Laporan: Wahyu Widodo

SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Limbah dapur yang selama ini identik dengan sampah dan bau tak sedap, ternyata bisa diubah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Salatiga bersama Dinas Pertanian mengolah limbah organik tersebut menjadi dekomposer yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebersihan sekaligus program pembinaan kemandirian Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Kegiatan pembuatan dekomposer tersebut dilaksanakan di lingkungan Rutan Salatiga, Kamis (25/9/2026). Program ini menjadi bagian dari upaya Rutan Salatiga dalam mengembangkan pembinaan kemandirian yang tidak hanya memberikan keterampilan kepada WBP, tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap pengelolaan lingkungan.

Dekomposer yang dibuat nantinya berfungsi membantu mempercepat proses penguraian bahan-bahan organik. Dengan demikian, limbah dapur yang sebelumnya hanya menjadi buangan dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan yang mendukung pembuatan pupuk organik.

Tak berhenti di situ. Cairan dekomposer yang telah selesai dibuat juga langsung dimanfaatkan di lingkungan Rutan Salatiga.

Baca Juga:  Langkah Tegas Sang Kapolres di Lintasan Kota: AKBP Veronica Raih Medali Finisher di Salatiga City Run 

Cairan tersebut diaplikasikan dengan cara disemprotkan di sekitar area peternakan ayam petelur milik Rutan Salatiga. Penggunaan dekomposer ini ditujukan untuk membantu mengurai sumber bau yang muncul dari aktivitas peternakan.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan Rutan. Limbah organik yang dikelola dengan baik diharapkan tidak menimbulkan persoalan baru, terutama bau yang dapat mengganggu aktivitas di sekitar area peternakan.

Bukan Sekadar Mengolah Sampah

Bagi Rutan Salatiga, kegiatan ini bukan semata-mata persoalan mengurangi limbah dapur. Di balik proses tersebut terdapat misi pembinaan bagi WBP agar mereka mendapatkan pengalaman dan keterampilan praktis yang dapat dikembangkan.

WBP dilibatkan dalam proses pembelajaran pengelolaan limbah organik serta pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan Rutan. Pengetahuan tersebut diharapkan menjadi bekal tambahan bagi mereka untuk mengenal kegiatan produktif dan pengelolaan lingkungan secara sederhana.

Program pembinaan kemandirian memang diarahkan agar WBP tidak hanya menjalani aktivitas selama berada di dalam Rutan, tetapi juga memperoleh keterampilan yang dapat menjadi modal ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat.

Baca Juga:  Korp Raport Perpindahan Jabatan Kodim 0714/Salatiga: Upaya Penyegaran Organisasi da6n Pengembangan Karir

Melalui pembuatan dekomposer, konsep tersebut diterapkan dengan menggabungkan aspek keterampilan, produktivitas dan kepedulian terhadap lingkungan.

Kepala Rutan Salatiga, Anda Tuning Supiluhu, mengatakan pemanfaatan limbah melalui pembuatan dekomposer merupakan langkah sederhana, namun memiliki manfaat yang cukup luas.

“Kami ingin limbah yang sebelumnya hanya menjadi buangan dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Selain membantu mengurangi bau, kegiatan ini juga menjadi bagian dari pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan agar memiliki keterampilan yang bisa dikembangkan,” ujar Anda Tuning.

Dari Limbah Menjadi Manfaat

Kolaborasi Rutan Salatiga dengan Dinas Pertanian tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan limbah organik dapat dilakukan melalui langkah sederhana dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.

Limbah dapur tidak lagi sekadar dipandang sebagai sampah yang harus dibuang. Dengan pengolahan yang tepat, limbah tersebut dapat menjadi bagian dari proses produksi bahan organik yang memiliki manfaat bagi lingkungan.

Baca Juga:  Drama Pengembalian Dana BLN Bikin Nasabah Bingung, Adi Utomo Sebut Itu Hanya Omon-Omon 

Pemanfaatan cairan dekomposer di area peternakan ayam petelur juga menjadi contoh langsung bagaimana hasil pembinaan dapat diterapkan untuk kebutuhan lingkungan Rutan.

Selain membantu mengurangi potensi bau, kegiatan tersebut turut mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan terkelola.

Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga program pembinaan kemandirian di Rutan Salatiga semakin produktif.

Bagi para WBP, pengalaman tersebut bukan hanya tentang bagaimana mengolah limbah, tetapi juga belajar melihat sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna menjadi sumber manfaat.

Rutan Salatiga bersama Dinas Pertanian pun terus mendorong pengelolaan lingkungan yang lebih produktif dan berkelanjutan. Di saat yang sama, pembinaan kemandirian bagi WBP diperkuat melalui kegiatan yang memiliki manfaat nyata dan dapat menjadi keterampilan untuk dikembangkan di masa mendatang. (*)