU semakin solid dan bermanfaat bagi umat,” tutupnya.

Baca Juga:  Delapan Napiter Nusakambangan Ikrar Setia NKRI, Bapas Turut Kawal Proses Deradikalisasi

Dengan berakhirnya Kongres XVIII ini, Muslimat NU kembali melanjutkan perannya dalam membangun peradaban, memperkuat tradisi, dan meningkatkan kemandirian perempuan di Indonesia. (*)