Laporan: Wahyu Widodo

GROBOGAN | SUARAGLOBAL.COM – Pembinaan di balik jeruji besi bukan sekadar membentuk kedisiplinan dan memberikan keterampilan. Penguatan mental serta spiritual juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan warga binaan agar mampu memperbaiki diri dan kembali menjalani kehidupan yang lebih baik di tengah masyarakat.

Komitmen tersebut terus ditunjukkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Purwodadi dengan memberikan ruang bagi warga binaan untuk menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing.

Pada Senin (2/11/2026), Lapas Kelas IIB Purwodadi memfasilitasi pelaksanaan ibadah gereja bagi warga binaan beragama Kristen. Kegiatan berlangsung dengan khidmat dan penuh kekhusyukan sebagai bagian dari program pembinaan kepribadian, khususnya dalam bidang kerohanian.

Suasana ibadah berlangsung penuh ketenangan. Para warga binaan mengikuti rangkaian kegiatan dengan khusyuk, memanjatkan doa, serta memperdalam nilai-nilai keimanan sebagai bekal untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:  Diduga Curi Kimpul, Seorang Pria Berkebutuhan Khusus Dimediasi Polisi dan Berakhir Damai di Polsek Sidomukti 

Bukan sekadar rutinitas keagamaan, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi warga binaan untuk melakukan refleksi diri, menumbuhkan kesadaran spiritual, sekaligus membangun tekad meninggalkan perilaku buruk dan memperbaiki masa depan.

Melalui pembinaan kerohanian ini, Lapas Purwodadi ingin menghadirkan lingkungan pemasyarakatan yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan hukuman, tetapi juga mengedepankan pembinaan manusia secara utuh.

Kepala Lapas: Hak Beribadah Warga Binaan Harus Dipenuhi

Kepala Lapas Kelas IIB Purwodadi, Erik Murdiyanto, menegaskan bahwa pembinaan keagamaan merupakan salah satu aspek penting dalam proses pembentukan karakter warga binaan.

Menurutnya, setiap warga binaan memiliki hak yang sama untuk menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya. Karena itu, pihaknya berkomitmen memberikan fasilitas serta kesempatan agar seluruh warga binaan dapat menjalankan kegiatan keagamaan dengan baik.

Baca Juga:  FGD Jadi Momentum Strategis, Salatiga Serius Tekan Balap Liar dan Knalpot Brong

“Melalui kegiatan ibadah ini, kami berharap warga binaan dapat semakin memperkuat keimanan, menumbuhkan nilai-nilai kebaikan, serta membangun kesadaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kami berkomitmen untuk terus memfasilitasi kegiatan keagamaan sebagai bagian dari pembinaan yang humanis dan berkelanjutan,” ungkap Erik Murdiyanto.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembinaan di Lapas Purwodadi tidak hanya menitikberatkan pada aspek keamanan dan ketertiban, tetapi juga memperhatikan kebutuhan rohani warga binaan.

Penguatan spiritual diharapkan mampu memberikan ketenangan batin, membangun sikap saling menghormati, serta menanamkan nilai-nilai positif dalam kehidupan bermasyarakat.

Bekal Spiritual untuk Menatap Kehidupan Baru

Pembinaan keagamaan menjadi salah satu jalan untuk membantu warga binaan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan masa pidana.

Dengan memperkuat keimanan dan memahami nilai-nilai kebaikan, warga binaan diharapkan mampu membangun pola pikir yang lebih positif, meningkatkan kesadaran diri, serta memiliki semangat untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Baca Juga:  Tongkat Komando Kodam IV/Diponegoro Berpindah, Mayjen Sudaryanto Terima Estafet Kepemimpinan

Lapas Purwodadi berharap kegiatan ibadah gereja tersebut dapat memberikan dampak positif secara berkelanjutan. Tidak hanya selama menjalani masa pembinaan, tetapi juga ketika warga binaan nantinya kembali berkumpul bersama keluarga dan berinteraksi dengan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Lapas Kelas IIB Purwodadi terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program pembinaan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

Dengan mengedepankan pembinaan yang humanis, produktif, dan berkelanjutan, Lapas Purwodadi berupaya menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang mampu melahirkan pribadi-pribadi lebih baik, mandiri, serta siap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Sebab, di balik tembok pemasyarakatan, selalu ada harapan untuk berubah, memperbaiki diri, dan menata kembali masa depan. (*)