Laporan: Ninis Indrawati

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), wacana mengenai arah kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia kembali menghangat. Di tengah berbagai dinamika yang berkembang, pemerhati sosial keagamaan Abdur Rahman El Syarif menghadirkan sebuah gagasan yang menempatkan maslahah peradaban sebagai fondasi utama kepemimpinan NU dalam menghadapi tantangan global.

Pemikiran tersebut dituangkannya melalui tulisan bertajuk “Melampaui Ontologi: Kepemimpinan NU sebagai Ikhtiar Mewujudkan Maslahah Peradaban.” Tulisan itu sekaligus menjadi respons akademik atas artikel Prof. Dr. Suhermanto Ja’far yang sebelumnya mengangkat tema rekonstruksi ontologi kepemimpinan NU.

Abdur Rahman mengapresiasi upaya memperluas pembahasan kepemimpinan NU dari sekadar tipologi menuju pendekatan ontologis. Namun, menurutnya, konsep tersebut masih memerlukan satu dimensi penting, yakni orientasi pada kemaslahatan sebagai tujuan akhir seluruh proses kepemimpinan.

Baginya, NU sejak awal berdiri bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan institusi peradaban yang tumbuh dari tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, dengan fondasi fiqih, tasawuf, serta hikmah para ulama.

Baca Juga:  Asap Ban Membumbung Tinggi Di Tengah Kampus, Mahasiswa UKSW Serukan Cabut Mandat Rektor

Karena itu, kepemimpinan di tubuh NU tidak cukup hanya dipahami sebagai kemampuan seorang tokoh hadir di tengah perubahan zaman. Lebih dari itu, seorang pemimpin harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi umat, bangsa, bahkan kemanusiaan secara luas.

Dalam pandangannya, tradisi Islam telah lama menempatkan kepemimpinan sebagai instrumen untuk menjaga agama, menegakkan keadilan, melindungi masyarakat, sekaligus mewujudkan kemaslahatan.

Atas dasar itulah, ia menilai konsep maslahah harus menjadi orientasi utama kepemimpinan NU memasuki abad keduanya.

“Pemimpin NU bukan sekadar hadir secara eksistensial di tengah perubahan dunia, tetapi hadir sebagai penjaga kemaslahatan ketika dunia mengalami disrupsi,” tulis Abdur Rahman dalam artikelnya.

Abdur Rahman juga menyoroti perjalanan panjang NU yang dinilainya berhasil mempertahankan eksistensi di berbagai fase sejarah Indonesia.

Mulai dari masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, dinamika politik nasional, hingga memasuki era digital, NU tetap mampu berdiri kokoh karena menjadikan kemaslahatan sebagai landasan setiap langkah organisasi.

Menurutnya, kemampuan menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan itulah yang menjadi kekuatan utama NU selama hampir satu abad perjalanan.

Baca Juga:  Operasi Zebra Semeru 2025 di Tuban: 21 Remaja Balap Liar Diamankan, 17 Motor Disita dalam Razia Tengah Malam

Salah satu gagasan menarik yang ditawarkan Abdur Rahman ialah konsep pemimpin sebagai orkestrator peradaban.

Ia menilai seorang Ketua Umum PBNU tidak harus menjadi pusat dari seluruh perubahan. Sebaliknya, pemimpin justru harus mampu mengorkestrasi seluruh kekuatan organisasi agar bergerak harmonis menuju tujuan bersama.

Dalam praktiknya, Ketua Umum PBNU diharapkan mampu menyinergikan berbagai elemen NU, mulai dari pesantren, badan otonom, lembaga, para kiai, akademisi, profesional, generasi muda, perempuan, hingga masyarakat luas dalam semangat khidmah dan pelayanan kepada umat.

Dengan pendekatan tersebut, kepemimpinan tidak lagi bertumpu pada figur semata, melainkan pada kemampuan membangun kolaborasi yang produktif demi kemajuan organisasi.

Selain menekankan pentingnya kemaslahatan, Abdur Rahman juga mengusulkan model kepemimpinan NU yang menggabungkan tiga karakter utama, yakni inklusif, integratif, dan akademik-kebangsaan.

Menurutnya, ketiga karakter tersebut akan saling melengkapi dalam membangun organisasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap berpijak pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Baca Juga:  Peringati Harlah ke-92! GP Ansor Gowes 123 Km, Satukan Energi Anak Muda Telusuri Jejak Ulama dari Bangkalan ke Jombang

Ia menjelaskan bahwa tipologi kepemimpinan berbicara mengenai kualitas pribadi seorang pemimpin, sedangkan ontologi menjelaskan bagaimana seorang pemimpin hadir di tengah masyarakat.

Sementara itu, maslahah merupakan orientasi sekaligus tujuan akhir yang harus menjadi arah seluruh proses kepemimpinan.

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, Abdur Rahman berharap diskursus yang berkembang tidak berhenti pada persoalan siapa figur yang akan memimpin organisasi.

Ia mengajak seluruh warga NU untuk lebih jauh membahas paradigma kepemimpinan yang akan membawa organisasi menghadapi tantangan global pada abad kedua.

Menurutnya, NU memiliki modal yang sangat besar berupa tradisi keilmuan, adab, tasawuf, serta hikmah para muassis yang telah diwariskan lintas generasi.

Berbekal nilai-nilai tersebut, ia optimistis kepemimpinan NU ke depan mampu menghadirkan kemaslahatan yang semakin luas bagi umat, memperkuat persatuan bangsa, sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam membangun peradaban yang berkeadilan dan membawa rahmat bagi seluruh alam. (*)