Muslimah Bukan Sekadar Soal Penampilan! Ketua MTP IPHI Jateng Tekankan Ketakwaan, Akhlak, dan Peran di Keluarga

Laporan: Wahyu Widodo
SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM — Menjadi muslimah shalihah bukan perkara penampilan semata. Ada tanggung jawab besar yang melekat di balik predikat tersebut: menjaga ketakwaan, memperkuat ibadah, membangun akhlak mulia, menjaga kehormatan diri, hingga menjadi teladan bagi keluarga dan lingkungan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Pengajian Majelis Taklim Perempuan Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (MTP IPHI) Kota Salatiga yang digelar di Masjid Al-Barokah, Karangalit, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, Minggu (6/9/2026).
Pengajian tersebut menghadirkan Ketua MTP IPHI Jawa Tengah, Hj. Ida Nurul Farida, M.Pd., sebagai pengisi materi. Di hadapan para jamaah, Ida membawakan tema “Upaya Menjadi Muslimah Shalihah”.
Materi yang disampaikan tidak sekadar berbicara mengenai bagaimana seorang perempuan menjalankan ibadah secara personal. Ida mengajak para muslimah untuk melihat keshalihan sebagai proses memperbaiki kualitas diri secara menyeluruh, mulai dari hubungan dengan Allah SWT, keluarga, hingga lingkungan sosial.
Menurut Ida, seorang wanita shalihah bukanlah sosok yang harus tampil sempurna dalam segala hal. Keshalihan justru tercermin dari ketakwaan, ketaatan menjalankan ajaran agama, akhlak, serta kemampuan menjaga kehormatan diri dan keluarga.
“Wanita shalihah adalah sosok yang mampu menjaga ibadah, menutup aurat, menjaga lisan dan pergaulan, berbakti kepada orang tua, serta menjalankan kehidupan rumah tangga dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang,” ujar Ida.
Bukan Hanya Rajin Ibadah, Tapi Juga Menjadi Teladan
Ida menekankan bahwa perjalanan menjadi muslimah shalihah membutuhkan bekal ilmu agama. Menurutnya, ilmu menjadi salah satu fondasi penting agar seorang perempuan tidak hanya mampu menjalankan ibadah, tetapi juga memahami nilai dan tanggung jawab yang terkandung di dalamnya.
Pemahaman agama yang baik, lanjut Ida, dapat menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan sehari-hari. Lebih jauh lagi, ilmu tersebut dapat menjadi bekal penting ketika seorang perempuan menjalankan perannya dalam keluarga.
“Dengan ilmu dan akhlak yang baik, seorang wanita dapat menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya, sekaligus memberikan keteladanan bagi keluarga dan lingkungan,” jelasnya.
Pesan itu menjadi penting karena perempuan memiliki posisi strategis dalam membentuk suasana kehidupan keluarga. Keteladanan yang ditunjukkan seorang ibu maupun anggota keluarga perempuan dapat menjadi bagian dari proses pendidikan karakter anak sejak dini.
Jaga Lisan, Jangan Biarkan Persaudaraan Retak
Tak hanya soal ibadah dan keluarga, Ida juga memberikan perhatian khusus terhadap persoalan pergaulan dan penggunaan lisan.
Para muslimah diajak untuk berhati-hati dalam berbicara dan berinteraksi. Sebab, ucapan yang tidak dijaga dapat menjadi sumber persoalan, bahkan berpotensi merusak hubungan persaudaraan.
Ida mengingatkan agar muslimah menjauhi perilaku seperti ghibah, fitnah, dan adu domba. Sebaliknya, lisan hendaknya digunakan untuk berdzikir, menyampaikan nasihat dalam kebaikan, serta menebarkan ketenangan di tengah masyarakat.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keshalihan tidak berhenti pada hubungan seseorang dengan Allah SWT. Keshalihan juga harus tercermin dalam hubungan dengan sesama manusia.
Sikap santun, menjaga kehormatan diri, menghargai orang lain, serta tidak mudah menyebarkan kabar yang dapat memicu konflik menjadi bagian dari akhlak yang perlu terus dibangun.
Dari Muslimah Shalihah, Lahir Keluarga yang Kuat
Ida menegaskan, keshalihan seorang perempuan memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada dirinya sendiri.
Ketika seorang perempuan mampu membangun ketakwaan, memperluas ilmu, dan menjaga akhlak, nilai-nilai tersebut berpotensi tumbuh dalam kehidupan keluarga. Dari keluarga, nilai itu kemudian dapat diteruskan kepada anak-anak sebagai generasi penerus.
Dengan demikian, menjadi muslimah shalihah bukan hanya sebuah pencapaian pribadi. Ada tanggung jawab sosial dan keluarga yang ikut menyertainya.
“Keshalihan seorang perempuan tidak hanya memberikan kebaikan bagi dirinya, tetapi juga menjadi fondasi lahirnya keluarga yang sakinah dan generasi yang berakhlak serta bertakwa,” pungkas Ida.
MTP IPHI Salatiga: Jadi Momentum Memperkuat Silaturahmi
Sementara itu, Ketua MTP IPHI Kota Salatiga, Dra. Hj. Suharnanie Tarwoco, M.Pd., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Hj. Ida Nurul Farida yang telah berkenan hadir serta mengisi pengajian tersebut.
Menurut Suharnanie, materi yang disampaikan Ida memberikan motivasi sekaligus penguatan kepada para anggota MTP IPHI Kota Salatiga untuk terus meningkatkan kualitas keimanan dan ibadah.
Tidak kalah penting, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi para muslimah untuk terus memperkuat peran mereka di tengah keluarga dan masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada Ibu Ida Nurul Farida yang telah berkenan hadir, mengisi pengajian, serta memberikan motivasi kepada kami. Semoga ilmu dan nasihat yang disampaikan dapat menjadi bekal dan memberikan manfaat bagi seluruh jamaah,” ungkap Suharnanie.
Pengajian MTP IPHI Kota Salatiga berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antarsesama muslimah.
Di tengah kehidupan masyarakat yang terus berkembang, pesan untuk memperkuat ketakwaan, memperdalam ilmu agama, menjaga lisan, serta membangun akhlak mulia menjadi pengingat bahwa keshalihan harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Dari masjid, pesan itu diharapkan tidak berhenti sebagai nasihat. Namun, dapat dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dimulai dari diri sendiri, keluarga, kemudian meluas menjadi kebaikan bagi lingkungan dan masyarakat. (*)












Tinggalkan Balasan