Laporan: Wahyu Widodo

JAKARTA | SUARAGLOBAL.COM – Prestasi gemilang di panggung internasional ternyata tidak lahir dalam semalam. Di balik sebuah medali emas, ada perjalanan panjang, latihan yang konsisten, kegagalan yang menjadi pengalaman, serta pembinaan yang terus menempa kemampuan.

Kisah itu tergambar dalam perjalanan Luvidi Pranawa Alghari, murid kelas 11 SMAS Pribadi Beji, Depok, Jawa Barat. Ketertarikannya terhadap matematika dan pemrograman sejak sekolah dasar perlahan membawanya menapaki kompetisi talenta dari tingkat nasional hingga internasional.

Puncaknya, Luvidi berhasil meraih medali emas International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI) 2026 di Astana, Kazakhstan.

Capaian tersebut sekaligus menjadi peningkatan prestasi dibandingkan tahun sebelumnya. Pada IOAI 2025 di Beijing, Luvidi berhasil membawa pulang medali perak.

Namun, emas IOAI 2026 bukanlah prestasi yang berdiri sendiri. Sebelum sampai ke panggung internasional, Luvidi telah lebih dahulu mengukir prestasi dalam ajang talenta nasional.

Perjalanannya tercatat sejak 2023 ketika ia meraih medali perak OSN jenjang pendidikan dasar cabang matematika. Setahun kemudian, prestasinya meningkat setelah ia berhasil merebut medali emas OSN jenjang pendidikan menengah cabang informatika.

Dari sinilah jalan menuju kompetisi kecerdasan artifisial terbuka semakin lebar.

Dari Matematika, Berlanjut ke Pemrograman dan AI

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Luvidi telah memiliki ketertarikan terhadap matematika. Ia kemudian mencoba berbagai kompetisi untuk mengasah kemampuan sekaligus menguji dirinya.

“Tahun 2023, saya ikut OSN SMP cabang ajang matematika dan mendapat medali perak. Tahun 2024, saya mendapat medali emas OSN cabang ajang informatika,” tutur Luvidi.

Prestasi di bidang matematika dan informatika tersebut kemudian menjadi bekal penting ketika Luvidi mengikuti proses seleksi untuk menjadi bagian dari delegasi Indonesia pada IOAI.

Pada 2025, kesempatan itu datang. Luvidi lolos seleksi dan menjadi bagian dari delegasi Indonesia dalam IOAI di Beijing. Hasilnya cukup membanggakan, yakni medali perak.

Alih-alih berhenti pada pencapaian tersebut, Luvidi kembali menghadapi tantangan berikutnya.

Pada awal 2026, ia mendapat kesempatan mengikuti seleksi IOAI 2026. Proses tersebut kembali membawanya ke panggung internasional.

Kali ini hasilnya lebih gemilang.

Luvidi berhasil mengubah medali perak menjadi medali emas IOAI 2026 di Astana, Kazakhstan.

Baca Juga:  Seluruh Personel Bhabinkamtibmas Polres Salatiga Jalani Rapid Test, Antisipasi Penularan Covid-19

“Awal tahun 2026 ini, saya diundang untuk ikut seleksi IOAI 2026 dan mendapat medali emas di Astana, Kazakhstan,” ujarnya.

Menariknya, ketertarikan Luvidi terhadap kecerdasan artifisial justru berkembang dari dua bidang yang sebelumnya sudah ia sukai, yakni matematika dan pemrograman.

Ketika mengikuti proses seleksi dan pembinaan IOAI, ia mendapatkan kesempatan untuk mempelajari kecerdasan artifisial secara lebih mendalam.

Dari proses itulah muncul ketertarikan baru.

“Karena awalnya saya tertarik pada matematika dan pemrograman, jadi saya mencoba ikut seleksi IOAI. Di sana, saya belajar lebih banyak tentang kecerdasan artifisial dan saya tertarik,” ungkapnya.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa minat seorang murid dapat berkembang ketika diberikan ruang, kesempatan, serta lingkungan yang mendukung.

Apa yang awalnya hanya berupa ketertarikan terhadap matematika dan pemrograman, kemudian berkembang menjadi kemampuan yang mengantarkannya meraih penghargaan internasional di bidang kecerdasan artifisial.

Tak Selalu Mudah, Latihan Jadi Kunci

Di balik sederet prestasi tersebut, perjalanan Luvidi tentu tidak selalu berjalan mulus.

Salah satu tantangan yang dihadapinya adalah keterbatasan soal-soal latihan untuk olimpiade kecerdasan artifisial jika dibandingkan dengan beberapa bidang olimpiade lainnya.

Kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti.

Luvidi memilih membangun kebiasaan belajar secara rutin. Ia berusaha menggunakan waktu luang untuk berlatih dan memperdalam materi yang berkaitan dengan bidang yang ditekuninya.

Ia juga bergabung dengan sejumlah komunitas olimpiade kecerdasan artifisial yang beranggotakan peserta dari berbagai negara.

“Usahakan rutin belajar hampir setiap hari atau saat ada waktu luang. Saya juga ikut beberapa komunitas olimpiade kecerdasan artifisial yang anggotanya dari berbagai negara,” katanya.

Bagi Luvidi, komunitas bukan hanya menjadi tempat untuk belajar. Lingkungan tersebut juga membuka kesempatan untuk bertukar pengalaman, berdiskusi, dan mengenal peserta lain yang memiliki minat serupa.

Pembinaan Jadi Bagian Penting

Perjalanan menuju prestasi internasional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu. Bagi Luvidi, pembinaan yang diberikan melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) juga menjadi bagian penting dalam proses pengembangan dirinya.

Dalam pembinaan internasional, ia mendapatkan kesempatan belajar dari para ahli di bidangnya.

Tidak kalah penting, ia juga bertemu dengan murid-murid dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki ketertarikan dan semangat yang sama.

Baca Juga:  Gerak Cepat Atasi Keluhan Warga Kurang Mampu, Pj Gubernur Sumut Kunjungi Sakira Nayla Lubis yang Mengalami Cedera Tengkorak Kepala

“Saat mengikuti pembinaan, saya bertemu banyak teman dengan ketertarikan yang serupa. Selain itu, banyak diajarkan oleh para ahli di bidangnya,” ungkap Luvidi.

Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga. Pembinaan tidak sekadar mempersiapkan peserta menghadapi kompetisi, tetapi juga memperluas wawasan dan jejaring para talenta muda.

Prestasi Nasional Bukan Garis Akhir

Perjalanan Luvidi sekaligus memperlihatkan bahwa ajang talenta nasional bukan semata-mata tempat untuk mencari pemenang.

Lebih dari itu, kompetisi dapat menjadi pintu awal untuk menemukan murid dengan potensi tertentu, kemudian mengembangkannya melalui pembinaan secara berkelanjutan.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Puspresnas terus membangun ekosistem talenta murid melalui berbagai ajang nasional.

Sejumlah ajang tersebut antara lain Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI), Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI), Lomba Kompetensi Siswa (LKS), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Gala Siswa Indonesia (GSI), serta Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N).

Berbagai ajang itu memberikan ruang bagi murid untuk menemukan sekaligus mengembangkan minat dan bakat sesuai potensinya.

Bagi mereka yang memiliki kemampuan dan prestasi menonjol, perjalanan kemudian dapat dilanjutkan melalui berbagai program seleksi dan pembinaan untuk menghadapi kompetisi tingkat internasional.

14 Ajang Internasional, Puluhan Prestasi

Pada 2026, Puspresnas memfasilitasi talenta terbaik Indonesia untuk mengikuti 14 ajang internasional melalui proses seleksi dan pembinaan.

Hingga September 2026, delegasi Indonesia yang telah mendapatkan pembinaan Puspresnas tercatat telah mengoleksi 40 penghargaan internasional.

Raihan tersebut terdiri atas enam medali emas, 12 medali perak, 18 medali perunggu, satu honorable mention, dan tiga penghargaan khusus.

Kepala Pusat Prestasi Nasional Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono, menegaskan bahwa prestasi murid tidak berhenti ketika kompetisi selesai.

“Prestasi murid tidak berhenti ketika kompetisi selesai. Capaian prestasi pada ajang talenta nasional menjadi pintu masuk bagi proses pembinaan berikutnya agar talenta yang telah teridentifikasi dapat terus berkembang,” tuturnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya kesinambungan antara kompetisi, seleksi, pembinaan, dan pengembangan talenta.

Empat Tahap yang Mengantarkan Luvidi

Jika ditarik ke belakang, perjalanan Luvidi dapat dilihat sebagai rangkaian proses yang saling terhubung.

Baca Juga:  Tutup Tahun 2025, Ketua DPRD Solok Tetapkan Propemperda 2026 Lewat Rapat Paripurna

2023, ia meraih medali perak OSN matematika tingkat SMP.

2024, ia kembali mencatat prestasi dengan merebut medali emas OSN informatika tingkat pendidikan menengah.

2025, ia menembus seleksi IOAI dan meraih medali perak dalam ajang internasional tersebut di Beijing.

Kemudian pada 2026, perjuangannya mencapai hasil tertinggi dengan meraih medali emas IOAI di Astana, Kazakhstan.

Empat capaian tersebut memperlihatkan proses pengembangan talenta yang bertahap. Prestasi sebelumnya menjadi pijakan untuk menghadapi tantangan berikutnya.

Dukungan Keluarga hingga Sekolah

Luvidi menyadari bahwa pencapaian tersebut tidak mungkin diraih seorang diri.

Keluarga menjadi salah satu sumber dukungan utama dalam perjalanannya. Selain itu, sekolah turut memberikan dukungan melalui pembinaan OSN.

Peran guru, pembina, serta teman-teman juga menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Luvidi adalah ketika mengikuti pelatihan nasional atau pelatnas. Selain mendapatkan materi dan pembinaan, ia dapat bertemu serta belajar bersama teman-teman dari berbagai daerah.

Bagi seorang pelajar, pengalaman tersebut tidak hanya memperkaya kemampuan akademik, tetapi juga memberikan pengalaman sosial dan kesempatan membangun relasi dengan sesama talenta muda.

Pesan Luvidi untuk Pelajar Indonesia

Perjalanan Luvidi menjadi gambaran bahwa prestasi bukan sekadar soal siapa yang menjadi juara dalam sebuah kompetisi.

Ada proses panjang yang dimulai dari menemukan minat, berani mencoba, mengikuti kompetisi, belajar dari pengalaman, menjalani pembinaan, hingga mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan di tingkat internasional.

Karena itu, ia mengajak para pelajar Indonesia untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang memberikan manfaat.

“Isi waktu dengan kegiatan positif dan jangan mudah menyerah,” pesan Luvidi kepada Sobat Prestasi di seluruh Indonesia.

Pesan sederhana tersebut menjadi penutup perjalanan seorang pelajar yang membuktikan bahwa ketekunan dapat membuka jalan menuju prestasi yang lebih tinggi.

Dari matematika, berlanjut ke informatika. Dari kompetisi nasional, kemudian menembus panggung internasional. Dari medali perak, lalu bertransformasi menjadi emas.

Kisah Luvidi menunjukkan bahwa sebuah medali bukanlah akhir perjalanan. Justru, medali dapat menjadi awal dari langkah yang lebih jauh untuk mengembangkan talenta dan membawa nama Indonesia ke panggung dunia. (*)