Gus Saipul Ingatkan Muktamar NU ke-35: Beda Pilihan Jangan Jadi Biang Perpecahan

Laporan: Ninis Indrawati
JOMBANG | SUARAGLOBAL.COM – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang menjadi ruang penting bagi warga dan peserta muktamar untuk menyampaikan berbagai gagasan, pandangan, serta pilihan terkait arah organisasi ke depan.
Di tengah dinamika persidangan dan proses pengambilan keputusan, perbedaan pendapat dinilai sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan organisasi. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh berkembang menjadi konflik yang berujung pada perpecahan.
Pesan tersebut disampaikan mantan Wakil Gubernur Jawa Timur, Gus Saipul. Ia mengingatkan seluruh peserta Muktamar NU ke-35 agar menyikapi perbedaan pandangan dengan kepala dingin dan mengedepankan kepentingan organisasi.
Menurut Gus Saipul, muktamar merupakan forum resmi yang memang memberikan ruang kepada setiap peserta untuk menyampaikan pendapat. Karena itu, setiap pandangan, termasuk pendapat yang berbeda dari mayoritas, tetap harus dihargai dan diberikan kesempatan untuk disampaikan.
Bagi Gus Saipul, perbedaan pendapat tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi persatuan. Sebaliknya, keberagaman pandangan dapat menjadi bagian dari proses untuk menghasilkan keputusan organisasi yang lebih matang.
“Peserta yang berbeda pendapat diberikan kesempatan, kemudian diambil kesimpulan dan seterusnya ditaati bersama-sama sebagai satu keputusan,” kata Gus Saipul.
Voting Bukan Akhir dari Persatuan
Gus Saipul juga menyinggung mekanisme voting sebagai salah satu pilihan yang dapat ditempuh ketika forum belum menemukan titik temu melalui musyawarah.
Menurutnya, ketika argumentasi dan proses pembahasan belum menghasilkan kesepakatan bersama, mekanisme pengambilan suara dapat menjadi jalan untuk menentukan keputusan secara organisatoris.
Namun, hasil voting semestinya tidak membuat pihak yang berbeda pilihan kemudian terus mempertahankan perbedaan setelah keputusan ditetapkan.
Justru, setelah keputusan lahir melalui mekanisme yang disepakati dalam forum, seluruh peserta memiliki tanggung jawab untuk menghormati hasil tersebut.
Ia menegaskan, keputusan yang telah ditetapkan melalui forum muktamar harus menjadi pijakan bersama bagi organisasi dalam menjalankan langkah-langkah berikutnya.
Dengan demikian, proses demokrasi di dalam organisasi tidak berhenti pada siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih jauh, proses tersebut harus berakhir pada kesediaan seluruh pihak menerima keputusan dan kembali berjalan bersama.
Kepentingan NU Harus di Atas Pilihan Kelompok
Gus Saipul berharap perbedaan pandangan yang muncul selama Muktamar NU ke-35 tidak terus dipertajam setelah keputusan forum ditetapkan.
Menurutnya, setiap peserta tentu memiliki pilihan dan argumentasi masing-masing. Namun, kepentingan organisasi harus ditempatkan lebih tinggi dibanding kepentingan kelompok maupun pilihan pribadi.
Perbedaan, kata dia, justru dapat memberikan warna dalam proses pengambilan keputusan. Selama seluruh pihak tetap menjaga etika, persaudaraan dan persatuan, perbedaan tersebut dapat menjadi kekuatan organisasi.
Karena itu, ia mengajak seluruh peserta muktamar untuk menjadikan forum sebagai tempat beradu gagasan, bukan ruang untuk memperbesar perselisihan.
Muktamar, lanjutnya, harus menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi dan kebersamaan warga NU.
Batas Dukungan Jadi Bahan Evaluasi
Dalam kesempatan tersebut, Gus Saipul juga menyoroti pembahasan mengenai batas minimal dukungan dalam proses pengambilan keputusan.
Ia menyebut persoalan tersebut masih menarik untuk menjadi bahan pembahasan setelah proses voting selesai.
Evaluasi terhadap mekanisme pengambilan keputusan dinilai penting agar pelaksanaan muktamar berikutnya dapat berlangsung semakin baik. Namun, pembahasan mengenai aturan dan mekanisme tersebut hendaknya tetap ditempatkan dalam kerangka memperkuat organisasi.
Menurut Gus Saipul, dinamika yang terjadi dalam sebuah forum besar seperti muktamar merupakan bagian dari proses demokrasi organisasi. Yang paling penting adalah bagaimana setiap dinamika tersebut dapat dikelola sehingga tidak mengganggu soliditas organisasi.
Sholawatan Warnai Semarak Muktamar
Di luar ruang persidangan, Gus Saipul turut memberikan apresiasi terhadap partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan yang mengiringi Muktamar NU ke-35.
Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian adalah sholawatan yang melibatkan masyarakat. Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap momentum muktamar.
Kehadiran masyarakat dalam berbagai kegiatan pendukung menjadi warna tersendiri dalam pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Jombang.
Bagi Gus Saipul, semarak kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa muktamar bukan hanya menjadi agenda internal organisasi, tetapi juga memiliki daya tarik dan makna bagi masyarakat luas.
Ia berharap seluruh rangkaian Muktamar NU ke-35 dapat berakhir dengan suasana yang sejuk dan membawa manfaat bagi organisasi.
Setelah Muktamar, Saatnya Kembali Bersatu
Gus Saipul menekankan bahwa perbedaan pilihan merupakan bagian dari proses menuju keputusan. Karena itu, setelah proses pemilihan dan pengambilan keputusan selesai, seluruh peserta diharapkan kembali merapatkan barisan.
Tidak boleh ada lagi sekat antara pihak yang memiliki pilihan berbeda. Keputusan yang telah ditetapkan forum harus dihormati dan dijalankan secara bersama-sama.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah dinamika Muktamar NU ke-35 yang mempertemukan banyak gagasan dan kepentingan organisasi.
Pada akhirnya, muktamar bukan sekadar menentukan siapa yang memperoleh dukungan terbanyak. Lebih dari itu, muktamar menjadi momentum untuk menentukan arah perjalanan organisasi.
Karena itu, perbedaan pendapat hendaknya menjadi energi untuk memperkaya gagasan, bukan bahan untuk memecah persaudaraan.
Gus Saipul berharap seluruh peserta mampu mengakhiri setiap perbedaan dengan sikap dewasa dan kembali menempatkan kepentingan NU sebagai prioritas utama.
Dengan semangat tersebut, hasil Muktamar NU ke-35 diharapkan tidak hanya melahirkan keputusan strategis, tetapi juga memperkokoh kebersamaan dan soliditas organisasi dalam menghadapi tantangan NU ke depan. (*)












Tinggalkan Balasan