Laporan: Tedy M

SUKOHARJO | SUARAGLOBAL.COM — Perempuan tak lagi sekadar menjadi penonton dalam panggung pembangunan. Dari ruang keluarga hingga arena politik, perempuan memiliki posisi strategis untuk ikut menentukan arah masa depan masyarakat dan bangsa.

Pesan itulah yang mengemuka dalam kegiatan Pendidikan Politik bagi Perempuan bersama Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kabupaten Sukoharjo, yang digelar di Ruang Paripurna DPRD Kabupaten Sukoharjo, Senin (24/8/2026).

Hj. Ida Nurul Farida yang hadir sebagai narasumber menegaskan, perempuan harus terus didorong agar memiliki kapasitas, keberanian, kesempatan, sekaligus ruang untuk berkembang. Sebab, ketika perempuan mampu berdaya dan menjalankan perannya dengan bahagia, dampaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri.

Kekuatan itu, kata Ida, akan menjalar ke keluarga, lingkungan sosial, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Ketika perempuan berdaya dan bahagia, maka keluarga kuat, masyarakat maju, dan bangsa pun tumbuh,” ujar Ida dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan pendidikan politik itu diikuti kalangan perempuan yang berasal dari partai politik di Kabupaten Sukoharjo. Forum tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas perempuan agar semakin percaya diri mengambil bagian dalam proses politik dan pengambilan keputusan publik.

Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya perwakilan DP3AP2KB Provinsi Jawa Tengah Melati Diah Pamungkas, Sekretaris DPD KPPI Jawa Tengah Inna Nadia Nala, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Hj. Kadarwati, serta Ketua DPC KPPI Kabupaten Sukoharjo Debora Melani Astuti.

Baca Juga:  Sinergi dan Integritas Berbuah Prestasi, Tim Keuangan Ditjenpas Jateng Raih Predikat IKPA Sangat Baik

Dalam pemaparannya, Ida mengajak peserta melihat peran perempuan secara lebih luas. Menurutnya, kehidupan keluarga dan ruang publik bukanlah dua dunia yang harus dipertentangkan.

Perempuan tetap dapat menjadi sosok penting di dalam keluarga sekaligus berkontribusi di tengah masyarakat.

Di lingkungan keluarga, perempuan memiliki peran besar dalam menciptakan suasana rumah yang sehat, mendampingi anggota keluarga, mendidik anak, sekaligus menjadi sumber keteladanan.

Namun, peran tersebut tidak berarti membatasi langkah perempuan untuk berkiprah di luar rumah.

Di ruang publik, perempuan dapat mengambil peran dalam berbagai bidang, termasuk politik, sosial, pendidikan, ekonomi, hingga pembangunan.

Karena itu, menurut Ida, perempuan perlu mendapatkan akses terhadap pendidikan dan penguatan kapasitas agar mampu menjalankan berbagai peran tersebut secara seimbang.

Ia menilai, pendidikan politik menjadi salah satu instrumen penting untuk membangun keberanian perempuan dalam memasuki ruang pengambilan keputusan.

Bukan hanya soal memahami politik, pendidikan tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kemampuan kepemimpinan, pengetahuan, komunikasi, serta kepekaan perempuan terhadap berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.

Ida juga menyampaikan pesan reflektif mengenai perjalanan perempuan dalam menjalankan beragam peran kehidupan.

Baca Juga:  Sinergi Polres Salatiga–Dishub, Rampcheck Bus Digelar di Terminal Tipe A Tingkir

“Di antara rumah dan dunia, perempuan berjalan bukan untuk membagi diri, tapi untuk menyatukan makna.”

Kalimat tersebut menjadi salah satu pesan kuat yang disampaikan kepada para peserta.

Menurut Ida, perempuan tidak harus dihadapkan pada pilihan antara menjadi bagian penting dari keluarga atau aktif di ruang publik. Keduanya dapat berjalan beriringan selama dilakukan dengan kesadaran, kebijaksanaan, serta tetap berpegang pada nilai-nilai keluarga.

Dengan perspektif tersebut, perempuan tidak perlu merasa bahwa keterlibatannya dalam kehidupan sosial dan politik akan mengurangi perannya di dalam keluarga.

Sebaliknya, keterlibatan perempuan di ruang publik justru dapat menjadi sarana memperluas manfaat dan kontribusi.

Kegiatan bersama KPPI Kabupaten Sukoharjo tersebut tidak hanya menjadi forum penyampaian materi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang konsolidasi dan penguatan kapasitas bagi perempuan yang terlibat dalam kehidupan politik.

Para peserta didorong untuk semakin percaya diri menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, serta memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Kehadiran perempuan dalam politik juga dinilai penting untuk memastikan perspektif perempuan ikut masuk dalam proses perumusan kebijakan.

Dengan demikian, keterlibatan perempuan tidak berhenti pada jumlah keterwakilan. Perempuan juga diharapkan memiliki kapasitas untuk memberikan kontribusi nyata dalam proses pembangunan.

Baca Juga:  Peredaran Narkoba Lintas Pulau Berhasil Dibongkar, 6 Tersangka Diamankan Polisi

Ketua DPC KPPI Kabupaten Sukoharjo, Debora Melani Astuti, menyampaikan apresiasi atas materi dan motivasi yang diberikan Ida Nurul Farida.

Ia berharap kegiatan pendidikan politik bagi perempuan dapat terus digelar secara berkelanjutan. Dengan pembinaan yang konsisten, kapasitas dan kepemimpinan perempuan di Kabupaten Sukoharjo diharapkan semakin kuat.

Bagi KPPI, penguatan perempuan dalam politik merupakan bagian dari upaya mendorong terciptanya kehidupan politik yang lebih inklusif sekaligus membuka ruang lebih luas bagi perempuan untuk berkontribusi.

Semangat yang dibawa dalam kegiatan tersebut pada akhirnya bermuara pada satu pesan: perempuan yang berdaya akan menjadi kekuatan besar bagi lingkungan di sekitarnya.

Ketika perempuan memiliki pengetahuan, kapasitas, kesempatan, serta keberanian untuk mengambil peran, kontribusinya dapat dirasakan mulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga, hingga ruang masyarakat dan pembangunan bangsa.

Keluarga yang kuat membutuhkan perempuan yang memiliki ruang untuk tumbuh. Masyarakat yang maju membutuhkan perempuan yang berani bersuara. Sementara pembangunan bangsa membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk perempuan.

Melalui pendidikan politik, KPPI bersama berbagai pihak berupaya membuka ruang tersebut.

Sebab, membangun perempuan bukan hanya berbicara mengenai perempuan. Ketika perempuan semakin berdaya, yang ikut tumbuh adalah keluarga, masyarakat, dan masa depan bangsa. (*)