Laporan: Wahyu Widodo

SALATIGA | SUARAGLOBAL COM – Aroma persaingan sengit memenuhi arena Turnamen Catur Taman Tingkir Cup I kategori non-master yang digelar di Kota Salatiga, Minggu (19/7/2026). Puluhan pecatur dari berbagai daerah berkumpul dalam satu arena untuk membuktikan siapa yang paling piawai menyusun strategi dan menjebak lawan hanya dengan 64 kotak papan catur.

Setiap langkah yang dimainkan menjadi pertaruhan. Satu kesalahan kecil bisa berujung kekalahan. Tak heran, suasana pertandingan berlangsung penuh konsentrasi dengan para peserta yang tampak serius menghitung setiap kemungkinan langkah.

Ketua Panitia Turnamen, Muh Lison, mengatakan kejuaraan ini digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Salatiga, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat yang memiliki kecintaan terhadap olahraga catur.

Menurutnya, catur bukan sekadar permainan, melainkan olahraga yang melatih kemampuan berpikir, kesabaran, serta kecermatan dalam mengambil keputusan.

“Tujuan pertama untuk memperingati Hari Jadi Kota Salatiga. Kedua, menampung aspirasi masyarakat pecinta catur agar bisa berkumpul, bertanding, sekaligus menjalin silaturahmi. Catur adalah olahraga berpikir yang juga menjadi hiburan,” ujar Muh Lison kepada suaraglobal.com.

Baca Juga:  Wisata Berujung Duka di Pantai Modangan: Satu Korban Ditemukan Tak Bernyawa, Satu Masih Hilang 

Muh Lison menambahkan, turnamen ini juga diharapkan menjadi wadah lahirnya bibit-bibit atlet catur muda dari Salatiga. Anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah diharapkan memiliki kesempatan untuk berkembang dan kelak mampu bersaing di level nasional.

Antusiasme masyarakat ternyata jauh melampaui ekspektasi panitia. Meski peserta dibatasi hanya 80 orang, jumlah peminat mencapai sekitar 150 pecatur dari berbagai daerah seperti Salatiga, Solo, Magelang, Kabupaten Semarang hingga Kota Semarang.

“Kami sebenarnya ingin mengakomodasi semuanya, tetapi karena ini penyelenggaraan pertama dan keterbatasan panitia maupun waktu, peserta terpaksa dibatasi,” jelasnya.

Turnamen perdana ini menggunakan kategori umum tanpa membedakan usia peserta. Anak-anak hingga orang dewasa bertanding dalam satu kompetisi yang penuh sportivitas.

Muh Lison berharap penyelenggaraan berikutnya dapat dikemas lebih besar, lebih profesional, dan mampu menjadi agenda tahunan yang dikenal luas.

“Harapan kami, Taman Tingkir bukan hanya dikenal masyarakat Salatiga, tetapi juga Jawa Tengah bahkan Indonesia,” katanya optimistis.

Baca Juga:  Pelayanan Prima: SIKARISMA RSUD dr. Iskak Tulungagung Kini Menjangkau 8 Kecamatan, Pasien Makin Nyaman

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Salatiga, Drs. Muthoin, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, turnamen ini merupakan bukti nyata partisipasi masyarakat dalam memeriahkan Hari Jadi Kota Salatiga.

Ia menilai olahraga catur memiliki nilai strategis karena mampu membentuk pola pikir, melatih konsentrasi, serta menjadi cabang olahraga prestasi yang telah diakui di tingkat nasional maupun internasional.

“Melalui kegiatan seperti ini kita dapat menemukan generasi-generasi baru yang memiliki potensi. Selain mengejar prestasi, kegiatan ini juga mempererat komunikasi dan hubungan antarpeserta,” ujarnya.

Muthoin berharap Turnamen Catur Taman Tingkir Cup dapat berkembang menjadi event yang lebih prestisius, bahkan suatu saat menjadi kejuaraan bergengsi bertajuk Piala Wali Kota Salatiga.

Menurutnya, ide sederhana dari komunitas pecinta catur ini memiliki peluang besar untuk berkembang apabila mendapat dukungan berbagai pihak.

Di sisi lain, semangat para peserta juga tak kalah besar. Salah satunya Sentot, yang mengaku mengikuti turnamen bukan semata mengejar kemenangan, tetapi juga ingin ikut memajukan olahraga catur di Kota Salatiga.

Baca Juga:  Anggota DPRD Kabupaten Buru, Mihel Batuwael Ucapkan selamat HUT Bhayangkara ke-79 : Polri Selalu Dicintai Masyarakat dan Rawat Kepercayaan Publik

“Motivasi saya karena hobi dan ingin ikut memajukan olahraga catur di Kota Salatiga,” tuturnya.

Ia mengaku telah melakukan berbagai persiapan sebelum turun bertanding, mulai dari rutin berlatih hingga berdiskusi bersama pelatih dan komunitas catur demi meningkatkan kemampuan membaca permainan lawan.

Sentot berharap Turnamen Catur Taman Tingkir Cup tidak berhenti sebagai event perdana, tetapi mampu menjadi agenda rutin yang terus berkembang hingga tingkat provinsi bahkan nasional.

“Semoga ini menjadi bibit awal sehingga ke depan bisa menjadi agenda rutin dan levelnya terus meningkat,” pungkasnya.

Dengan tingginya antusiasme peserta dan dukungan Pemerintah Kota Salatiga, Turnamen Catur Taman Tingkir Cup I menjadi bukti bahwa olahraga adu strategi ini masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Dari papan catur sederhana, bukan tidak mungkin akan lahir pecatur-pencatur hebat yang kelak mengharumkan nama Salatiga di panggung nasional bahkan internasional. (*)