Laporan: Wahyu Widodo

GROBOGAN | SUARAGLOBAL.COM – Minggu pagi biasanya identik dengan olahraga dan aktivitas santai di ruang publik. Namun, suasana Car Free Day (CFD) di Grobogan kali ini terasa berbeda. Di tengah ramainya masyarakat menikmati akhir pekan, hasil ketahanan pangan produksi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Purwodadi justru menjadi salah satu perhatian pengunjung.

Beragam hasil produksi seperti kangkung, bayam, telur hingga ikan lele Mutiara dipasarkan kepada masyarakat. Produk-produk tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang selama ini dijalankan Lapas Purwodadi bagi warga binaan.

Antusiasme masyarakat terhadap hasil produksi tersebut cukup positif. Sejumlah produk yang ditawarkan mendapat sambutan dari pengunjung CFD. Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa kegiatan pembinaan di balik tembok lapas tidak berhenti pada proses produksi, tetapi mulai diarahkan agar warga binaan memahami tahapan pengelolaan usaha secara lebih utuh.

Mulai dari menyiapkan produksi, melakukan perawatan, memanen hingga memasarkan hasilnya kepada masyarakat menjadi rangkaian pembelajaran yang diberikan kepada warga binaan.

Baca Juga:  SPMB 2026 Makin Transparan! SMPN 16 Malang Pakai QR Code Luring, Data Murid Dijamin Valid

Program tersebut diharapkan dapat menjadi pengalaman nyata bagi warga binaan untuk mengenal dunia usaha dan mengembangkan keterampilan yang nantinya dapat dimanfaatkan ketika mereka telah menyelesaikan masa pembinaan.

Kepala Lapas Kelas IIB Purwodadi, Erik Murdiyanto, mengatakan pemasaran hasil ketahanan pangan di CFD merupakan salah satu langkah untuk memperluas pemanfaatan hasil pembinaan sekaligus mengenalkan produk warga binaan kepada masyarakat.

“Kami ingin kegiatan ketahanan pangan ini terus berkembang, tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memberikan keterampilan dan pengalaman kepada warga binaan dalam mengelola usaha mulai dari produksi hingga pemasaran. Harapannya, keterampilan ini dapat menjadi bekal bagi mereka untuk hidup mandiri,” ujar Erik Murdiyanto.

Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai lebih karena warga binaan tidak hanya belajar bagaimana menghasilkan produk, tetapi juga mendapatkan pengalaman ketika hasil produksi tersebut berhadapan langsung dengan konsumen.

Dengan demikian, pembinaan kemandirian tidak sekadar menghasilkan sayuran, ikan maupun telur, tetapi juga membangun pengalaman dan rasa tanggung jawab dalam mengelola sebuah kegiatan produktif.

Baca Juga:  Telkom Siantar Apresiasi Kikiku Guesthouse dengan Hampers Tahun Baru 2025

Pengunjung Bisa Panen Bayam Langsung

Ada hal menarik dalam kegiatan kali ini. Pengunjung tidak hanya bisa membeli hasil ketahanan pangan yang telah dipanen, tetapi juga mendapat kesempatan memanen bayam secara langsung di lingkungan Lapas Purwodadi.

Momen tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi masyarakat. Aktivitas panen langsung sekaligus memberikan gambaran bahwa produk yang dipasarkan memang berasal dari proses pembinaan ketahanan pangan yang dilakukan di Lapas Purwodadi.

Antusiasme masyarakat tersebut menjadi dorongan tersendiri bagi Lapas Purwodadi untuk terus mengembangkan program ketahanan pangan agar semakin produktif dan berkelanjutan.

Bagi Lapas Purwodadi, keberhasilan sebuah program pembinaan bukan hanya diukur dari banyaknya produk yang dihasilkan. Lebih jauh, program tersebut diharapkan mampu memberikan keterampilan yang benar-benar dapat dimanfaatkan warga binaan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.

Program pembinaan kemandirian pun terus diarahkan sebagai modal bagi warga binaan untuk memiliki kemampuan produktif dan tidak bergantung pada orang lain setelah bebas nanti.

Baca Juga:  Berasal Dari Desa, Punya Keinginan Untuk Memperjuangkan Kesejahteraan Buruh Dan Kemajuan Desa Dengan Pemberdayaan Masyarakat Partisipatif

Erik menegaskan, Lapas Purwodadi berkomitmen memberikan program pembinaan terbaik sebagai landasan sekaligus modal bagi warga binaan dalam menatap kehidupan setelah masa pembinaan berakhir.

“Komitmen kami terus memberikan modal pembinaan kemandirian yang terbaik untuk warga binaan, sehingga dapat bermanfaat dan menjadi bekal saat mereka bebas serta meminimalisir pengulangan tindak pidana,” pungkasnya.

Kegiatan pemasaran hasil ketahanan pangan di CFD akhirnya bukan sekadar aktivitas jual beli. Di balik kangkung, bayam, telur dan lele Mutiara yang tersaji, ada proses panjang pembinaan warga binaan untuk belajar bekerja, bertanggung jawab, menghasilkan produk dan mengenal bagaimana sebuah hasil usaha dipasarkan kepada masyarakat.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Lapas Kelas IIB Purwodadi untuk menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan membangun keterampilan dan mempersiapkan warga binaan agar lebih siap menjalani kehidupan mandiri ketika kembali ke masyarakat. (*)