Laporan: Iswahyudi Artya

BLITAR | SUARAGLOBAL.COM – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Timur menggelar workshop edukasi cek fakta untuk masyarakat di Kota Blitar, (06/12/24).

Acara yang digelar di Aula Kecamatan Kepanjenkidul ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat,

Baca Juga:  Kabel Internet Semrawut di Jatim, DPRD Desak Pemda Tegakkan Regulasi

khususnya generasi muda dan aktivis komunitas, mengenai pentingnya memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, guna mencegah penyebaran hoaks.

Workshop ini dihadiri oleh ratusan peserta, termasuk mahasiswa, pengurus Komunitas Informasi Masyarakat (KIM), serta kelompok perempuan penggerak dari wilayah Kota Blitar.

Baca Juga:  Kolaborasi Tiga Lembaga di Surabaya Matangkan Gebyar Jurnalis Nasional 2026: Sinergi Media, Kampus, dan Komunitas untuk Kebangkitan Pers Positif

Dalam kesempatan tersebut, Siti Pruwatiningsih, Ketua Tim Relasi Media Bidang IKP Diskominfo Jawa Timur, mengungkapkan bahwa di era digital, masyarakat dihadapkan pada tantangan untuk memilah informasi yang benar dan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Di zaman sekarang, siapa saja bisa menjadi produsen informasi, sehingga penting bagi kita untuk memverifikasi kebenarannya terlebih dahulu sebelum menyebarkannya. Tanpa verifikasi yang tepat, informasi bisa dengan mudah berubah menjadi hoaks yang meresahkan masyarakat,” kata Siti Pruwatiningsih.

Baca Juga:  Menuju KLA Peringkat Utama, Sidoarjo Tancap Gas dengan Verifikasi Lapangan Hybrid 2025

Dalam workshop ini, para peserta diajarkan tentang teknik-teknik cek fakta yang bisa dilakukan untuk memastikan keakuratan informasi.

Dyah Larasati dan Roziki Alianto, narasumber dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Surabaya, memaparkan pentingnya dua metode utama dalam melawan hoaks, yakni prebunking dan debunking.

Baca Juga:  Plt Bupati Sidoarjo Subandi Pimpin Langsung Normalisasi Sungai Wunut, Fokus Kurangi Banjir di Daerah Rawan

Roziki Alianto menjelaskan bahwa prebunking adalah langkah proaktif untuk mencegah hoaks dengan mengedukasi masyarakat lebih awal, sementara debunking adalah upaya untuk meluruskan informasi yang sudah tersebar.

Sebelum menyebarkan informasi atau membuat konten, pastikan untuk cek fakta dulu. Ini akan membantu kita menghindari penyebaran informasi yang salah,” ujar Roziki.

Baca Juga:  Nuansa Adat Jawa Warnai Purna Wiyata XV SMK MIPHA Parakan, 370 Siswa Lulus Semua!

Kepala Diskominfotik Kota Blitar, Mujiyanto, juga mengungkapkan pentingnya kegiatan ini untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat, terutama generasi muda, dalam menyaring informasi yang mereka terima. Mengingat hampir semua orang kini bergantung pada media sosial untuk mendapatkan informasi, kesadaran akan pentingnya verifikasi fakta sangat diperlukan.

Di era digital ini, semua orang harus bisa memilah dan memilih informasi dengan bijak. Workshop ini sangat bermanfaat agar kita bisa lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi,” ungkap Mujiyanto.

Baca Juga:  Gandeng Warga Jadi Garda Keamanan: Polresta Sidoarjo Kukuhkan Pokdarkamtibmas Bhayangkara

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan cara-cara cek fakta, tetapi juga untuk membangun budaya informasi yang sehat di kalangan masyarakat.

Dengan membekali peserta dengan pengetahuan tentang cara-cara verifikasi informasi, Diskominfo Jatim berharap dapat mengurangi penyebaran hoaks yang sering menimbulkan kebingungan dan konflik di masyarakat.

Baca Juga:  Polres Boyolali Tindak Tegas: Delapan Tersangka Penganiayaan Anak Ditangkap

Melalui workshop ini, kami ingin agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen informasi yang bertanggung jawab,” tutup Siti Pruwatiningsih.

Dengan pelaksanaan workshop ini, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya cek fakta dapat semakin meningkat, terutama di kalangan pemuda dan komunitas yang aktif menggunakan media sosial. (*)