Laporan: Iswahyudi Artya

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM — Gemerlap panggung Gedung Cak Durasim Surabaya mendadak berubah menjadi hamparan savana penuh warna. Gerakan para penari, koreografi yang dinamis, musik, serta ekspresi panggung berpadu menghadirkan kisah The Lion King dalam sebuah pertunjukan balet kolosal, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Namun, pementasan tersebut bukan sekadar pertunjukan seni.

Di balik setiap gerakan para penari, terselip perjalanan panjang selama seperempat abad yang telah dilalui Premiere School of Ballet dalam membina dan mengembangkan seni balet di Kota Surabaya.

The Lion King dipilih menjadi panggung istimewa untuk menandai 25 tahun perjalanan Premiere School of Ballet. Pertunjukan itu sekaligus menjadi ruang bagi para peserta didik untuk memperlihatkan hasil latihan mereka setelah melalui proses pembelajaran, latihan teknik, hingga persiapan pertunjukan.

Di bawah kepemimpinan Sylvi Panggawean, ST, ARAD, TC, Premiere School of Ballet terus berupaya memberikan ruang kepada anak-anak hingga peserta didik dewasa untuk mengenal, mempelajari, dan mencintai seni balet.

Bagi Sylvi, balet bukan hanya perkara gerakan tubuh yang indah. Di balik setiap langkah, lompatan, putaran, dan koreografi terdapat proses panjang yang membentuk karakter seorang penari.

Disiplin, ketekunan, konsistensi, keberanian tampil, hingga kepercayaan diri menjadi bagian yang terus ditanamkan dalam proses pembinaan.

The Lion King, Saat Balet Menjadi Cerita Kolosal

Cerita populer The Lion King dikemas Premiere dalam format balet kolosal. Para penari tidak sekadar menghafalkan rangkaian gerakan, tetapi dituntut mampu menerjemahkan karakter dan alur cerita melalui bahasa tubuh.

Gerakan, koreografi, musik, serta ekspresi panggung menjadi satu kesatuan yang menghidupkan cerita di hadapan penonton.

Panggung pun menjadi ruang pembuktian bagi para peserta didik. Setelah menjalani latihan secara bertahap, mereka memperoleh kesempatan merasakan atmosfer pertunjukan secara langsung.

Baca Juga:  Operasi Zebra Semeru 2025 di Tuban: 21 Remaja Balap Liar Diamankan, 17 Motor Disita dalam Razia Tengah Malam

Bagi penari muda, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka. Panggung mengajarkan bahwa kemampuan tidak hanya dibentuk melalui latihan di dalam studio, tetapi juga melalui keberanian tampil dan berinteraksi dengan suasana pertunjukan.

The Lion King sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah cerita populer dapat menjadi medium untuk memperkenalkan balet kepada masyarakat secara lebih luas.

Premiere School of Ballet sebelumnya juga telah menghadirkan sejumlah cerita populer dalam format balet. Di antaranya Mulan pada 2015, Shrek pada 2017, dan Moana pada 2025.

Deretan produksi tersebut menunjukkan konsistensi Premiere dalam menghadirkan pertunjukan yang memadukan seni balet dengan cerita yang familiar bagi penonton.

Strategi tersebut membuat balet tidak terasa sebagai seni yang berjarak. Sebaliknya, cerita yang sudah dikenal masyarakat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan keindahan koreografi, teknik, musik, ekspresi, dan disiplin dalam dunia balet.

Seperempat Abad Menanamkan Cinta pada Balet

Perayaan 25 tahun menjadi penanda penting perjalanan Premiere School of Ballet di Surabaya.

Selama seperempat abad, Premiere memberikan kesempatan kepada masyarakat dari berbagai kelompok usia untuk mempelajari seni balet.

Menariknya, pembelajaran tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak. Peserta didik dapat mulai mengenal balet sejak usia 2,5 tahun hingga pemula dewasa.

Rentang usia yang luas tersebut membuat proses pembinaan membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Sylvi bersama tim pengajar menyesuaikan proses pembelajaran dengan usia, kemampuan, serta perkembangan masing-masing peserta. Peserta didik dibimbing secara bertahap agar mampu berkembang sesuai potensi mereka.

Dalam proses tersebut, kemampuan teknik menjadi salah satu bagian penting. Namun, Premiere juga menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian dari perjalanan belajar.

Baca Juga:  PLN UIT JBM Pastikan Kelistrikan Selama Ramadan Aman

Para peserta didik dibiasakan untuk memahami arti disiplin, konsistensi, ketekunan, serta tanggung jawab terhadap proses latihan.

Dari ruang latihan itulah kemudian lahir keberanian untuk berdiri di atas panggung.

Dalam menjalankan pembinaan, Sylvi juga mendapatkan dukungan dari sejumlah asisten, yakni Michelle, Zendy, Lita, Jasmine, dan Michael.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga proses pembelajaran agar berjalan secara berkelanjutan.

Panggung Selesai, Latihan Kembali Dimulai

Tepuk tangan dan gemerlap pertunjukan The Lion King memang telah berakhir.

Namun, bagi Premiere School of Ballet, berakhirnya sebuah pertunjukan justru menjadi awal dari proses berikutnya.

Para penari kembali ke ruang latihan. Proses pembelajaran terus berjalan. Teknik kembali diasah, gerakan diperbaiki, dan kemampuan terus dikembangkan.

Inilah filosofi pembinaan yang terus dijaga Premiere.

Pertunjukan bukan menjadi tujuan akhir, melainkan bagian dari proses pendidikan dan pengalaman bagi para penari.

Setiap pementasan menjadi kesempatan bagi peserta didik untuk menguji kemampuan, membangun keberanian, sekaligus memahami bagaimana kerja keras selama latihan diterjemahkan menjadi sebuah pertunjukan.

Dengan demikian, panggung The Lion King bukan hanya menjadi perayaan 25 tahun, tetapi juga menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang regenerasi penari.

Melebarkan Sayap hingga Surabaya Barat dan Malang

Seiring perjalanan waktu, pembinaan Premiere School of Ballet juga terus diperluas.

Jangkauan kegiatan pembinaan kini mencakup wilayah Surabaya Barat dan Malang.

Langkah tersebut membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat yang ingin mengenal seni balet maupun mengembangkan kemampuan mereka secara lebih serius.

Perluasan pembinaan sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan seni balet.

Baca Juga:  Kurang dari 24 Jam, Pelaku Pembacokan Brutal di Surabaya Berhasil Dibekuk Satreskrim Polres Tanjung Perak

Sebab, regenerasi tidak mungkin berjalan tanpa adanya ruang bagi generasi baru untuk belajar.

Dari anak-anak yang baru mengenal gerakan dasar hingga peserta didik yang mulai serius mengembangkan kemampuan, setiap individu memiliki kesempatan untuk tumbuh sesuai prosesnya.

Menyiapkan Generasi Penerus

Di balik perayaan seperempat abad tersebut, terdapat harapan besar agar seni balet tidak berhenti pada satu generasi.

Sylvi berharap para penari muda yang kini mendapatkan pembinaan dapat mempertahankan kecintaan mereka terhadap balet dan suatu hari meneruskannya kepada generasi berikutnya.

“Semoga kelak para generasi muda bisa mewarisi bakat ini dan meneruskannya pada generasi berikutnya,” ujar Sylvi.

Pesan tersebut menjadi gambaran semangat Premiere School of Ballet dalam membangun pembinaan yang berkelanjutan.

Selama 25 tahun, Premiere tidak hanya mengajarkan bagaimana melakukan gerakan balet dengan tepat. Lebih dari itu, proses pembelajaran diarahkan untuk membentuk kedisiplinan, konsistensi, ketekunan, keberanian, dan rasa percaya diri.

The Lion King akhirnya menjadi simbol perjalanan tersebut.

Di atas panggung, para penari tampil membawa cerita. Di balik panggung, ada latihan panjang dan kerja keras. Sementara di luar panggung, ada sebuah proses pembinaan yang terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Seperempat abad telah dilewati. Namun perjalanan Premiere School of Ballet tampaknya belum selesai.

The Lion King menjadi panggung perayaan 25 tahun, tetapi cerita berikutnya masih terus ditulis melalui langkah-langkah kecil para penari di ruang latihan, hingga kelak kembali menjelma menjadi lompatan besar di atas panggung.

Dari Surabaya, semangat itu terus bergerak: menari hari ini, mencetak talenta untuk masa depan. (*)