Bukan Sekadar Murah! Warung Murah Berkah Salatiga Sajikan Kepala Manyung dan Mangut yang Bikin Nagih

Laporan: Wahyu Widodo
SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM ā Jangan bayangkan warung mewah dengan meja berkilau atau dekorasi kekinian. Di Jalan Nakula Sadewa Nomor 9, Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, ada sebuah warung sederhana yang justru punya magnet tersendiri.
Begitu melangkahkan kaki ke Warung Murah Berkah, aroma bumbu masakan Jawa langsung menyambut. Aneka masakan rumahan tersaji dengan pilihan lauk yang cukup beragam. Harganya pun relatif ramah di kantong.
Di balik warung tersebut ada Haryani (55), pemilik sekaligus sosok yang mempertahankan konsep sederhana: menyediakan makanan enak dengan harga yang sebisa mungkin bisa dijangkau berbagai kalangan.
Salah satu menu yang menjadi daya tarik utama adalah kepala manyung dan mangut. Dua menu tersebut bahkan menjadi alasan sejumlah pelanggan untuk kembali menyambangi warung yang telah beroperasi sekitar dua tahun itu.
āSpesialnya kepala manyung sama mangut,ā kata Haryani saat ditemui Suaraglobal.com, Kamis (17/9/2026).
Yang menarik, pelanggan tidak perlu menyiapkan uang puluhan ribu rupiah untuk sekadar mengisi perut. Beberapa menu di Warung Murah Berkah bisa dinikmati mulai kisaran Rp5.000.
Untuk menu ramesan, misalnya, pelanggan bisa mendapatkan nasi dengan lauk dan sayuran dengan harga sekitar Rp10.000. Jika memilih telur, harganya sekitar Rp8.000. Sedangkan ramesan dengan paha ayam maupun lele dibanderol sekitar Rp10.000.
Sementara itu, bagi pencinta kepala manyung, harga menyesuaikan ukuran. Kepala manyung ukuran kecil dibanderol sekitar Rp25.000, sedangkan ukuran besar berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000.
āYang paling besar Rp35.000 sampai Rp40.000. Kalau yang kecil sekitar Rp25.000,ā ujar Haryani.
Bukan Sekadar Jualan Murah
Nama Warung Murah Berkah ternyata bukan sekadar nama untuk memancing rasa penasaran pembeli.
Bagi Haryani, kata āberkahā memiliki makna tersendiri. Ia ingin warungnya tetap menjadi tempat makan yang bisa didatangi siapa saja, termasuk masyarakat yang hanya memiliki uang terbatas.
Bahkan, pelanggan yang datang hanya membawa Rp5.000 atau Rp7.000 tetap diperbolehkan makan.
āPokoknya mencari keberkahan. Murah berkah. Orang yang tidak punya uang boleh, punya Rp5.000 boleh, Rp7.000 boleh,ā katanya.
Konsep tersebut tentu membuat margin keuntungan tidak terlalu besar. Namun Haryani memilih tetap menjalankannya selama usaha masih dapat menutup kebutuhan operasional.
āMasih bisa nutup. Meskipun banyak bersedekah, ya tambah rezeki,ā ujarnya.
Prinsip sederhana itulah yang membuat Warung Murah Berkah memiliki cerita berbeda. Di tengah persaingan usaha kuliner yang semakin ramai, Haryani memilih tidak mengejar kemewahan. Ia justru mengandalkan masakan rumahan, harga bersahabat, dan hubungan dekat dengan pelanggan.
Mangut Harum Kencur, Tak Ada Bau Amis
Kalau kepala manyung menjadi salah satu magnet utama, mangut di warung ini juga memiliki daya tarik tersendiri.
Bumbu yang digunakan bukan sekadar pedas dan gurih. Haryani mengandalkan rempah yang membuat aroma masakan semakin kuat. Salah satunya adalah kencur yang dipadukan dengan daun jeruk.
āWangi kencur sama daun jeruk. Itu yang membuat wangi,ā ungkapnya.
Namun, menghasilkan mangut kepala ikan yang nikmat tentu membutuhkan proses. Kepala manyung yang diperoleh dari pasar tidak langsung masuk ke dalam bumbu.
Bahan tersebut terlebih dahulu dicuci dan direbus. Proses itu dilakukan untuk membersihkan kepala ikan sekaligus mengurangi aroma amis.
āDari pasar saya proses dulu. Saya godok dulu, saya cuci dulu sampai tidak berbau amis,ā jelas Haryani.
Proses persiapan tersebut membutuhkan waktu sekitar dua jam sebelum kepala manyung siap dimasak dengan racikan bumbu.
Tak mengherankan jika kebutuhan bahan bakunya cukup banyak. Dalam sehari, Warung Murah Berkah dapat menghabiskan sekitar 30 hingga 40 kepala manyung berukuran besar.
Sedangkan untuk bahan mangut ukuran kecil, kebutuhan bisa mencapai sekitar lima kilogram setiap hari.
Buka Pagi, Siang Sudah Banyak Menu Habis
Warung Murah Berkah biasanya mulai beroperasi sekitar pukul 06.30 WIB.
Namun, pelanggan yang ingin mendapatkan pilihan menu lengkap sebaiknya tidak datang terlalu siang. Sebab, makanan di warung tersebut kerap habis sekitar pukul 13.00 hingga 14.00 WIB.
Dalam sehari, Haryani memperkirakan warungnya mampu melayani sekitar 80 hingga 100 porsi.
Pelanggan yang datang pun tidak berasal dari satu kelompok saja. Mahasiswa, ibu-ibu, bapak-bapak hingga guru terlihat menjadi bagian dari pelanggan warung tersebut.
Bagi mereka, harga murah menjadi salah satu pertimbangan. Namun rasa masakan tetap menjadi faktor penting.
Salah satu pelanggan, Galang Pramudita Syarifuddin, mengaku cukup sering mampir untuk makan siang.
Menurutnya, Warung Murah Berkah memiliki kombinasi yang menarik: harga terjangkau, pilihan makanan cukup banyak, dan rasa masakan yang sesuai selera.
āMulai dari Rp10.000 sudah bisa makan kenyang dan enak,ā kata Galang.
Menu yang paling disukainya adalah kepala manyung atau ikan asap.
Ia menilai rasa gurih dengan penggunaan rempah yang kuat membuat lauk tersebut memiliki karakter tersendiri.
āRempahnya kuat, berasa,ā ujarnya.
Selain kepala manyung, Galang juga menyukai sejumlah menu sayuran seperti terong balado dan sayur kacang tempe.
Pelanggan Lama Pun Balik Lagi
Cerita tentang rasa dan harga bersahabat juga membuat pelanggan lama kembali.
Erna, salah seorang warga Salatiga, mengaku sudah cukup lama menjadi pelanggan Warung Murah Berkah.
Ia bahkan sengaja kembali setelah sempat tidak makan di warung tersebut karena libur Lebaran.
āRasanya enak. Saya sudah lama langganan di sini. Waktu Lebaran kan libur, jadi baru kali ini ke sini lagi,ā tutur Erna.
Kepala manyung menjadi salah satu menu yang membuatnya tetap menyukai warung tersebut. Namun, ia tidak hanya berburu menu ikan.
Telur balado dan berbagai masakan rumahan lainnya juga masuk dalam daftar menu favoritnya.
āMasakannya semuanya enak, khas,ā ujarnya.
Murah, Kenyang dan Tetap Punya Cerita
Warung Murah Berkah pada akhirnya bukan hanya tentang harga makanan yang murah.
Di balik seporsi ramesan Rp8.000-Rp10.000 atau kepala manyung yang dibanderol mulai sekitar Rp25.000, terdapat prinsip usaha yang dipegang Haryani sejak warung itu berdiri.
Ia ingin masyarakat tetap bisa makan meskipun uang yang dibawa terbatas.
Bagi sebagian orang, selisih beberapa ribu rupiah mungkin terlihat sederhana. Namun bagi pelanggan tertentu, harga Rp5.000 atau Rp7.000 bisa menjadi alasan mereka tetap dapat menikmati sepiring makanan.
Di situlah konsep āMurah Berkahā menemukan maknanya.
Kepala manyung dan mangut memang menjadi pemancing pelanggan datang. Aroma kencur dan daun jeruk membuat mangut semakin menggoda. Harga murah membuat orang tidak terlalu berpikir panjang untuk mampir.
Namun yang membuat warung sederhana itu terus berjalan adalah kombinasi masakan rumahan, harga bersahabat, pelanggan yang datang silih berganti, serta keyakinan Haryani bahwa berbagi rezeki juga menjadi bagian dari perjalanan usaha.
Dari warung kecil di Jalan Nakula Sadewa, Haryani seolah menunjukkan bahwa usaha kuliner tidak selalu harus tampil mewah untuk bisa dicintai pelanggan.
Cukup dengan masakan Jawa yang nendang, harga yang bersahabat, porsi mengenyangkan, dan satu prinsip sederhana: murah boleh, tetapi berkah harus tetap dicari. (*)












Tinggalkan Balasan