Muktamar ke-35 NU di Jombang: Adu Gagasan Memuncak, Arah Baru Organisasi Mulai Dirumuskan

Laporan: Ninis Indrawati
JOMBANG | SUARAGLOBAL.COM – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang memasuki fase penting. Sidang pleno dan komisi menjadi arena utama bagi para muktamirin untuk membahas berbagai persoalan strategis sekaligus merumuskan arah perjalanan organisasi dalam menghadapi perubahan zaman.
Ruang-ruang persidangan menjadi tempat bertemunya beragam pandangan. Para peserta dari berbagai daerah membawa aspirasi yang lahir dari dinamika organisasi di wilayah masing-masing, mulai dari pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, lembaga NU, badan otonom hingga masyarakat Nahdliyin di akar rumput.
Suasana persidangan berlangsung serius. Setiap gagasan dipertukarkan, dikaji dan diperdebatkan untuk mencari rumusan yang dianggap paling tepat bagi kepentingan organisasi dan warga NU.
Muktamar yang berlangsung pada 29 Agustus 2026 tersebut pun tidak sekadar menjadi forum untuk membicarakan kepemimpinan organisasi. Lebih jauh, momentum lima tahunan ini menjadi ruang evaluasi sekaligus konsolidasi untuk menentukan langkah NU menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Sidang Komisi, Dapur Gagasan NU
Sidang komisi menjadi salah satu bagian paling penting dalam rangkaian Muktamar ke-35. Di ruang inilah berbagai persoalan strategis organisasi dibedah lebih mendalam sebelum hasilnya dibawa ke forum pleno.
Sejumlah bidang menjadi perhatian, antara lain penguatan keagamaan, pendidikan, ekonomi, sosial kemasyarakatan, kaderisasi hingga kelembagaan organisasi.
Perubahan zaman membuat tantangan yang dihadapi NU semakin beragam. Transformasi digital, perubahan karakter generasi muda, perkembangan ekonomi, pergeseran sosial serta derasnya arus informasi menuntut NU untuk mampu beradaptasi.
Namun, adaptasi tersebut tidak berarti meninggalkan akar tradisi.
Identitas Aswaja, tradisi pesantren dan nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi NU tetap menjadi pijakan. Tantangannya adalah bagaimana nilai tersebut dapat diterjemahkan ke dalam bentuk gerakan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Karena itu, pembahasan di ruang komisi tidak cukup berhenti pada rumusan normatif.
Setiap gagasan dituntut memiliki arah yang jelas. Program yang lahir dari keputusan Muktamar idealnya mempunyai sasaran, indikator keberhasilan dan manfaat yang dapat dirasakan warga NU maupun masyarakat luas.
Di sinilah sidang komisi menjadi semacam “dapur” tempat gagasan organisasi diramu sebelum disajikan dalam keputusan Muktamar.
Pleno Menjadi Arena Menentukan Keputusan
Setelah melalui pembahasan di tingkat komisi, sidang pleno menjadi tahapan penting untuk menguji sekaligus menetapkan berbagai rumusan yang telah dibahas.
Forum pleno menjadi tempat bertemunya berbagai hasil pemikiran. Perbedaan pandangan yang muncul kemudian diarahkan untuk menemukan titik temu.
Dalam organisasi sebesar NU, perbedaan pendapat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika organisasi.
Ribuan peserta datang dengan latar belakang, pengalaman dan persoalan daerah yang berbeda. Karena itu, keseragaman pandangan bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan Muktamar.
Justru kemampuan mengelola perbedaan menjadi keputusan yang konstruktif menjadi salah satu tantangan terbesar forum tersebut.
Muktamar pada akhirnya dituntut menghasilkan keputusan yang tidak hanya dapat diterima forum, tetapi juga mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi organisasi dan masyarakat.
Ribuan Muktamirin Membawa Suara Daerah
Kehadiran muktamirin dari berbagai penjuru Indonesia memperlihatkan besarnya energi organisasi yang berkumpul di Jombang.
Mereka datang tidak sekadar membawa mandat administratif. Di balik mandat tersebut terdapat aspirasi dari struktur NU dan warga Nahdliyin di daerah masing-masing.
Persoalan pendidikan, misalnya, memiliki tantangan berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Begitu pula persoalan ekonomi, kaderisasi, penguatan struktur organisasi dan pemberdayaan masyarakat.
Suara dari pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, badan otonom hingga masyarakat akar rumput menjadi bagian dari dinamika yang menghidupkan forum Muktamar.
Dari sinilah Muktamar menjadi lebih dari sekadar agenda formal lima tahunan.
Ia menjadi ruang konsolidasi besar-besaran untuk mempertemukan persoalan di tingkat bawah dengan kebijakan organisasi di tingkat nasional.
Tantangan Terbesar Justru Setelah Muktamar
Palu sidang mungkin menjadi tanda berakhirnya sebuah pembahasan. Namun, bagi NU, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah seluruh keputusan ditetapkan.
Keputusan Muktamar harus diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Rumusan tentang pendidikan harus mampu memberikan dampak bagi lembaga pendidikan NU. Agenda pemberdayaan ekonomi harus menyentuh warga. Kaderisasi harus melahirkan generasi penerus yang berkualitas.
Begitu pula penguatan kelembagaan harus terasa hingga struktur NU di tingkat paling bawah.
Dengan demikian, keberhasilan Muktamar tidak cukup diukur dari banyaknya keputusan yang berhasil ditetapkan.
Ukuran yang jauh lebih penting adalah sejauh mana keputusan tersebut dapat dilaksanakan secara konsisten dan memberikan perubahan nyata.
Jangan sampai keputusan Muktamar hanya berakhir sebagai dokumen yang tersimpan di lemari organisasi.
Dibutuhkan kesinambungan antara keputusan, program kerja, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. Tanpa itu, gagasan besar yang lahir dari ruang persidangan berpotensi kehilangan daya dorong ketika berhadapan dengan persoalan di lapangan.
Menjaga Tradisi, Menjawab Zaman
Muktamar ke-35 NU pada akhirnya menghadapkan organisasi pada pertanyaan mendasar: bagaimana mempertahankan kekuatan tradisi sekaligus memastikan NU tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini?
NU memiliki modal sosial yang besar.
Jaringan ulama, pesantren, lembaga pendidikan dan struktur organisasi yang mengakar hingga masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menghadapi perubahan.
Namun, modal tersebut harus dibarengi dengan kemampuan berinovasi.
Generasi muda hidup dalam ekosistem yang berbeda. Teknologi digital mengubah cara orang memperoleh informasi, berkomunikasi dan membangun komunitas. Persoalan ekonomi juga berkembang semakin kompleks.
Dalam situasi tersebut, NU dituntut mampu menjadikan kekuatan tradisinya sebagai fondasi untuk melahirkan inovasi, bukan sebagai penghalang perubahan.
Dari Jombang untuk Masa Depan NU
Ruang-ruang persidangan Muktamar ke-35 menjadi saksi bagaimana ribuan muktamirin memperdebatkan gagasan dan menyusun berbagai rumusan untuk masa depan organisasi.
Perdebatan tersebut pada akhirnya harus bermuara pada satu tujuan: memperkuat NU dan memperbesar manfaatnya bagi umat serta masyarakat.
Kini, perhatian beralih kepada hasil akhir Muktamar.
Masyarakat menunggu apakah berbagai gagasan yang mengemuka dalam persidangan mampu menjelma menjadi keputusan strategis yang menjawab kebutuhan zaman.
Sebab, palu sidang boleh menjadi penanda berakhirnya persidangan. Namun bagi NU, keputusan Muktamar justru merupakan awal dari pekerjaan yang lebih panjang.
Rumusan harus diubah menjadi gerakan. Gagasan harus diterjemahkan menjadi program. Dan keputusan organisasi harus benar-benar hadir di tengah masyarakat.
Muktamar ke-35 NU dengan demikian bukan sekadar forum lima tahunan.
Dari Jombang, arah baru Nahdlatul Ulama sedang dirumuskan. Setelah itu, seluruh keputusan akan menghadapi ujian yang sebenarnya: seberapa jauh mampu diwujudkan menjadi kerja nyata dan dirasakan manfaatnya oleh warga Nahdliyin serta masyarakat luas. (*)












Tinggalkan Balasan