Laporan: Akbaruddin

JAKARTA | SUARAGLOBAL.COM – Sampah botol plastik yang selama ini kerap berakhir di tempat sampah kini mulai dilirik sebagai sesuatu yang masih bernilai. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) DKI Jakarta mengambil langkah konkret dengan mendorong pengelolaan sampah plastik secara efektif dan berkelanjutan.

Tak sekadar mengampanyekan kepedulian lingkungan, DJKN DKI Jakarta bahkan menghadirkan mesin Plasticpay untuk mengumpulkan botol plastik bekas agar selanjutnya dapat masuk ke proses daur ulang.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya DJKN DKI Jakarta membangun lingkungan kerja yang sehat, inklusif, sekaligus ramah lingkungan.

Komitmen itu diwujudkan melalui kegiatan knowledge sharing bertema “Kesetaraan Gender dalam Menciptakan Ruang Publik yang Sehat dan Inklusif melalui Pengelolaan Sampah Plastik yang Efektif dan Berkelanjutan”.

Momentum tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk meresmikan penggunaan mesin Plasticpay di lingkungan kerja DJKN DKI Jakarta.

Kepala Kanwil DJKN DKI Jakarta Kusuma Wardhani menegaskan bahwa program tersebut bukan kegiatan sesaat. Menurutnya, pengelolaan sampah plastik merupakan bagian dari agenda berkelanjutan yang terus dikembangkan DJKN DKI Jakarta.

“Ini merupakan keberlanjutan dari program kerja kami. Pada 2025, DJKN DKI Jakarta memperoleh penghargaan platinum dari Kementerian Keuangan dalam implementasi Eco Office,” ujar Kusuma.

Botol Plastik Tak Lagi Dipandang Sebelah Mata

Baca Juga:  Penjabat Gubernur Jateng Nana Sudjana Pimpin Penanaman 3.400 Bibit Pohon di Gunung Merbabu

Kehadiran mesin Plasticpay menjadi salah satu langkah nyata untuk menjaga kesinambungan program Eco Office yang telah dijalankan di lingkungan DJKN DKI Jakarta.

Dengan mesin tersebut, pegawai maupun masyarakat yang berada di lingkungan kerja DJKN DKI Jakarta dapat mengumpulkan botol plastik bekas untuk kemudian diproses melalui mekanisme daur ulang.

Kusuma menekankan, kebiasaan sederhana seperti membawa dan memilah botol plastik dapat menjadi awal perubahan besar apabila dilakukan secara konsisten.

“Pegawai bisa membawa botol plastiknya untuk dimasukkan ke mesin. Tujuan utamanya adalah bagaimana program ini bisa berkelanjutan dan menjadi bagian dari budaya kita untuk mengurangi sampah plastik,” katanya.

Menurut Kusuma, perubahan perilaku menjadi salah satu kunci utama dalam mengatasi persoalan sampah plastik. Karena itu, program tersebut tidak hanya diarahkan pada pengumpulan sampah, tetapi juga membangun kesadaran seluruh warga di lingkungan kerja.

Gandeng Bank dan Mitra

Program pengelolaan sampah plastik tersebut dijalankan melalui sinergi berbagai pihak. DJKN DKI Jakarta menggandeng Bank BRI, Plasticpay, serta seluruh unit kerja yang berada di lingkungan Kanwil DJKN DKI Jakarta.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membuat program pengelolaan sampah tidak berhenti sebatas seremoni, melainkan benar-benar menjadi kebiasaan yang diterapkan secara rutin.

Baca Juga:  Uji Validitas Sistem SSE Diperketat, UM-PTKIN 2026 Jamin Seleksi Objektif

Menariknya, penempatan mesin Plasticpay di lingkungan DJKN DKI Jakarta juga berkaitan dengan pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN).

Keberadaan mesin tersebut memberikan kontribusi melalui biaya sewa yang masuk ke kas negara. Dengan demikian, program lingkungan ini tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga bersinggungan dengan aspek pengelolaan aset negara.

“Kami ingin menjadi salah satu pihak yang menginisiasi dan mengedukasi seluruh warga di lingkungan kerja DJKN untuk mulai memperhatikan persoalan sampah plastik, bagaimana mengurangi penggunaannya dan bagaimana melakukan recycle,” tutur Kusuma.

Dari Botol Bekas Jadi Produk Bernilai

Bagi DJKN DKI Jakarta, konsep recycle tidak berhenti ketika botol plastik dimasukkan ke dalam mesin.

Material plastik yang telah dikumpulkan masih dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai guna. Bahkan, proses tersebut membuka ruang keterlibatan sektor UMKM dalam rantai ekonomi sirkular.

Kusuma menjelaskan, Plasticpay juga bekerja sama dengan UMKM untuk mengolah material hasil daur ulang menjadi berbagai produk.

Salah satunya dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan karpet mobil. Material hasil pengolahan lainnya juga dapat diproses menjadi dakron, yang kemudian digunakan sebagai bahan pengisi kasur maupun bantal.

Artinya, botol plastik bekas tidak harus berakhir sebagai limbah. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah tersebut dapat kembali memiliki nilai dan bahkan menjadi bahan baku kegiatan ekonomi.

Baca Juga:  UMKM Warga Binaan Menjadi Magnet Expo, Hadirkan Kreativitas dan Harapan Baru

“Jadi kami ingin menginspirasi dan mewujudkan bahwa recycle menjadi sebuah budaya,” ujarnya.

Kusuma berharap kebiasaan tersebut mampu mengurangi jumlah sampah plastik yang terus bertambah, baik di lingkungan kantor maupun masyarakat secara lebih luas.

Bukan Sekadar Program Kantor

DJKN DKI Jakarta ingin menjadikan langkah tersebut sebagai contoh bahwa membangun kantor ramah lingkungan tidak cukup hanya dengan memasang slogan.

Dibutuhkan perubahan kebiasaan dan keterlibatan seluruh individu di dalam organisasi.

Mulai dari mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah, membawa botol plastik untuk didaur ulang hingga memanfaatkan fasilitas pengelolaan sampah yang tersedia.

Kusuma berharap langkah DJKN DKI Jakarta dapat menginspirasi semakin banyak pihak untuk ikut membangun kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan sampah plastik.

Sebab, persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab institusi tertentu. Setiap individu memiliki peran dalam menentukan ke mana sampah berakhir dan apakah sampah tersebut masih bisa memberikan manfaat.

Dengan pengelolaan sampah yang lebih baik, DJKN DKI Jakarta menargetkan lingkungan kerja yang bukan hanya sehat dan nyaman, tetapi juga inklusif serta memiliki kepedulian nyata terhadap keberlanjutan lingkungan.

Dari satu botol plastik, budaya besar bisa dimulai. Dari kantor, kesadaran lingkungan diharapkan menjalar ke masyarakat. (*)