Laporan: Ninis Indrawati

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Ancaman fenomena El Nino mulai menunjukkan dampak nyata di berbagai daerah di Jawa Timur. Curah hujan yang terus menurun membuat debit air sungai dan saluran irigasi menyusut drastis. Akibatnya, ribuan petani kini harus berjuang keras mempertahankan tanaman padi mereka agar tidak mati sebelum masa panen tiba.

Kondisi tersebut mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Jawa Timur Daerah Pemilihan (Dapil) 9, Agus Cahyono, yang akrab disapa Agus Cah. Ia mendesak pemerintah segera mengambil langkah strategis untuk melindungi petani dari ancaman gagal panen akibat kekeringan yang dipicu El Nino.

Menurut Agus, wilayah Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Magetan, hingga Ngawi mulai merasakan dampak kekeringan yang semakin parah. Ketersediaan air untuk mengairi sawah terus berkurang, sementara sebagian besar tanaman padi masih berada pada fase pertumbuhan yang sangat membutuhkan pasokan air.

“Dampak yang paling terasa saat ini adalah berkurangnya ketersediaan air untuk lahan pertanian. Curah hujan yang rendah membuat debit air sungai dan saluran irigasi terus menurun sehingga petani kesulitan mengairi sawah,” ujar Agus, Rabu (29/7/2026).

Baca Juga:  H. Subandi Mantapkan Langkah Perubahan di Sidoarjo: Akses Kesehatan Gratis dan Infrastruktur Merata

Ia menjelaskan, banyak petani kini terpaksa mengandalkan pompa air berbahan bakar minyak maupun listrik untuk mengambil air dari sumber bawah tanah. Meski langkah tersebut mampu menyelamatkan tanaman, biaya operasional yang harus dikeluarkan meningkat tajam sehingga keuntungan hasil panen semakin tergerus.

Bahkan, berdasarkan hasil dialog yang dilakukan bersama kelompok tani di daerah pemilihannya, Agus mengungkapkan tidak sedikit petani yang memilih menghentikan pengairan sawah. Alasannya, biaya untuk membeli bahan bakar atau membayar listrik pompa dinilai lebih besar dibandingkan potensi hasil panen yang akan diperoleh.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan. Petani menghadapi beban biaya yang tinggi hanya untuk mempertahankan tanaman tetap hidup. Pemerintah harus hadir memberikan solusi,” tegasnya.

Baca Juga:  Dalam Pengamanan Haul PSHW Kapolres Ngawi Turun Langsung

Melihat kondisi tersebut, Agus mendorong pemerintah untuk memperkuat kembali program asuransi pertanian sebagai bentuk perlindungan terhadap petani yang mengalami gagal panen akibat bencana kekeringan maupun perubahan iklim ekstrem.

Menurutnya, program tersebut tidak boleh hanya menjadi formalitas, tetapi harus benar-benar mampu memberikan rasa aman kepada petani ketika menghadapi risiko yang berada di luar kendali mereka.

“Program asuransi pertanian harus dievaluasi dan diperkuat sehingga benar-benar memberikan perlindungan kepada petani ketika menghadapi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem,” katanya.

Tak hanya sektor pertanian, Agus juga mengingatkan pemerintah agar mengantisipasi potensi krisis air bersih yang bisa meluas seiring panjangnya musim kemarau.

Ia meminta pemerintah daerah memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari instansi terkait, dunia usaha hingga organisasi kemasyarakatan, agar distribusi bantuan air bersih dapat dilakukan secara cepat, tepat sasaran, dan merata kepada masyarakat yang membutuhkan.

Baca Juga:  Tujuh Jenazah Korban ATR 42-500 Diserahkan, Biddokkes Polda Sulsel Gelar Prosesi Haru dan Penuh Hormat

Menurut Agus, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung, sekaligus meminimalkan dampak sosial akibat kekeringan.

Ia berharap pemerintah tidak menunggu kondisi semakin memburuk sebelum mengambil tindakan. Langkah cepat seperti menjaga ketersediaan air irigasi, memperkuat perlindungan petani melalui asuransi pertanian, serta memastikan pasokan air bersih bagi masyarakat harus segera direalisasikan.

“El Nino bukan hanya ancaman bagi hasil panen, tetapi juga bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Karena itu, pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang cepat, tepat, dan berpihak kepada masyarakat,” pungkas Agus.

Dengan ancaman kemarau yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, berbagai pihak berharap langkah mitigasi segera dijalankan agar sektor pertanian Jawa Timur tetap mampu menopang produksi pangan dan menjaga kesejahteraan para petani di tengah tantangan perubahan iklim. (*)