Laporan: Ninis Indrawati

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Semangat gotong royong dan kreativitas warga Kelurahan Ngagel Rejo, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya, semakin membara menjelang Lomba Pemanfaatan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan (MAKAN KETAN) Tingkat Kota Surabaya Tahun 2026. Tak ingin sekadar menjadi peserta, warga RT 04 RW 10 tampil total dengan menyulap lahan sempit di lingkungan permukiman menjadi pekarangan produktif yang hijau, asri, sekaligus menghasilkan beragam bahan pangan.

Setiap sudut pekarangan dimanfaatkan secara maksimal. Berbagai media tanam disiapkan, mulai dari pot, polybag hingga rak vertikal. Aneka sayuran, cabai, terong, tanaman obat keluarga (TOGA), rempah-rempah, buah-buahan hingga tanaman sumber protein ditata rapi sebagai bukti keseriusan warga dalam menghadapi lomba bergengsi tersebut.

Persiapan itu mendapat perhatian langsung dari Lurah Ngagel Rejo, Mochammad Imsak, S.Sos. yang hadir meninjau proses penataan pekarangan. Ia didampingi Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat dan Perekonomian, Lilis Purwanti, STP, bersama para kader PKK dari berbagai RW yang turut memberikan dukungan dan semangat kepada warga.

Baca Juga:  Kejutan Kapolres Semarang Untuk Dandim 0714/Salatiga di HUT TNI ke - 73

Dalam ajang tahun ini, Dasa Wisma Gang 1 G Ngagel Dadi dipercaya menjadi wakil Kelurahan Ngagel Rejo untuk bersaing di tingkat Kota Surabaya. Penunjukan tersebut juga disaksikan Pembina Tani Merdeka Indonesia DPD Surabaya, Budi Haryoso, S.Pd., sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan ketahanan pangan berbasis masyarakat.

Tidak hanya mengejar gelar juara, warga menjadikan lomba ini sebagai momentum meningkatkan kesadaran keluarga akan pentingnya memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan yang berkelanjutan. Kaum ibu yang tergabung dalam kelompok Dasa Wisma menjadi motor penggerak dengan melibatkan seluruh anggota keluarga dalam proses penanaman dan perawatan tanaman.

Semangat itu sejalan dengan penerapan konsep AKU HATINYA PKK (Amalkan dan Kukuhkan Halaman Asri, Teratur, Indah, dan Nyaman). Melalui konsep tersebut, pekarangan tidak hanya berfungsi menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi ruang hijau yang bersih, tertata, nyaman, dan menambah keindahan lingkungan.

Baca Juga:  Keributan di Depan SPBU Tengaran Viral, 11 Anak Punk Diamankan Polisi, Ini Jelasnya 

Lomba MAKAN KETAN sendiri bukan sekadar kompetisi menghias pekarangan. Ajang ini menjadi sarana edukasi, pembinaan, evaluasi, sekaligus apresiasi kepada keluarga yang mampu mengelola lahan secara produktif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Dalam proses penilaian, panitia menetapkan sejumlah indikator yang harus dipenuhi peserta. Salah satunya adalah keberagaman komoditas pangan dengan minimal sepuluh jenis tanaman, mulai dari sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, tanaman obat keluarga, rempah-rempah hingga sumber protein.

Tak hanya itu, kondisi tanaman cabai dan terong menjadi perhatian khusus. Kedua komoditas tersebut harus tumbuh subur, produktif, menghasilkan buah berkualitas, serta bebas dari serangan hama maupun penyakit.

Aspek keberlanjutan hasil panen juga menjadi poin penting. Pekarangan yang dikelola diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus memberikan nilai ekonomi tambahan melalui hasil panen yang berkelanjutan.

Panitia juga menilai inovasi budidaya ramah lingkungan, kebersihan dan estetika pekarangan, serta keterlibatan seluruh anggota keluarga dalam merawat tanaman. Bahkan administrasi dan dokumentasi kegiatan menjadi bagian penting dalam penilaian sebagai bentuk pertanggungjawaban pengelolaan pekarangan.

Baca Juga:  SABET THE WINNER OF OGP AWARD 2023 SE ASIA PASIFIC DI ESTONIA, BPHN KEMENKUMHAM HARUMKAN INDONESIA DI MATA DUNIA

Lurah Ngagel Rejo, Mochammad Imsak, memberikan apresiasi atas semangat luar biasa yang ditunjukkan masyarakat. Menurutnya, kekompakan warga menjadi modal utama untuk menampilkan potensi terbaik dalam lomba sekaligus mempertahankan budaya memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga.

Apresiasi juga datang dari salah seorang tokoh masyarakat yang menilai gerakan ini mampu menghadirkan banyak manfaat. Selain memperkuat ketahanan pangan rumah tangga, kegiatan tersebut dinilai semakin mempererat hubungan antarwarga melalui budaya gotong royong yang terus terjaga.

Persiapan menuju Lomba MAKAN KETAN 2026 akhirnya menjadi bukti bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk menghasilkan pangan. Berbekal kreativitas, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan, warga Ngagel Rejo sukses mengubah pekarangan menjadi kebun produktif yang tidak hanya memperkuat kemandirian pangan, tetapi juga menjadikan lingkungan semakin hijau, indah, dan berkelanjutan. (*)