Penempatan Peserta Magang Dinilai Belum Ideal, Menaker Beri Arahan Perbaikan, Ini Jelasnya
Laporan: V Jaya
MEDAN | SUARAGLOBAL.COM – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli angkat suara keras soal praktik magang yang dinilai belum optimal. Saat meninjau langsung pelaksanaan Magang Nasional 2025 di RS Bunda Thamrin, Rabu (22/4/2026), ia menemukan fakta yang cukup mengusik: masih ada peserta magang lulusan sarjana (S1) yang justru mengerjakan tugas yang tidak sepadan dengan latar belakang pendidikannya.
Temuan itu langsung disorot. Di hadapan manajemen rumah sakit, Yassierli menegaskan bahwa program magang seharusnya menjadi jembatan serius antara dunia pendidikan dan dunia kerja bukan sekadar formalitas.
“Masih ada lulusan S1 yang belum mendapatkan penugasan sesuai tingkat pendidikannya. Ini harus diperbaiki agar pengalaman belajar mereka benar-benar relevan,” tegasnya.
Dalam kunjungan tersebut, Menaker bahkan memberikan arahan langsung kepada direktur rumah sakit agar lebih selektif dan bijak dalam menempatkan peserta magang. Ia menilai, peserta dengan jenjang pendidikan lebih tinggi semestinya diberi tanggung jawab yang mencerminkan kapasitas akademiknya.
“Kepada direktur rumah sakit, saya minta tolong fasilitasi adik-adik belajar. Untuk lulusan S1, sebaiknya dapat diberikan tugas yang lebih menggambarkan tingkat pendidikannya,” ujarnya lugas.
Tak hanya mengkritisi perusahaan, Yassierli juga “menyentil” para peserta magang agar tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menekankan bahwa masa magang adalah fase krusial untuk mengasah kemampuan sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja yang kompetitif.
Menurutnya, magang bukan sekadar hadir dan bekerja, tetapi harus dijalani dengan keseriusan, disiplin tinggi, dan tanggung jawab penuh.
“Gunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Ini adalah proses pembelajaran nyata untuk membangun kompetensi dan kesiapan kerja,” pesannya.
Dalam pelaksanaan Magang Nasional 2025 di RS tersebut, tercatat sebanyak 48 peserta dari batch 2 dan batch 3 ikut ambil bagian. Mereka tersebar di berbagai unit layanan, mulai dari 27 perawat, 13 teknisi listrik dan AC, hingga 8 resepsionis.
Menariknya, program ini juga mulai menunjukkan hasil nyata. Sejumlah peserta bahkan sudah mendapat tawaran untuk bergabung sebagai pekerja tetap dari pihak manajemen rumah sakit—indikasi bahwa program magang bisa menjadi pintu masuk ke dunia kerja profesional.
Di akhir kunjungan, Yassierli berharap program magang ke depan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi sistem pembinaan tenaga kerja yang efektif. Ia menekankan pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan industri agar menghasilkan SDM yang siap pakai dan adaptif terhadap perubahan zaman. (*)




Tinggalkan Balasan